Belajar Latte Art

What are you doing at late night, Dian? Kebangun jam 02.00. Nyandak baju kotor, cemplungin ke mesin cuci. Done! Trus tiba-tiba tergerak untuk mrepet ke homme coffee bar, nyandak handpresso, dan akhirnya bikin one shot espresso. Trus buka susu cair, difroth sebentar, tuang ke espresso. Niatnya sih belajar latte art. Gatot! Susunya terlalu padet buihnya, jadi susunya langsung ngumpul diatas permukaan kopi dan nggak bisa dibentuk. Padahal cuman difroth sebentar aja.

Latteart

latteart1

Trus bikin one shot espresso lagi. Masih penasaran sama latte art. Kali ini susunya diangetin dulu dalam oven. Lalu difroth sebentar dalam keadaan hangat. Perfect! Lalu tuang diatas espresso dengan teknik seorang barista abal-abal. Tuang seperti biasa dari pinggir cangkir. Setelah volume kopi naik, waktunya bikin latte art diatas permukaan kopi. Eeeehhh ngak sampe bikin motif cantik…udah keburu habis aja susunya. Namanya juga barista abal-abal, lupa merhatiin perbandingan volume kopi dan susu.

Latteart2

Trus dua cangkir coffee latte gatot tadi gimana nasibnya? Yo wes biar nangkring di atas meja kopi aja. Wong tadi emang moodnya cuman belajar latte art, nggak ada mood buat menikmati kopi. Ntar kalo mood baru diminum wkwkwk….

 ***
Latepost from February 6, 2016
Dian Widyaningtyas

Cerita Dibalik Kopi

Lagi bosen karena dua hari terpaksa baringan di kamar, makanya tadi duduk-duduk di depan my coffee bar sambil mandangin biji kopi. Iyaaaa hanya bisa mandangin aja karena lagi maag. And I think this is more serious than maag. Tapi nggak berani ke dokter. Takut disuruh nginap di RS. Lha wong dipake duduk sebentar aja udah kliyengan dan akhirnya balik ke kamar lagi.

My home coffee bar

                       My home coffee bar

Pengen cerita tentang kopi aja deh buat ngilangin bosen. Do you know the differences between coffee from South America, and Central America, and Africa, and Indonesia? Kopi dari South America dan Central America biasanya berasal dari satu perkebunan kopi yang luas. Biasanya kopi ini dilabeli Finca, Fazenda, dan Estate. Ini nama perkebunannya.

Kopi dari Indonesia dan Afrika biasanya berasal dari beberapa petani yang dikumpulin jadi satu kemudian dijual sama-sama. Kopi Indonesia biasanya dilabeli nama daerah dimana kopi tersebut ditanam seperti Aceh Gayo, Flores dsb. Sedangkan kopi Afrika biasanya dilabeli Co-Op / nama koperasinya. Misalnya Kenya Thiriku. Thiriku refers to koperasi yang mengelola hasil perkebunan petani kopi di Kenya.

Ada juga kopi yang berlabel pemilik perkebunan, misalnya Pandora. Ini adalah perkebunan kopi yang lebih spesifik lagi baik dari segi varietas, ketinggian tanah, processing, roasting dsb.

Ada banyak cerita dibalik biji kopi.

***

Latepost from January 2, 2016

Dian Widyaningtyas

Selamat Pagi Asa

Don’t you know ketika seorang mama sakit, maksudku bener-bener sakit sehingga dia tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti biasanya, it feels like the world stop turning. Freezed. Tak ada masakan yang tersaji dengan layak di meja, baju kotor teronggok di dekat mesin cuci, piring kotor makin meninggi di bak cuci piring, lantai kotor berhias kertas bekas aktivitas anak-anak dimana-mana, dan sederet kekacauan lain yang tubuh ini tak mampu untuk membereskannya. Sungguh situasi dan kondisi yang nggak enak banget.

Tak ada gunanya kalau hanya meratapi keadaan, menyesali apa yang terjadi, merutuki penyakit yang singgah dan hal-hal negatif lainnya. Serahin saja pada ahlinya. InsyaAllah dia tahu lebih baik dari kita eventhough itu adalah tubuh kita sendiri. Sore kemarin dapat nasehat privately dari seorang teman tentang hal ini. MasyaAllah…nyess banget knowing that there’s someone cares that much to me. Makanya sekarang semangat minum obat yang sampe lima macam itu. As you know sebelumnya aku paling anti sama obat kimia yang menurutku hanyalah butiran racun belaka.
wp-1460510343903.jpeg
Satu hal yang kurasakan sangat membantu pemulihan kesehatan adalah semangat. Mungkin efeknya lebih dasyat daripada obat-obat yang diberikan dokter. Seperti tadi malam ketika aku begitu bersemangat melakukan hal-hal yang sangat kusukai, rasanya sakit pergi begitu saja entah kemana. Then i just felt alive!
Maka pagi ini kusambut hari dengan semangat baru, think positively, and easy going.
Selamat pagi asa
Senang sekali bertemu denganmu
Diantara burung-burung yang bernyanyi dan menari
Diantara sinar mentari yang lembut menyapa
Diantara semua rahasia Allah yang bakal kutemui hari ini
Aku tahu kau ada di sana
***
Dian Widyaningtyas
Pagi yang cerah, di halaman parkir kantor
Wednesday, April 13, 2016

Doctor Said…

Sungguh ketika dokter memberikan saran dengan sedikit paksaan setelah memeriksaku pada pagi yang muram di hari Senin lalu, rasanya seperti sebuah gada menghantam entah bagian tubuhku yang mana. Dan seketika itu semua bayangan buruk berkelebatan di pikiran. Aku mencoba berkelit…

Tak cukup cuman itu, siangnya petugas bagian lab menelponku untuk memberitahukan bahwa aku harus menjalani transfusi darah karena Hb yang rendah. Allah….apa lagi ini? Aku masih mencoba ngeles dan berusaha memulihkan kadar Hb dengan asupan makanan dan obat. Lha lihat luka berdarah aja berasa mau pingsan, apalagi darah sekantong….

Sejak itu jadi merenung, kenapa sampe sebegitunya tubuh ini. Mungkin kecapekan ato banyak pikiran. Memang sejak kejadian bungsu jatuh dan harus menjalani operasi, there’s something bother my mind. There’s quilty feeling too. Dan insomnia kambuh lagi. Jadi teringat pertanyaan rada pedas yang dilontarkan seorang teman karena saking jengkelnya lihat aku yang masih saja beraktivitas padahal sudah lewat tengah malam bahkan sudah hampir pagi. “Apa yang coba kamu buktikan??” Bingung jawabnya. I’m not trying to proof anything. Hanya saja kalo udah terlanjur asyik mengerjakan sesuatu, kadang sampai lupa waktu, lupa kondisi tubuh, lupa lain-lainnya. Eh ada juga sih proofing something to my self hehehe. Jadi kalo aku bilang ke diriku kalo aku bisa, aku akan lakukan whatever it takes. Even ketika aku nggak bisa, aku akan berusaha agar bisa. Ini sudah seperti prinsip hidup aja sepertinya hehehe…

Ya karena takut dengan saran dokter dan petugas medis, akhirnya sekarang diusahakan dengan sangat untuk hidup teratur. Dipaksa tidur, dipaksa banyak minum air putih yang sehat, dipaksa makan teratur juga. Dicoba seperti itu selama seminggu ini. Mudah-mudahan semua menjadi normal kembali.
Rest n recover
Tahu apa yang paling kutakutkan? Aku takut ketika aku terpejam untuk menanti esok hari, ternyata mata ini terpejam selamanya dan tak bisa lagi membersamai anak-anak. Allah…ijinkan aku mendampingi mereka dalam kurun waktu yang lama.
***
Dian Widyaningtyas
Merambati malam yang menangis…lirih
Wednesday, March 23, 2016

Cerita Tentang Kopi

Udah lama banget pengen nulis tentang kopi. Tapi karena nggak bisa menghalau rasa males, akhirnya ide tulisan, konsep dan sebagainya hanya parkir begitu saja di kolong pikiran entah yang sebelah mana. Dan tiba-tiba saja sepulang dari liburan long weekend di kampung, keinginan nulis muncul begitu saja. Emang ya kalau orang yang actionnya base on the mood ya begini ini. Jadi harap maklum kalau banyak sekali ide tulisan yang hanya teronggok begitu saja di kolong pikiran. Ok segitu aja prolognya sebelum aku kehabisan kata-kata.
Hm….kopi… So what can I say about it? Rasanya banyak banget yang ingin kuceritakan tentang kopi. Jadi mungkin ini akan menjadi tulisan bersambung nantinya. Pada tulisan awal dari beberapa bagian tulisan ini aku ingin cerita tentang bagaimana awal-awal aku berinteraksi dengan kopi. Banyak yang mengira kalo kegemaranku akan kopi baru saja dimulai. Padahal sudah lama banget aku rutin mengkonsumsi kopi. Terlebih disaat aku harus berkonsentrasi tinggi menyelesaikan suatu kerjaan yang dibatasi oleh waktu. Tapi kopi yang kukonsumsi waktu itu memang berbeda dengan kopi yang kukonsumsi saat ini.
Stok kopi instan

Stok kopi instan

Kopi aneka rasa full kreamer menjadi kegemaranku dulu. Tak kurang dari enam pak kusediakan untuk konsumsi rutin tiap bulan. Itu belum termasuk stok yang disediakan di kantor. Kopi instan semacam itu hanya nikmat di lidah saja karena rasa manis dan gurihnya. Sedangkan kandungan kopinya sendiri jauh lebih sedikit daripada kandungan gula dan kreamernya. Sebenarnya kopi murni baik untuk kesehatan. Tapi dalam sebungkus kopi instan, dimana komposisi kopinya, yang biasanya dari jenis robusta, tidak lebih dari satu sendok teh saja. Selebihnya adalah gula maupun pemanis buatan dan kreamer. Dibalik rasanya yang mampu memanjakan lidah, kopi instan memiliki bahaya yang harus diwaspadai. Bahaya yang mengancam salah satunya adalah konsumsi gula dan pemanis buatan yang berlebihan yang bisa menyebabkan diabetes.
Sebenarnya banyak efek negatif dari kopi instan. Tapi satu saja yang sudah aku sebutkan diatas, sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk menghentikan kebiasaanku mengkonsumsi kopi instan.  Pada titik itulah aku mulai beralih ke kopi murni. Kopi yang cara penyajiannya jauh dari kata praktis. Bahkan mungkin bisa dibilang ribet banget. Tapi insyaAllah lebih bermanfaat selama kita tetap memperhatikan kadar kafein yang kita konsumsi per harinya. Jadi dalam hal ini kaidah “berlebihan itu tidak baik” tetap berlaku. So walaupun kopi murni baik untuk kesehatan tapi kita harus tetap bijaksana dalam mengkonsumsinya.
Bersambung…
***
Dian Widyaningtyas
For “Journey of my life”
Sunday, mid night, December 27th, 2015

Raja Jalanan

Terakhir kali aku melakukan perjalanan keluar kota dengan mengendarai mobil sendiri adalah lebaran Idul Fitri bulan Agustus yang lalu. Waktu itu kondisi jalanan tidak terlalu ramai, baik saat mudik maupun saat balik karena pemilihan waktu yang tepat. Tidak ada yang aneh dengan kondisi jalan dan lalu lintas berbagai kendaraan yang ada. Pun ketika hari Jumat malam, dua hari yang lalu waktu aku kembali mudik ke Jombang. Jalanan banyak dipenuhi truk-truk besar sarat muatan. Maklum saja, hari sudah malam, giliran mereka yang keluar dari gudang dan melakukan distribusi berbagai barang. Itu saja, selebihnya semua biasa saja.

On the road....

On the road…

Tapi Sabtu malam saat anak-anak merengek minta jalan-jalan, rasanya ada yang aneh. Beberapa kali aku berpapasan dengan serombongan kecil pengendara roda dua yang salah satu dari mereka memegang light saber pendek berwarna merah. Sambil mengayun-ayunkan light saber, dia dengan paksa minta jalan dan diikuti pengendara motor di belakangnya. Saat kembali dari jalan-jalan itu, aku mengalami sendiri, terjebak diantara serombongan pengendara roda dua yang dari arah belakang berusaha menyalip mobilku dari kiri dan kanan dengan agresifnya. Tak ada jalan lain, aku harus mengalah dengan mereka. Ngeri aja kalau aku bersikeras tidak mau menurunkan kecepatan dan membiarkan mereka jalan duluan, kalau terjadi apa-apa, pasti korbannya tidak hanya satu pengendara motor, bisa jadi serombongan itu kena semua karena mereka bergerombol gitu memenuhi jalanan.
Rupanya gelar Raja Jalanan sekarang sudah bergeser ke rombongan kecil pengendara motor seperti itu. Terus terang aku lebih takut menghadapi mereka daripada menghadapi bus-bus luar kota dalam propinsi yang biasanya ugal-ugalan itu. Malah pas perjalanan mudik kemarin, beberapa bus dengan sabar membiarkan aku melaju tanpa ada keinginan sopir bus tersebut untuk menyalip atau sekedar membunyikan klakson sebagai tanda untuk menyuruhku minggir. Aku saja yang notabene suka ngebut kalau di jalanan, ngeri melihat kenekatan rombongan pengendara motor seperti itu. Kalau ada apa-apa pasti yang disalahkan adalah yang gede (pengendara mobil), bukan mereka. Mungkin karena itu mereka merasa mendapat angin dan meliuk-liuk seenaknya di jalanan. Ya sudahlah…sing waras ngalah.
***
Dian Widyaningtyas
Home sweet home,
Sunday night, October 11th, 2015

Having Fun di Jombang

Story about us when we spent week end in my home town….

Just to make you happy, kids. Just to make you all happy…

Aisyah in action


IMG_20151010_211248

IMG_20151010_211148

IMG_20151010_211146

IMG_20151010_211134

IMG_20151010_211107

IMG_20151010_210825

IMG_20151010_210803

IMG_20151010_210724

IMG_20151010_210646

IMG_20151010_210638

***

Dian Widyaningtyas

Sunday Afternoon, just before we go back to Sidoarjo

October 11th, 2015

Filosofi Induk Ayam

Berada di kampung halaman rasanya ritme kehidupan melambat dan aku lebih bisa menikmati tiap detik yang berlalu. Everything is slow motion mode on gitu lah. Dan satu hal yang biasanya kulakan adalah menikmati hal-hal yang tidak bisa tiap hari kutemukan di dalam keseharianku.

Aku sedang berada di halaman belakang dan memperhatikan beberapa induk ayam beserta anak-anaknya ketika anakku nyelutuk “Mama kenapa sih ngelihatin ayam terus?” Hehehe aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba mataku terpaku pada induk ayam dan anak-anaknya. Pemandangan yang biasa banget sebenarnya. Nothing’s special about that. Tapi manakala kita memperhatikannya dengan pikiran dan hati yang tenang, pemandangan yang luar biasa tersebut menjadi luar biasa dan penuh makna.
Induk ayam dan anak-anaknya

                Induk ayam dan anak-anaknya

Sedari tadi kuperhatikan induk-induk ayam tersebut mematuk-matuk sesuatu di tanah sambil memberi isyarat suara kepada anak-anaknya. Seolah dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat. Dan tiap kali induk ayam melakukan hal tersebut, anak-anaknya langsung berloncatan mendekat dan melakukan hal yang sama. Induk ayam tersebut menemukan makanan rupanya, dan dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat dan memakan makanan tersebut. Bagaimana dengan dia sendiri? Dia hanya mematuknya dan memastikan bahwa itu beneran makanan yang bisa dikonsumsi anak-anaknya sedangkan dia sendiri tidak ikut memakannya.
Ketika aku mendekat dan berniat mengabadikan momen tersebut langsung saja induk ayam gusar bukan kepalang. Bulu-bulunya menjadi berdiri dan sayapnya mengembang. Isyarat suaranya seolah memberi perintah kepada anak-anaknya untuk mundur menjauhiku, sedangkan dia bersikap antara defense dan berada pada tempatnya semula untuk melindungi anak-anaknya atau maju untuk menyerangku jika aku masih nekat mendekati mereka lebih dekat lagi. Tentu saja aku urung mendekat. Aku nggak ingin membuat ayam-ayam tersebut ketakutan. Sejatinya aku juga takut mendekati mereka lebih dekat lagi. Takut dipatuk induknya lah. Katanya dipatuk induk ayam tuh sakit hehehe.
Setelah anak-anak ayam tersebut kenyang, gantian induk ayam yang mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Itupun masih saja dia memberi isyarat kepada anak-anaknya. Tapi anak-anaknya tidak tertarik lagi untuk makan. Mereka hanya bermain-main bekejaran dengan saudaranya. Sesekali salah satu diantara mereka meloncat naik pada punggung induknya yang sedang asyik mengais makanan. Lucu sekali memperhatikan tingkah pola anak-anak ayam tersebut.
Ketika senja menjelang, induk ayam mencari tempat untuk dia dan anak-anaknya tidur. Aku tidak tahu apakah biasanya mereka memang tidur disitu atau berpindah-pindah tempat. Yang jelas induk ayam tersebut memilih tempat dibawah kandang ayam lain yang sedang mengerami telur-telurnya. Lalu anak-anaknya satu persatu mendekat dan menyelusup dibalik sayap induknya, tempat yang hangat, nyaman dan aman untuk melewatkan malam yang dingin dan mungkin saja berbahaya buat mereka.
Basic instinc, begitu aku menyebut tingkah laku induk ayam. Semua induk ayam akan melakukan hal yang sama. Semua induk mahluk hidup punya insting yang sama. Insting untuk mencukupi kebutuhan, memberi kasih sayang dan perlindungan kepada anak-anaknya. Ada rasa jengah ketika mengingat adegan dimana induk ayam membiarkan anaknya asyik bermain dipunggungnya saat dia mencari makan. Sedangkan diri ini kadang merasa sangat terganggu dengan aktifitas anak-anak yang rasanya mengusik keasyikan kita. Entah saat kita asyik membaca, asyik dengan gadget, asyik berbelanja, asyik ngobrol dengan teman dan aktifitas-aktifitas lainnya. Ah…rasanya basic instict kita sebagai seorang ibu sudah mulai luntur dikalahkan oleh egoisme kita sebagai manusia. Maka ada baiknya kita belajar tentang filosofi induk ayam dan mengembalikan basic instict kita sebagai seorang ibu.
***
Dian Widyaningtyas
Mencari kedamaian di kampung halaman
Saturday night, October 10th, 2015

Sosok Yang Kurindukan

Pernah disuatu episode hidupku di masa yang lalu, aku begitu merindukan kehadiran seseorang. Seseorang yang mungkin saja bisa mengobati segenap rasa rindu di dada, atau bahkan meluluh lantakkan segala rasa cinta yang menggelora. Waktu itu aku sedang menyelesaikan kuliahku di salah satu sekolah kedinasan dan kontrak rumah bersama teman-teman yang berasal dari SMA yang sama di perumahan Pondok Jaya.

Bukan aku saja yang merindukan kehadiran seseorang tersebut. Penghuni kontrakan yang lain juga merasakan hal yang sama. Penantian kami begitu penuh asa dari hari Senin sampai Sabtu. Ketika kami mendengar deru motornya hanya lewat begitu saja di depan kontrakan kami, tak ayal lagi ada rasa kecewa, walau sedikit, di hati kami. Tapi tatkala deru motornya berhenti di depan rumah kontrakan kami, dan beberapa saat kemudian dia memukul-mukul pagar besi bercat hitam di rumah kontrakan kami sambil teriak “Pos !!!!!!!!” sungguh tak bisa digambarkan betapa girangnya hati kami dan sontak berebut keluar. Hm…ada juga sih teman yang hanya menunggu di balik pintu karena dia harus pake jilbab segala kalau ikutan berebut keluar hehehehe…
surat-surat

surat-surat

Waktu itu komunikasi yang paling memungkinkan adalah lewat telepon untuk hal-hal darurat dan lewat surat jika banyak hal yang ingin disampaikan. Kami belum mengenal alat komunikasi handphone saat itu. Kalaupun sudah kenal mungkin kami tak mampu membelinya. Boro-boro beli handphone, sekolah aja nyari yang gratisan. Aku tak ingat lagi sejak kapan aku meninggalkan komunikasi melalui surat. Mungkin sejak aku menyelesaikan kuliah dan kembali berkumpul dengan orang tuaku. Pun saat itu seseorang yang biasanya menjadi tujuanku berkirim surat selain kepada orang tua, tak lagi merajut kisah bersama denganku…ehem….wkwkwkwk…
Tapi sungguh mengenangnya kembali, eit bukan mengenang si “rajutan kisah” itu ya, tapi mengenang rasanya menunggu surat dari orang-orang yang kita sayangi, membuatku kangen untuk berkirim surat. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini, berkirim surat the way I used to do, menjadi sangat nggak efektif dan efisien lagi. Karena begitu banyak sarana komunikasi lain yang bisa meniadakan jeda waktu yang ditimbulkan oleh sebuah proses berkirim surat.
***
Dian Widyaningtyas
Morning passes by and I’m still at the parking area…..
Friday, October 9th, 2015
Picture taken from Mbak Dheean Reean on Facebook.

Semangkuk Bumbu Pecel dan Sebuah Janji di Masa Lalu

Jam hampir menunjuk angka 12, sarapan yang kesiangan di pagi ini, dengan menu bumbu pecel dan tempe goreng tepung. Memang nggak biasa sarapan dibawah jam 10. Jangan ditanya mana sayurnya, lagi nggak mood nyiapin sayur. Punya mood untuk makan aja udah bersyukur banget hehehe.

Sarapan

Sarapan

Hari Sabtu kemarin pas beli bumbu pecel di pasar kaget, sempat nanya-nanya sama penjualnya. Tiga belas kilo bumbu pecel habis dalam waktu empat hari. Itu artinya ibu itu perlu waktu empat hari untuk mendapatkan duit Rp. 676.000,-. Itu omzet ya, bukan net pofit. Emang sih, ibu itu jual makanan lain seperti aneka rempeyek. Tapi aku bisa memperkirakan omzetnya nggak jauh dari omzet bumbu pecel. Karena dia harus pula penyesuaikan harga jual dengan daya beli pasar. Beda halnya kalo dia poles tampilan dagangannya, dan dijual kepada kalangan yang lebih mementingkan tampilan (kemasan) daripada rasa. Kalangan yang akan membayar berapa saja harga yang ditawarkan (ingat produk maicih kan?). Tapi tentu saja pikiran ibu sederhana itu nggak sampai kesana. Yang dia tahu hanya beli bahan, bikin, dan menjual langsung ke pelanggan dengan hitung-hitungan yang tak kalah sederhananya.

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Tiba-tiba aku jadi ingat ibuku. Ibuku dulu juga berjualan bumbu pecel seperti dia. Ibu menitipkannya di toko-toko di pasar Perak. Waktu itu ibu sudah mengantongi ijin dari departemen kesehatan. Tapi belum sampai ngurus sertifikat halal. Melihat perkembangan bisnis onlineku waktu itu, ibu memintaku untuk mengembangkan usaha bumbu pecelnya. Mungkin ibu melihat aku punya kemampuan di bidang marketing, sedangkan ibu hanya bisa memikirkan bagaimana membuat bumbu pecel yang enak. Waktu itu aku menyanggupi permintaan ibu. Tapi sampai sekarang aku belum bergerak sama sekali untuk merealisasikannya. Hingga syaraf tangan ibu terganggu pasca kecelakaan tahun lalu, yang mengakibatkan ibu kesulitan melakukan aktifitasnya sehari-hari, juga untuk memproduksi bumbu pecel lagi.

Janji tetaplah janji. Mungkin aku bisa memulainya dengan meminta ibu untuk mengajariku cara membuat bumbu pecel seenak bikinan ibu. Pun setelah itu aku harus menjajal resep itu berkali-kali seperti halnya ketika aku belajar membuat kue dengan resep baru sehingga tercipta chemitry antara aku dengan resep rahasia ibu hehehehe. Sambil memikirkan polesan apa dan cara marketing yang bagaimana yang bisa kulakukan untuk barang dagangan tersebut. Ada saran? ^_^

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Sunday, August 16, 2015