Doctor Said…

Sungguh ketika dokter memberikan saran dengan sedikit paksaan setelah memeriksaku pada pagi yang muram di hari Senin lalu, rasanya seperti sebuah gada menghantam entah bagian tubuhku yang mana. Dan seketika itu semua bayangan buruk berkelebatan di pikiran. Aku mencoba berkelit…

Tak cukup cuman itu, siangnya petugas bagian lab menelponku untuk memberitahukan bahwa aku harus menjalani transfusi darah karena Hb yang rendah. Allah….apa lagi ini? Aku masih mencoba ngeles dan berusaha memulihkan kadar Hb dengan asupan makanan dan obat. Lha lihat luka berdarah aja berasa mau pingsan, apalagi darah sekantong….

Sejak itu jadi merenung, kenapa sampe sebegitunya tubuh ini. Mungkin kecapekan ato banyak pikiran. Memang sejak kejadian bungsu jatuh dan harus menjalani operasi, there’s something bother my mind. There’s quilty feeling too. Dan insomnia kambuh lagi. Jadi teringat pertanyaan rada pedas yang dilontarkan seorang teman karena saking jengkelnya lihat aku yang masih saja beraktivitas padahal sudah lewat tengah malam bahkan sudah hampir pagi. “Apa yang coba kamu buktikan??” Bingung jawabnya. I’m not trying to proof anything. Hanya saja kalo udah terlanjur asyik mengerjakan sesuatu, kadang sampai lupa waktu, lupa kondisi tubuh, lupa lain-lainnya. Eh ada juga sih proofing something to my self hehehe. Jadi kalo aku bilang ke diriku kalo aku bisa, aku akan lakukan whatever it takes. Even ketika aku nggak bisa, aku akan berusaha agar bisa. Ini sudah seperti prinsip hidup aja sepertinya hehehe…

Ya karena takut dengan saran dokter dan petugas medis, akhirnya sekarang diusahakan dengan sangat untuk hidup teratur. Dipaksa tidur, dipaksa banyak minum air putih yang sehat, dipaksa makan teratur juga. Dicoba seperti itu selama seminggu ini. Mudah-mudahan semua menjadi normal kembali.
Rest n recover
Tahu apa yang paling kutakutkan? Aku takut ketika aku terpejam untuk menanti esok hari, ternyata mata ini terpejam selamanya dan tak bisa lagi membersamai anak-anak. Allah…ijinkan aku mendampingi mereka dalam kurun waktu yang lama.
***
Dian Widyaningtyas
Merambati malam yang menangis…lirih
Wednesday, March 23, 2016
Advertisements