Bahagia dari Sudut Pandang yang Berbeda

Ada beberapa kejadian akhir-akhir ini yang membuatku merenungi kembali arti kata bahagia. Bahagia bisa jadi merupakan suatu hal yang dicari banyak orang. Tapi tak banyak yang tahu kemana, dimana, dan pada apa terletak bahagia, walau itu untuk diri sendiri sekalipun, apalagi bahagianya orang lain di sekitar kita.

Taken from psychconnection.worspress.com

Taken from psychconnection.worspress.com

Aku pernah berpikir bahwa bahagianya anak-anak adalah ketika aku bisa memenuhi semua keinginan mereka. Memberikan fasilitas terbaik untuk mereka sehingga mereka nyaman. Ternyata bahagia bagi sulung adalah manakala aku memberikan kepercayaan dan kebebasan terbatas padanya untuk melakukan beberapa aktifitas bersama teman-temannya. Bahagia bagi anakku yang nomor dua adalah manakala aku memberinya waktu untuk menikmati dunianya yang seluas kamar dengan serakan buku dimana-mana. Bahagia bagi anakku yang nomor tiga adalah manakala aku memeluknya dan memberikan perhatian penuh seolah-olah dia adalah anakku satu-satunya. Dan bahagia bagi bungsu adalah manakala aku membiarkannya berjumpalitan di atas kasur, berlarian kesana kemari di dalam rumah, dan bercanda lepas dengan kakak-kakaknya.

Aku pernah berpikir bahwa bahagianya orang tua adalah ketika mereka bisa duduk-duduk santai berpangku tangan dengan semua kebutuhan sudah terpenuhi olehku. Nyatanya bahagia mereka adalah ketika mereka bisa menyajikan masakan buat cucu-cucunya. Bahagia mereka adalah manakala aku berbagi suka dan duka bersama mereka. Bahagia mereka adalah manakala mereka merasa dibutuhkan oleh aku dan anak-anak.

Makna bahagia, tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandangku sendiri. Terlebih jika aku ingin membuat orang lain bahagia, maka aku harus bisa melihat makna bahagia dari sudut pandang dia, bukan sudut pandangku semata.

***

Dian Widyaningtyas

Just thinking about happiness….

Coffe break, Monday, Febuary 23th, 2015

Advertisements

Remah-remah Kenangan di Pasar Tradisional

Tanggal 7 Februari 2015 yang lalu kami, aku dan anak-anak diminta ibu untuk menjemput ayah dan ibu di Jombang. Alhamdulillah kondisi ayah dan ibu mulai membaik dan sudah bisa jagain cucu-cucunya lagi. Mobil ayah masih ringsek dan belum selesai diperbaiki setelah insiden kecelakaan dengan bus Mira bulan Nopember tahun lalu. Mungkin ringseknya lumayan parah sampai makan waktu berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Disamping itu spare part mobil ayah agak sulit didapat.

Kami berangkat sehabis Magrib. Tiba di Jombang sekitar jam 21. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan orang rumah, sambil menikmati makan malam, aku memutuskan untuk istirahat. Maklum, berkendara dalam kondisi agak macet, malam hari pula, memaksaku untuk benar-benar waspada dan kosentrasi penuh sepanjang jalan.

Esok hari aku ingin ikut adikku yang hendak ke pasar. Tiba-tiba saja aku penasaran seperti apa pasar yang dulu sering kulewati sepulang sekolah waktu aku masih duduk di sekolah dasar. Menaiki angkutan pedesaan, langsung saja aura desa makin terasa walau desaku sudah tidak sekental dulu suasana pedesaannya. Sapa-sapa ramah berdengung di atas angkutan pedesaan tersebut. Entah kenal dimana adikku sama penumpang-penumpang tersebut. Mungkin sering ketemu di angkutan pedesaan atau ketemu di pasar saat belanja. Entahlah…

Tas belanjaan yang khas...

Tas belanjaan yang khas…

Setelah kuamati, para penumpang, juga adikku membawa tas belanjaan yang modelnya sama. Tas tersebut terbuat dari anyaman berbahan plastik. Sepertinya sih cukup kuat untuk membawa belanjaan dalam jumlah yang banyak.

Tak berapa lama, hanya sekitar sepuluh menit kami sudah sampai di pasar Perak. Karena letaknya yang berada di jalan propinsi, lalu lintas di depan pasar sangat ramai. Pasar tersebut juga tempat bus antar kota menurunkan penumpangnya. Memasuki pasar Perak, aku masih ingat betul bahwa di sebelah kiri pintu masuk ada penjual cemilan. Ternyata masih ada dan dagangannya semakin banyak saja.

Pedagang makanan ringan

Pedagang makanan ringan

Waktu SD dulu aku sering kulak makanan ringan di toko tersebut. Kami para murid perempuan dapat tugas berjualan makanan ringan di sekolah secara bergilir. Pasanganku berjualan waktu itu seorang chinesse anak pemilik studio foto yang tokonya di samping pasar Perak. Cemilan favorit teman-teman adalah krupuk berukuran sejari yang warna-warni dan digoreng dengan pasir. Mereka memakannya dengan dicocol cabe yang dipenyet diatas selembar kecil daun pisang. Tiba-tiba saja kerumunan mereka saat mengantri untuk membeli cemilan dagangan kami terbayang jelas dimataku.

Tepat di depan pintu masuk seingatku dulu ada penjual bunga tabur. Aku tak ingat lagi apakah penjualnya seorang wanita atau pria. Dan ternyata masih ada penjual bunga tabur di depan pintu masuk pasar Perak, walau letaknya sedikit bergeser.

Pedagang bunga tabur

Pedagang bunga tabur

Dulu aku diam-diam sering memperhatikan dagangan penjual bunga tabur tersebut. Selain menjual bunga tabur dia juga menjual sarang tawon dan kadang juga menjual telor angsa. Aku dulu sering bertanya-tanya dalam hati apa hubungan sarang tawon, telur angsa, dan bunga-bunga tabur tersebut. Aku juga bertanya-tanya bagaimana rasanya telur angsa tersebut jika digoreng, samakah dengan rasa telur ayam kampung? Lalu aku akan membayangkan wajan ibuku bakalan penuh jika dipakai untuk menggoreng sebutir telor raksasa tersebut.

Berjalan semakin kedalam kuamati tidak ada perubahan signifikan pada pasar tradisional satu-satunya yang ada di kecamatan Perak. Atapnya banyak ditambal dengan potongan-potongan seng.

Lorong pasar bagian tengah

Lorong pasar bagian tengah

Aku bisa membayangkan pasar tersebut bakalan becek sekali jika turun hujan. Pasar agak sepi karena hari sudah siang ketika aku dan adikku datang kesana.

Lot penjual daging

Lot penjual daging

Lot terakhir yang kami singgahi adalah lot penjual daging. Letaknya di dekat pintu samping tempat penitipan sepeda. Aku dulu sering main-main ke lot penjual daging karena dua budeku berjualan di sana. Yang satu berjualan daging kambing, yang satunya lagi berjualan daging sapi. Ternyata salah satu sepupuku meneruskan profesi orang tuanya dengan berjualan daging sapi di sana. Satu hal yang kuingat betul adalah persediaan daun jati yang disusun melingkar dan diikat kuat-kuat yang biasanya diletakkan di belakang lapak bude dan pakdeku. Tiba-tiba bau khas daun jati menyeruak dihidungku. Dikemudian hari baru kuketahui bahwa daun jati bisa membuat daging kambing dan sapi lebih awet dan nggak gampang busuk.

Akhirnya selesai juga aku menyusuri jejak masa laluku di pasar Perak. Some little things remain the same like it used to be. And some other things are brand new to me. That’s the way life goes on….

***

Dian Widyaningtyas

Things come and go. That’s the way life goes on…

Sunday evening, February 22nd, 2015

Turning Our Kids Into Bookworm

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluhkan anak-anaknya yang nggak suka membaca. Bahkan dia harus memberikan iming-iming berupa sejumlah uang hanya agar anak-anaknya mau membaca sebuah buku. Well…aku speechless mendengarnya. Pertama, bagiku memberikan iming-iming berupa uang agar anak-anak mau mengerjakan sesuatu adalah BIG NO ! Kelak mereka hanya mau berbuat sesuatu just for money. Kedua, menurutku bukan begitu caranya agar anak-anak gemar membaca.

Membentuk anak-anak agar gemar membaca membutuhkan proses yang lumayan panjang. Tidak semudah membalik telapak tangan dan tidak secepat mengedipkan mata.

Aku sedini mungkin sudah mengenalkan anak-anak pada buku. It’s ok kalau mereka hanya bisa meremas-remas dan menyobek-nyobek lembaran-lembaran buku tersebut. Begitulah awalnya mereka berinteraksi dengan buku. Mendengar suara sobekan kertas yang mereka sobek sendiri membuat mata mereka berbinar-binar kegirangan. Waktu anak-anak masih baby, belum ada yang namanya buku bantal. Jadi aku membelikan mereka majalah anak-anak bekas. Ketika mereka mulai anteng menghadapi buku, aku mulai memberikan buku-buku yang bright color dan berbahan kertas tebal. Ketika usia mereka bertambah, tentu lain lagi jenis buku yang kuberikan pada mereka. Itu rangsangan yang secara langsung kuberikan ke mereka.

IMG00020-20101005-0613

Rangsangan secara tak langsung banyak caranya. Salah satunya adalah orang tua, terutama mama, harus pula menunjukkan minat yang besar pada buku-buku. Kenapa mama? Karena mama yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan seorang ayah. Bagaimana kita menginginkan anak-anak gemar membaca jika mereka tidak pernah melihat orang tuanya asyik berkutat dengan buku-buku? Sedari kecil anak-anakku sudah terbiasa melihat mamanya asyik membaca dimana-mana, di ruang makan, di ruang keluarga sambil selonjoran di sofa, di ruang perpustakaan pribadi, bahkan di kamar jelang tidur. Mereka sudah terbiasa melihat mamanya tidur dengan ditemani tumpukan buku disebelah ranjang atau serakan beberapa buku dibawah bantal.

Rangsangan lain adalah fasilitas berupa buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur mereka. Bagaimana mereka akan gemar membaca jika buku-buku yang kita sediakan buat mereka sangat minim? Ketika mereka beranjak besar, aku selalu memberi kebebasan pada anak-anak untuk memilih sendiri buku-buku yang mereka sukai.

Memikirkan kembali keluhan temanku, aku jadi bersyukur anak-anakku gemar membaca semuanya. Mereka memiliki gaya yang berbeda-beda ketika asyik membaca. Ada yang benar-benar nggak suka jika keasyikannya membaca terganggu, ada yang easy going aja ketika ada interupsi. Ada yang rapi jali, selalu mengembalikan bacaannya pada tempat semula, ada pula yang seperti mamanya, tidur dengan dikelilingi banyak buku entah di bawah bantal sampai bukunya kelipat-lipat, atau di samping ranjang.

Kadang kegemaran mereka membaca mengakibatkan high cost buatku, but it’s ok karena yang mereka beli adalah ilmu dan bukan merupakan kesia-siaan. Bukankah buku adalah jendela dunia? Dengan membaca buku-buku tersebut, mereka akan melihat dunia.

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Monday, February 2nd, 2015

Februari yang Perih

Langkah kaki terseok-seok seolah enggan memasuki bulan kedua ini. Tapi bagaimana bisa kuhentikan Sang Waktu? Dan disinilah aku berada, di bulan kedua yang tak pernah bisa kulupakan. Diawali dengan mimpi indah tentang sesosok lelaki yang telah memenuhi seluruh ruang di hatiku, bahkan sampai ke relungnya, yang membuatku terbangun dengan linangan air mata. Mungkin mimpi-mimpi serupa akan setia menghampiriku di hari-hari berikutnya. Mimpi indah yang berakhir dengan air mata.

IMG_20150111_210923

#yiruma #kisstherain

Lalu mungkin aku akan menghitung hari demi hari, mengingat kejadian demi kejadian dua tahun silam yang semuanya terekam dengan jelas dikepalaku. Entah untuk apa kukenang semuanya. Padahal setiap mengenangnya adalah sayatan yang menyakitkan. Tak ada yang bisa menyakitiku selainnya itu. Tapi sepertinya kenangan itu begitu setia menyertaiku, kemanapun aku mencoba melarikan diriku darinya.

Aku sedang tak ingin bicara tentang logika. Aku hanya ingin bicara tentang rasa. Dan ini bukan soal ikhlas atau nggak ikhlas, karena perasaan tetaplah perasaan. Maka biarkan aku sejenak mengenang semuanya, mengenang semua rasa yang kurasakan dua tahun silam dan hari demi hari setelahnya.

Tidak,  aku tidak sedang terpuruk dalam kesedihan. Life must go on. Aku tahu dan sadar betul itu. Tapi aku ingin membawa diriku kembali ke masa dua tahun silam walau kutahu itu akan sangat menyakitkan. Aku harus kesana, menapak tilas salah satu masa laluku. Untuk kemudian merenungi apakah sudah benar langkahku setelahnya itu.

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Jelang dua tahun kepergianmu, Belahan jiwa

Sunday, February 1st, 2015