Good Friends Are Like Stars

Aku sedang ingin membuka netbook dan berselancar di dunia maya mlam ini. Setelah kubuka salah satu browser, langsung saja aku buka beberapa site sekaligus, antara lain Facebook, Pinterest, dan email. Setelah mengedit beberapa setingan di Fan Page Butik Zahrah yang sehari sebelumnya ada yang nyelonong ngiklan di sana, akhirnya aku memfokuskan perhatianku ke Pinterest.

Pada salah satu boardku yang terdapat di Pinterest, aku mendapatkan sebuah link yang berisi tentang creative writing pr0mpts selama setahun. Mataku langsung terpaku pada salah satu prompt entah di baris yang ke berapa. Friendship. Begitu yang tertulis di sana. Aku langsung teringat pada salah satu momen yang belum sempat kutuliskan diblogku ini.

Aku langsung teringat dengan teman-temanku yang tak bisa kuhitung lagi berapa jumlahnya. Awalnya kami disatukan oleh pekerjaan. Kemudian kami disatukan oleh sebuah forum di instansiku, yang membahas banyak hal, dari masalah pekerjaan sampai masalah hobi, dari masalah agama sampai sosial budaya. Dari forum tersebut dibentuk lagi beberapa komunitas yang lebih kecil dan lebih intens interaksinya. Khusus untuk wanita, kami memiliki sebuah group yang satu dengan yang lainnya sangat dekat dan akrab. Padahal kami berjauhan dan tersebar di seluruh Indonesia. Sungguh, ketika membaca kata “friendship” maka yang terbayang adalah wajah-wajah mereka yang sebagian sudah kuketahui dari foto profil yang mereka pasang di beberapa akun media sosial, atau nick name mereka di forum jika tak pernah kudapati wajah mereka di akun-akun tersebut, atau bahkan malaikat-malaikat kecil mereka yang mereka jadikan foto profil.

Kami jauh di mata tapi dekat di hati. Mereka ada disaat-saat tersulitku, ketika aku kehilangan belahan jiwa. Aku masih ingat betapa doa dan dukungan mereka mengalir begitu derasnya  waktu itu. Knowing that I would not alone, that made me strong. Kehadiran mereka membuatku kuat. Ada saat-saat tertentu ketika kami sangat berharap bisa bertemu. Kadang ada beberapa teman yang dipertemukan oleh panggilan diklat. Ada pula yang dipertemukan dengan SK mutasi.

Suatu pagi di hari Sabtu terakhir bulan Agustus tahun lalu, tiba-tiba saja aku bisa janjian dengan salah satu teman. Aku mengenalnya dengan nama Mbak Enny atau Ummu Musyaffah. Kalau wajahnya, jangan ditanya karena memang aku tidak tahu walau kami sering ngobrol begitu akrabnya di beberapa group. Waktu itu Mbak Enny dalam perjalanan dari Nganjuk menuju ke bandara Juanda untuk kembali ke kotanya di Sumatera. Temanku ini bersuamikan orang Nganjuk. Jadwal pesawat jam 13 kalau nggak salah, sedangkan jam 11.30 aku harus jemput anak-anak yang sedang ikut ekstra kurikuler di sekolahnya. Walau hati ingin banget ketemu, tapi mengingat jamnya begitu mepet, aku hanya pasrah saja. Kalau sudah waktunya bertemu, pasti Allah akan pertemukan, bagaimana pun caranya.

Ketika dalam perjalanan sehabis menjemput anak-anak di sekolah, Mbak Enny mengabarkan bahwa jadwal keberangkatan pesawatnya mengalami delay yang lumayan lama. Langsung saja kupacu mobilku yang waktu itu masih di daerah Deltasari, menuju ke bandara Juanda. Sekian puluh menit kemudian aku dan anak-anak sudah menginjakkan kaki di area domestic departure. Bingung juga waktu itu, bagaimana aku bisa mengenali Mbak Enny sedangkan aku belum pernah melihat wajahnya. Akhirnya kutelpon nomor Mbak Enny sambil mataku melihat kesekeliling, barangkali ada yang mengakat teleponnya dan menjawab pangilan teleponku. Itu saja caraku untuk mengenali Mbak Enny. Dan benar saja aku bisa memastikan setelah kulihat ada seorang wanita bergamis dan berjilbab lebar mengangakat teleponnya dan menjawab panggialan teleponku.

We are... Now you see the author of this blog ^_^

We are… Now you see the author of this blog ^_^

Terharu. Itu yang kurasakan. Setelah sekian tahun berinteraksi di dunia maya, akhirnya hari itu, Sabtu tanggal 30 Agustus 2014, Allah pertemukan kami. Kulihat mata Mbak Enny berkaca-kaca. Mungkin dia terharu juga dengan pertemuan kami. Lalu kami ngobrol dengan akrab seperti halnya ketika ngobrol di group. Kami ngobrol banyak hal. Hampir sejam kami bertemu sampai akhirnya aku pamit. Mbak Enny, suami, dan anak-anaknya tentu saja perlu waktu untuk berpamitan dengan keluarga yang sudah mengantarnya dari Nganjuk. Karena itulah aku pamit undur diri walau hati ini masih ingin ngobrol lama.

Sepanjang perjalanan pulang aku masih memikirkan pertemuan kami itu. Sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku bisa bertemu dengan salah satu temanku yang terpisahkan oleh jarak sekian ratus kilo. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, apa saja pasti bisa terjadi. Semoga dimasa-masa yang akan datang aku bisa bertemu dengan temna-temanku yang lainnya.

***

Good friends are like stars. You don’t always see them, but you know they’re always there !

Dedicated to all of my friends di Forum Shalahuddin, di group BBM Pasar FS, di group WA Pasar FS Duo, di group FB Shalahuddin Cooking Club, di blog SCC dan group-group lainnya. I love you all…

Dian Widyaningtyas

Jelang pergantian hari, Tuesday, January 20th, 2014

Advertisements

Fauzan and His Courage

Fauzan adalah anak bungsuku yang tahun ini memasuki usia ketujuh. Tapi dimataku selalu saja dia menjadi anak kecil yang lemah dan aku cenderung over protect terhadapnya. Ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang kurus kecil dan anaknya yang cenderung pendiam membuatku masih saja memperlakukannya tak ubahnya seperti dua atau tiga tahun silam. Padahal kalau saja mata ini mau terbuka, banyak hal yang mengejutkan yang ditunjukkan Fauzan mengiringi semakin bertambahnya usia dia.

Seperti halnya malam kemarin, sewaktu kami ke dokter gigi. Itu pengalaman pertama bagi Fauzan. Dua hari sebelumnya dia mengeluhkan lidahnya yang bagian depan sering terasa sakit manakala menyentuh “sesuatu” yang tajam dibelakang gigi depan bagian bawah. Aku tiba-tiba teringat akan satu hal. Di umur-umur dia sekarang, bukankah waktunya gigi susunya tanggal? Kenapa aku nggak aware akan hal ini? Aku agak menyesali keteledoranku. Ketika kuperiksa, memang bisa kupastikan ada gigi yang sudah mulai tumbuh dibelakang gigi depan bagian bawah. Dalam bahasa Jawa ini istilahnya “kesundulan”, dan gigi yang kesundulan tadi sudah mulai menguat lagi. Segera kupeluk dia sambil membayangkan ruang praktek dokter gigi yang sampai saat ini masih menjadi hal horor bagiku. Mungkin aku memeluknya lebih kepada memberikan ketenangan untuk diriku sendiri, sedangkan Fauzan tetap tenang-tenang saja.

gopixpic

Dokter gigi memutuskan untuk memberikan suntikan obat bius ke gusi Fauzan. Dengan sedikit bernada protes kupertanyakan keputusan dokter tersebut.

“Dok, nggak pakai semprotan saja untuk membiusnya?” Aku ngeri membayangkan gusi Fauzan ditembus jarum kecil.

Kudengar dokter meminta persetujuan Fauzan, apakah mau pakai suntikan atau disemprot cairan dingin yang rasanya seperti es. Diluar dugaanku ternyata Fauzan memilih untuk disuntik saja. Dan tiba-tiba saja rasa aneh menjalari seluruh rongga mulutku. Aku tidak sanggup melihat Fauzan yang sedari awal sudah duduk di kursi periksa.

“Mamanya ini gimana sih, anaknya minta disuntik kok malah disuruh pakai semprotan” Kata dokter sambil senyum-senyum.

Aku tak sanggup lagi melihat Fauzan. Aku hanya mampu melihat ujung kakinya dan memperhatikan kalau-kalau ujung kaki itu mengejang menahan takut ataupun sakit. Tapi kulihat kaki Fauzan wajar-wajar saja. Dan dalam hitungan sekian detik selesai sudah proses pencabutan gigi susu Fauzan setelah disudahi dengan berkumur-kumur. Aku masih penasaran dengan penasaran dengan keputusan dokter dengan memberinya suntikan obat bius.

“Dok, kenapa dokter lebih memilih suntikan daripada semprotan?” Tanyaku.

“Karena giginya sudah nggak goyang lagi, Bu. Jadi agak susah mencabutnya. Anaknya loh berani. Mamanya yang terlalu khawatir. Saya jadinya grogi tadi” Jawab dokter panjang.

I see… I see…. dengan gigi susu yang kembali kuat lagi, kemungkinan rasa sakitnya lebih besar saat pencabutan jika dibanding gigi susu yang masih dalam kondisi goyah. Karena itu dibutuhkan bius yang sedikit lebih kuat. Aku menyimpulkannya sendiri.

Sampai pagi aku tidak perlu meminumkan pain killer yang sudah kusiapkan sebelumnya. Kondisi Fauzan stabil. Satu hal yang aku khawatirkan adalah luka bekas giginya dicabut akan menimbulkan rasa nyeri dan mengakibatkan demam setelah efek biusnya hilang. Alhamdulillah kekhawatiranku tidak terjadi. Keberanian demi keberanian mulai ditunjukkan oleh lelaki kecilku. Pelan-pelan aku harus membiasakan diri dengan keberanian dan kemandiriannya. Mama is proud of you, Dek…

***

Dian Widyaningtyas

January 20th, 2015

Ilustrasi diambil dari gopixpic.com

Banana Bread for Banana Lover

Entah sudah kali keberapa aku berkutat dengan tepung, gula, dan bahan-bahan kue lainnya. Seingatku hampir setiap hari aku bermain-main dengan mereka sejak aku memutuskan untuk membuat kue sendiri untuk bekal anak-anak sekolah. Tanpa sadar, membuat kue sudah menjadi rutinitas keseharianku. Nanti akan kutulis deh awal mula aku nyemplung dalam dunia perbakingan. jadi mungkin ntar jadinya seperti tulisan flash back alias late post gitu.

Aku merasa kian hari kemampuanku membuat cake semakin bertambah. Walau sering resep-resep yang kupraktekkan adalah resep baru bagiku, tapi aku yakin aja, Bismillah, nggak gagal. Dan alhamdulillah hasilnya nggak pernah mengecewakan. Aku juga mulai berani memodifikasi resep-resep yang kudapat dari berbagai sumber baik internet maupun buku- buku dan majalah. Aku jadi berpikir….apa aku punya bakat jadi chef baking ya? #ngayal

Pagi tadi aku membuat kue dengan bahan utama pisang. Hari sebelumnya ada seseorang yang memberiku pisang. Bukan pisang yang biasanya untuk bahan cake sih, tapi ini pisang ulin yang bentuknya kecil-kecil itu. Waktu menerima lima biji pisang tersebut sudah terlintas di kepalaku untuk mengubahnya menjadi cake. Bagiku pisang apa aja bisa dijadikan cake asal bukan pisang batu aja hehehe.

Seperti biasa, bangun tidur sebelum subuh, aku mulai nyiapin bahan-bahan. Aku siapin juga loyang tulban yang baru aku beli minggu lalu dan belum pernah kupakai. Loyang tulban yang kubeli ini diameternya 23 centimeter dengan bahan alumunium tebal.

Banana Bread for Banana Lover

Bahan :

  • 5 buah pisang (kalau ukuran besar cukup 2 buah saja)
  • 1/2 cup susu cair
  • 1/2 cup minyak
  • 2/3 cup gula pasir
  • 2 butir telur
  • 2 cup tepung terigu pretein sedang
  • 1 sdt baking powder
  • 1 sdt soda kue
  • 1/2 sdt garam halus

Cara :

  • Lumatkan pisang dengan garpu
  • Tambahkan susu, minyak, gula pasir, dan telur kedalam pisang yang sudah dilumatkan. Aduk sampai gula larut
  • Masukkan tepung, baking powder, soda kue dan garam perlahan. Aduk sampai tercampur rata.
  • Masukkan adonan yang sudah jadi kedalam loyang tulban yang sudah dioles mentega tipis-tipis sebelumnya.
  • Panggang dalam oven dengan suhu 180 derajat celcius dengan api bawah selama 40 menit – 50 menit. Jangan lupa untuk memanaskan oven sebelumnya.
  • Keluarkan Banana Bread dari loyang ketika sudah dingin. Iris-iris sesuai selera.

 

Banana Bread fresh from oven

Banana Bread Slices

Banana Bread Slices

Hasil dari resep Banana Bread ini rasa manisnya pas banget di lidahku dan dengan tekstur yang cenderung kering. Berbeda dengan yang biasanya dijual di supermarket dengan rasa terlalu manis dan tekstur cenderung basah dan lengket. Alhamdulillah…sukses deh memodifikasi resep berbahan dasar pisang.

Get Closer to Banana Bread

Get Closer to Banana Bread

Gerimis yang turun sejak tadi malam membuat anak-anak tertidur pulas memeluk gulingnya masing-masing. Tapi aroma harum banana bread mampu membangunkan mereka untuk segera beranjak menuju ke sumber aroma harum tersebut.  Seperti biasa, kata-kata yang terlontar dari mulut-mulut mungil mereka ketika mereka keluar dari kamar adalah “Mama hari ini bikin kue apa?” “Mama nanti aku bawa kuenya berapa potong?” dan tiba-tiba saja pagiku menjadi riuh rendah dengan celotehan mereka sebelum akhirnya kembali sepi ketika mereka beranjak sholat subuh.

***

Dian Widyaningtyas

Chef Baking Wanna be… ^_^

January 20th, 2015

Jealousy

Oh jealousy you tripped me up
Jealousy you brought me down
You bring me sorrow you cause me pain
Jealousy when will you let go?
Gotta hold of my possessive mind
Turned me into a jealous kind
How how how all my jealousy
I wasn’t man enough to let you hurt my pride
Now I’m only left with my own jealousy
#jealousy
#queen
**

Saat ini aku ingin sekali nulis tentang kecemburuan. Tentu saja ada alasan tersendiri kenapa aku tiba-tiba ingin menuliskannya. Tapi tentu saja tak perlu kusebutkan alasan tersebut. Tulisan ini akan kubuatkan kategori khusus yang semoga bisa kuisi dengan tulisan-tulisan lain seputaran kehidupan berumah tangga. Well…aku masih memutar otak kira-kira apa nama kategori yang cocok untuk tulisan ini dan tulisan-tulisan sejenis yang akan kutulis selanjutnya. Samara? Sejujurnya aku agak nggak PD jika memakai istilah yang merujuk ke Islam. Tapi entahlah… sepertinya samara bagus juga untuk nama kategori tulisan ini.

Don’t say that you’re never jealous. Maybe it’s hurting your pride if you admit it. Nonsense deh kalau ada yang bilang bahwa dia nggak pernah punya rasa cemburu. Cemburu muncul karena adanya rasa sayang dan cinta. So kalau ada yang bilang nggak pernah cemburu, maka patut dipertanyakan rasa sayang dan cintanya.

Penyebab cemburu bisa apa dan siapa saja. Cemburu adalah reaksi awal manakala kita merasa “terancam”. Makanya jangan heran jika kadang kala kecemburuan kita nggak logis. Bisa saja kita cemburu sama hobi orang yang kita cintai karena kita menganggap hobi tersebut membuat perhatian ke kita tergeser ke hobi tersebut. Ssst…aku dulu pernah cemburu sama kompi. Iyaaaaa….aku pernah cemburu sama kompi gara-gara pas awal nikah dulu baru tahu kalau belahan jiwaku hobi banget ngegame di kompi. Kalau ini sih gampang banget ngatasinya. Sembunyikan saja kabel powernya. Beres deh hehehe. Eh enggak..enggak just kidding, bukan begitu solusinya. Alhamdulillah setelah dibicarakan baik-baik belahan jiwa mau mengerti.

Bisa saja kita cemburu pada orang lain. Nah cemburu model inilah yang ingin kubahas. Tentu saja aku pernah merasakannya. Rasa cintaku berbanding lurus dengan sifat posesifku. So bukan hal yang aneh bagiku kalau aku sering merasa cemburu pada seseorang. And I admitted this feeling to my beloved husband.

Jealousy

Jealousy

Apa reaksimu ketika kau cemburu? Marah? Diam (sambil merutuk panjang pendek dalam hati)? Atau cuek nggak peduli sambil wait and see? Well, apapun reaksimu ketika cemburu, jangan sampai membuatmu menjauhi pasanganmu. Terlebih jika cemburumu nggak masuk dalam kategori cemburu buta atau memang ada alasan kuat untuk cemburu pada seseorang. Misalnya orang tersebut secara de facto mulai membuat pasanganmu gelisah. Walau secara de jure pasanganmu tidak mengakuinya.

Coba bayangkan ketika ada seseorang yang mulai membuat pasangan kita gelisah, dan disaat yang sama kita marah karena cemburu dan mendiamkan pasangan kita. What will happen then? Sadarkah jika reaksi kita malah membuat kita dan pasangan menjauh? Sadarkah bahwa bisa saja situasi dan kondisi tersebut malah membuat pasangan kita semakin dekat dengan seseorang tadi? Apalagi jika pasanganmu sudah sekian lama menggenggam seseorang tersebut dalam hatinya, jauh sebelum kalian bertemu.

Cemburu silahkan. Cemburu adalah hak segala orang yang mencinta. Mau marah juga silahkan. Gigit gigit tuh bantal dan guling di kamar. Kalau perlu gigit ranjangnya sekalian biar puas marahnya hehehe. Ya… daripada gigit jari mending gigit bantal, guling dan ranjang kan. Tapi jangan lupa, selamatkan pasanganmu. Jangan kau jauhi dia karena marahmu. Dan jangan pula kau biarkan dia semakin menjauh. Justru saatnya kau tunjukkan bahwa kau semakin sayang dan cinta padanya. Lakukan itu walau hatimu pedih sekalipun. Apalagi jika hal tersebut untuk mempertahankan sebuah hubungan suci.

Jika kau memberontak dan mempertanyakan “why me? Kenapa harus aku yang mengupayakan semua itu?” Ya iyalah, masak pak RT? Kasihan bu RT dong hehehe *just kidding (again). Seriously kukatakan, jika kita bisa memperbaiki keadaan, jangan tunggu orang lain untuk melakukannya. Just do it! Kebaikan itu akan kembali lagi pada kita. Yakin deh.

Cinta kan membawamu
Kembali disini
Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya…
#cinta ‘kan membawamu kembali
#dewa 19
***

Dian Widyaningtyas
Untuk seseorang yang sedang cemburu, cinta ‘kan membawanya kembali.
Early Monday, Januari 5th, 2015

And I Feel The World Stops Turning

Aku tak ingat lagi mulai kapan aku merasakan ada yang salah dengan tubuhku. Kalau nggak salah ingat sih sebelum tahun baru kemarin aku sudah merasakan kelelahan yang biasanya bisa kuabaikan.

Jelang tahun baru, aku malah asyik lembur di kantor sampai hampir jam tujuh malam. Ada beberapa data yang harus kuinput ke dalam sebuah aplikasi internal sebelum bulan Desember benar-benar berakhir.

Setelah meyakinkan diri bahwa tak ada lagi data yang bisa kuinput, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Setelah keluar dari gedung, baru kutahu kalau waktu itu sedang gerimis yang cukup lebat. Aku tak tahu apakah keasyikanku saat bekerja atau tempat kerjaku yang berada di lantai tigalah yang menyamarkan telingaku dari suara gerimis itu.

Aku melenggang santai ke area parkir motor yang mulai gelap. Tak kuhiraukan gerimis yang meningkahi langkah kakiku. Bahkan tak kuhiraukan gerimis itu mulai sedikit membasahi jilbabku. Entahlah malam itu aku begitu malas untuk mengenakan jas hujan. Cuman gerimis aja, siapa tahu semakin ke arah rumah, semakin reda gerimisnya. Begitu pikirku.

Keluar dari area perkantoranku, biasanya aku mengambil jalan ke kanan dan selanjutnya melewati Bendul Merisi yg letaknya di belakang kantor. Tapi malam itu aku ingin mengambil jalan ke kiri dan melewati Raya Jagir. Kalau sudah malam tentunya sudah tak ada lagi kemacetan di daerah perempatan pintu KA Jagir. Itulah kenapa aku memutuskan untuk lewat Raya Jagir menuju ke Wonokromo. Ternyata di sepanjang jalan banyak sekali pedagang jagung. Banyak pula pembelinya. Mungkin buat persiapan pesta tahun baru yang kurang beberapa jam lagi. Makan jagung bakar dimalam yang dingin sepertinya asyik juga.

Jalanan lumayan lengang, dan gerimis masih saja belum reda. Aku memacu laju motorku lebih kencang. Hawa dingin makin terasa menusuk ke dadaku karena aku lupa mengancingkan jaket hitam berbahan drill yang seharusnya bisa melindungiku dari hawa dingin. Kurang dari setengah jam, sampailah aku di rumah.

Setelah nyiapin makan malam buat anak-anak, dan anak-anak pun selesai menikmati makan malam, tibalah waktunya untuk merebahkan diri di pembaringan. Dan justru saat itulah mulai bisa kurasakan sinyal-sinyal tubuhku yang menyuarakan protesnya. Kepala pening, hidung tak lagi bisa bernapas dengan bebas, dan tubuhku mulai menggigil kedinginan. Mengigil kedinginan adalah mekanisme tubuhku ketika demam.

Disaat itu ada pesan masuk dari seorang teman yang menceritakan bahwa dia sedang menyaksikan kembang api di negaranya. Dia mengambarkan kemeriahan pesta tahun baru di tempatnya sana. Sedangkan tahun baru masih empat jam lagi disini. Aku menjawab seperlunya agar tidak mengecewakannya. Kujawab pula pesan-pesan yang masuk dari teman-teman lain, juga obrolan di beberapa group. Setelah itu aku mencoba untuk tidur.

Setelah dengan susah payah aku berusaha untuk tidur, dan disaat aku mulai bisa mengatasi rasa pening dan hidung mampet dengan beberapa kali ganti posisi tidur, bunyi jedar jeder mulai memekakkan telingaku. Semakin lama semakin banyak dan bersahut-sahutan silih berganti tiada henti. Kulihat jam di handphone menunjukkan angka 11.59 PM. Ah pantas saja…sudah waktunya tahun baru. Dan aku nggak bisa tidur gara-gara kebisingan itu. Akhirnya seperti biasa aku jalan-jalan ke dunia maya daripada bengong nggak bisa tidur dan nggak bisa ngapa-ngapain.

Aku baru bisa memejamkan mata setelah sholat subuh. Beberapa jam kemudian aku bangun dan kubuatkan sop krim untuk mengganjal perut anak-anak yang pastinya sudah mulai kelaparan. Kebetulan aku punya sop krim instan dan membuatnya semudah membuat agar-agar saja. Alhamdulillah anak-anak bisa mengerti kalau mamanya sedang sakit dan nggak minta macam-macam. Saat mereka menikmati sop, aku mulai memasak menu sederhana. Setelah itu aku balik ke kamar lagi.

Padahal sudah banyak rencana yg kujadwalkan di libur tahun baru kemarin. Antara lain bikin kue seperti biasanya, bikin yoghurt, melanjutkan bikin katalog untuk buku-buku di perpustakaan pribadiku, dan tentu saja mencuci baju yang sudah menumpuk di keranjang baju kotor. Semuanya berlalu begitu saja tanpa satu pun yang bisa kukerjakan diantara sekian banyak rencana yang sudah kubuat.

And I feel the world stops turning when I’m sick. Bahan kue tetap menjadi bahan kue tanpa mampu merubah dirinya menjadi kue yang dinantikan anak-anak. Susu full cream masih saja menjadi susu full cream tanpa mampu merubah dirinya menjadi yoghurt. Begitu pula yang lainnya. Aku jadi ngebayangin andai disaat aku sakit, semua rencana masih bisa berjalan dan orang lain yang menyelesaikan semuanya. Enak banget ‘kali ya.

Pletak!!!! Nggak perlu berandai-andai deh. Khayalan memang indah tapi kenyataanlah yang ada di depan mata. Tak selayaknya aku tergolek pasrah. Aku mulai mensugesti diriku sendiri. Sehat….sehat….sehat…begitu bisikku pada diri ini. Akhirnya aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan.

I'm fine

I’m fine

Esok harinya dengan suara makin parau aku ngantor. Ya tanggal 2 Januari, itu adalah hari pertama ngantor di tahun 2015. Jalanan masih sepi, kantor pun sepi. Alhamdulillah tak ada kunjungan dari Wajib Pajak yang minta konsultasi hari itu. Tak bisa kubayangkan bagaimana suaraku yang parau ini akan melayani pertanyaan-pertanyaan Wajib Pajak seputar kewajiban perpajakannya. Hari itu rasanya waktu berlalu begitu lambat. Aku sudah ingin segera pulang dan beristirahat untuk memulihkan kondisiku.

Hari ini masih kusugesti diriku. Sehat…sehat…sehat. Belum banyak yang bisa kulakukan. Setidaknya bisa menyediakan makanan buat anak-anak agar mereka nggak kelaparan, itu sudah cukup. Alhamdulillah cucian juga udah beres. Aku masih terus mensugesti diriku, sehat…sehat…sehat. I hope I will be better tomorrow, because I don’t want the world stops turning.
***

Dian Widyaningtyas

On the bed, late at night, waiting for the dawn.
Saturday, January 3th, 2015

Another Side of My Daughter

Beberapa minggu lalu Hanifah memberitahukan kepadaku bahwa dia lolos kompetisi matematika dan harus mempersiapkan diri untuk kompetisi selanjutnya. Sebelumnya aku sudah mendengar kabar tersebut dari kakaknya yang disampaikan kepadaku sambil lalu. Rupanya kakaknya sudah tahu terlebih dahulu tentang pengumuman itu karena dia aktif di OSIS. Reaksiku agak kaget juga karena aku tidak pernah melihat Hanifah mempersiapkan kompetisi tersebut secara khusus sebelumnya. Jangankan persiapan kompetisi, belajar rutin aja dia ogah-ogahan. Kakaknya berkutat dengan buku-buku pelajaran, dia malah asyik dengan hal lain.

Lalu aku melupakan pembicaraan tersebut karena tenggelam dalam kesibukan lain dan membiarkan Hanifah mempersiapkan kompetisi itu sendiri. Anak-anak memang kudidik untuk mandiri. Tapi satu hal yang membuatku lebih mengamati Hanifah dalam diam, aku menemukan satu hal lagi yang bisa membuatnya percaya diri. Diantara saudara-saudaranya yang lain memang Hanifah paling pendiam jika di luar rumah. Semua ustadzah dan ustadz yang pernah menjadi gurunya memberikan komentar yang sama “Mbak Hanifah diam ya, Bu” Aku tak pernah mendapatkan komentar lain selain itu. Padahal di rumah semua wajar-wajar saja, pun dimataku dia adalah anak yang cerdas.

Aku sering mengamati akun-akunnya di media sosial. Banyak teman yang mengapresiasi gambar-gambar yang dia upload di media sosial. Itu bukan foto-foto selfie khas ABG melainkan gambar karya dia. Ada saat-saat tertentu dia begitu asyik menggambar pada sketch book berukuran besar dan meminjam alat-alat tulis dan gambar yang kumiliki. Gambarnya bagus menurutku. Karena aku nggak bisa menggambar seperti itu. Kemudian aku menangkap pembicaraan dia dan kakaknya beberapa kali menyebut kata-kata “poster”. Hanifah membicarakannya dengan antusias. Waktu pengambilan rapor kemarin, wali kelasnya memberitahukan kepadaku bahwa Hanifah memenangi lomba pembuatan poster. Well…agak surprise buatku mengetahui anakku yang nomor dua meminati bidang seni. Mengingat emaknya jauh banget dari hal-hal yang berhubungan dengan seni. Malah dulu waktu ada pelajaran kesenian, keterampilan dan olah raga, pengen banget rasanya melarikan diri dari kelas atau lapangan. Lha terus apa hubungannya dengan semua itu yak? Ya…kali aja itu adalah suatu gen yang diturunkan gitu. Tapi emang abahnya pinter dalam hal seni sih. Nurun dari abahnya ‘kali ya. The point is, aku menemukan satu hal lagi yang seharusnya bisa membuat Hanifah lebih percaya diri di luar rumah. Jadi ceritanya aku sedang berusaha keras membuatnya percaya diri di depan teman-temannya.

So, hari Minggu tanggal 21 Desember 2014 jam 09.00 kami, aku dan Hanifah, berangkat ke lokasi kompetisi. Sepanjang perjalanan itu kami ngobrol-ngobrol dengan santai. Sesekali kulontarkan sugesti positif kepadanya.

Kartu ifa

“Berapa orang teman dek Ifah yang ikut kompetisi?” Tanyaku.

“Banyak, Ma. Tapi yang sekelas sama dek Ifah nggak ada” Jawabnya.

“Hm….”

“Yang dari kelasnya dek Ifah cuman dek Ifah saja” Lanjut Ifah setelah menangkap kebingunganku.

“Apakah mereka nggak ikut tes babak penyisihan?” Tanyaku lagi.

“Ikut, Ma..” Which means she is the only one yang lolos babak tersebut in her class.

“Tuh kan…dek Ifah tuh cerdas. Buktinya dengan sedikit belajar saja, dek Ifah bisa sampai ke babak ini. Apalagi kalau dek Ifah mau belajar lebih serius lagi” Kataku menyemangatinya.

“Kemarin Ustadzah wali kelas juga bilang sama Mama kalau dek Ifah menang juara lomba pembuatan poster. Juara berapa, Dek?”

“Juara satu” jawabnya pendek. Kulihat dengan sudut mataku, dia sedang memperhatikan lalu lintas yang mulai padat saat itu.

“Dek Ifah hebat! Mama nyerah deh. Mama nggak bisa menggambar. Dek Ifah suka ya bikin poster?

“Suka” masih saja dia menjawabnya dengen pendek.

“Ya udah kalau dek Ifah suka tetaplah menggambar tapi jangan lupa belajarnya ya” Dia hanya menggangguk.

Kami ngobrol banyak waktu itu. Mostly sih aku mencoba membangun kepercayaan dirinya dengan kalimat-kalimat afirmasi positif. Aku berharap semoga pembicaraan kami mengena di benaknya.

***

 

Dian Widyaningtyas

Crossing the crowded road along with my first daughter

Sunday, December 21st, 2014

#latepost

 

 

 

2014 in Review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,300 times in 2014. If it were a cable car, it would take about 22 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

 

I hope this report will be better in 2015.

***

Dian Widyaningtyas

Silent morning, January 2nd, 2015