Semangkuk Bumbu Pecel dan Sebuah Janji di Masa Lalu

Jam hampir menunjuk angka 12, sarapan yang kesiangan di pagi ini, dengan menu bumbu pecel dan tempe goreng tepung. Memang nggak biasa sarapan dibawah jam 10. Jangan ditanya mana sayurnya, lagi nggak mood nyiapin sayur. Punya mood untuk makan aja udah bersyukur banget hehehe.

Sarapan

Sarapan

Hari Sabtu kemarin pas beli bumbu pecel di pasar kaget, sempat nanya-nanya sama penjualnya. Tiga belas kilo bumbu pecel habis dalam waktu empat hari. Itu artinya ibu itu perlu waktu empat hari untuk mendapatkan duit Rp. 676.000,-. Itu omzet ya, bukan net pofit. Emang sih, ibu itu jual makanan lain seperti aneka rempeyek. Tapi aku bisa memperkirakan omzetnya nggak jauh dari omzet bumbu pecel. Karena dia harus pula penyesuaikan harga jual dengan daya beli pasar. Beda halnya kalo dia poles tampilan dagangannya, dan dijual kepada kalangan yang lebih mementingkan tampilan (kemasan) daripada rasa. Kalangan yang akan membayar berapa saja harga yang ditawarkan (ingat produk maicih kan?). Tapi tentu saja pikiran ibu sederhana itu nggak sampai kesana. Yang dia tahu hanya beli bahan, bikin, dan menjual langsung ke pelanggan dengan hitung-hitungan yang tak kalah sederhananya.

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Tiba-tiba aku jadi ingat ibuku. Ibuku dulu juga berjualan bumbu pecel seperti dia. Ibu menitipkannya di toko-toko di pasar Perak. Waktu itu ibu sudah mengantongi ijin dari departemen kesehatan. Tapi belum sampai ngurus sertifikat halal. Melihat perkembangan bisnis onlineku waktu itu, ibu memintaku untuk mengembangkan usaha bumbu pecelnya. Mungkin ibu melihat aku punya kemampuan di bidang marketing, sedangkan ibu hanya bisa memikirkan bagaimana membuat bumbu pecel yang enak. Waktu itu aku menyanggupi permintaan ibu. Tapi sampai sekarang aku belum bergerak sama sekali untuk merealisasikannya. Hingga syaraf tangan ibu terganggu pasca kecelakaan tahun lalu, yang mengakibatkan ibu kesulitan melakukan aktifitasnya sehari-hari, juga untuk memproduksi bumbu pecel lagi.

Janji tetaplah janji. Mungkin aku bisa memulainya dengan meminta ibu untuk mengajariku cara membuat bumbu pecel seenak bikinan ibu. Pun setelah itu aku harus menjajal resep itu berkali-kali seperti halnya ketika aku belajar membuat kue dengan resep baru sehingga tercipta chemitry antara aku dengan resep rahasia ibu hehehehe. Sambil memikirkan polesan apa dan cara marketing yang bagaimana yang bisa kulakukan untuk barang dagangan tersebut. Ada saran? ^_^

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Sunday, August 16, 2015

Advertisements

Tanda Cinta dari Tanah Seberang

Siang ini dapat kiriman telur penyu kesukaan anak-anak dari tanah seberang. Mama mertua selalu saja ingat kesukaan cucu-cucunya di sini.

IMG_20150815_125909

Tanda Cinta

Telur Penyu

Telur Penyu

Pertama melihat orang makan telur penyu waktu dulu sarapan bareng belahan jiwa. Waktu itu udah dikhitbah dan nunggu hari H untuk ijab kabul. Beliau tau kebiasaan makanku yang amburadul. Jadi tiap pagi diajakin sarapan di warung depan kantor di GKN II Dinoyo. Namanya Warung Lumintu kalau nggak salah. Harapannya sih biar aku lahap dan teratur makannya. Apakah waktu itu aku jadi doyan makan? Malah sebaliknya. Kadang hanya beberapa sendok aja bisa masuk ke mulut. Sarapan bareng seseorang yang perlahan-lahan membuatku jatuh cinta bikin aku mendadak kenyang, grogi, salting, dan hanya berani nunduk entah ngitung butiran nasi di piring atau menyembunyikan wajah dari lirikan belahan jiwa #ihirrrrr. Kok tau kalo dilirik? Ngelirik juga ya? Wkwkwkwk

Nah di sela-sela momen seperti itu beberapa kali aku melihat belahan jiwa mengeluarkan sebutir telur penyu dari saku bajunya. Asli…dikantongi gitu aja tanpa dibungkus plastik. Aku takjub, maklum belum pernah lihat telur penyu secara langsung. Kok gak pecah ya, gitu pikirku. Cangkang telur yang lembek itu beliau sobek dan isinya beliau tuang di atas nasi yang sudah tersaji di meja kami. Aku nggak ada minat sedikit pun untuk mencicipinya.

Dikemudian hari setelah kami punya anak, ternyata anak-anak pada suka banget sama telur penyu. Persis almarhum abahnya. Kalo nggak distop, bisa-bisa semangkok besar habis dalam sehari. Segala sesuatu kalo berlebihan nggak baik kan. Jadi anak-anak harus dibatasi dan sering-sering diingatkan. Aku sendiri hanya doyan makan kuning telurnya saja. Atau telur penyu aku simpan terbuka dalam kulkas sampai isinya agak mengeras. Nah kalau yang sudah seperti itu aku doyan makannya.

Mama mertua sering banget mengirimkan tanda cintanya pada kami. Walau dipisahkan jarak ribuan kilo, tapi tidak pernah menghalangi mama untuk menunjukkan cintanya pada kami. Aku bisa mengerti bagaimana kerinduan mama mertua pada anak-anakku. Anak-anakku adalah pengobat kerinduan mama mertua pada anak lelaki satu-satunya yang telah pergi meninggalkan kami semua. Semoga Allah beri kelonggaran rizki sehingga aku dan anak-anak bisa sering-sering bersilaturahmi ke tanah seberang, mempertemukan mereka dengan nenek, kai dan leluhurnya yang lain di sana. Karena bagaimana pun juga, ada darah Bugis dan Banjar yang mengalir pada diri mereka, disamping darah Jawa dari aku.

***

Dian Widyaningtyas

In the middle of the day, on my long weekend, August 15, 2015