Raja Jalanan

Terakhir kali aku melakukan perjalanan keluar kota dengan mengendarai mobil sendiri adalah lebaran Idul Fitri bulan Agustus yang lalu. Waktu itu kondisi jalanan tidak terlalu ramai, baik saat mudik maupun saat balik karena pemilihan waktu yang tepat. Tidak ada yang aneh dengan kondisi jalan dan lalu lintas berbagai kendaraan yang ada. Pun ketika hari Jumat malam, dua hari yang lalu waktu aku kembali mudik ke Jombang. Jalanan banyak dipenuhi truk-truk besar sarat muatan. Maklum saja, hari sudah malam, giliran mereka yang keluar dari gudang dan melakukan distribusi berbagai barang. Itu saja, selebihnya semua biasa saja.

On the road....

On the road…

Tapi Sabtu malam saat anak-anak merengek minta jalan-jalan, rasanya ada yang aneh. Beberapa kali aku berpapasan dengan serombongan kecil pengendara roda dua yang salah satu dari mereka memegang light saber pendek berwarna merah. Sambil mengayun-ayunkan light saber, dia dengan paksa minta jalan dan diikuti pengendara motor di belakangnya. Saat kembali dari jalan-jalan itu, aku mengalami sendiri, terjebak diantara serombongan pengendara roda dua yang dari arah belakang berusaha menyalip mobilku dari kiri dan kanan dengan agresifnya. Tak ada jalan lain, aku harus mengalah dengan mereka. Ngeri aja kalau aku bersikeras tidak mau menurunkan kecepatan dan membiarkan mereka jalan duluan, kalau terjadi apa-apa, pasti korbannya tidak hanya satu pengendara motor, bisa jadi serombongan itu kena semua karena mereka bergerombol gitu memenuhi jalanan.
Rupanya gelar Raja Jalanan sekarang sudah bergeser ke rombongan kecil pengendara motor seperti itu. Terus terang aku lebih takut menghadapi mereka daripada menghadapi bus-bus luar kota dalam propinsi yang biasanya ugal-ugalan itu. Malah pas perjalanan mudik kemarin, beberapa bus dengan sabar membiarkan aku melaju tanpa ada keinginan sopir bus tersebut untuk menyalip atau sekedar membunyikan klakson sebagai tanda untuk menyuruhku minggir. Aku saja yang notabene suka ngebut kalau di jalanan, ngeri melihat kenekatan rombongan pengendara motor seperti itu. Kalau ada apa-apa pasti yang disalahkan adalah yang gede (pengendara mobil), bukan mereka. Mungkin karena itu mereka merasa mendapat angin dan meliuk-liuk seenaknya di jalanan. Ya sudahlah…sing waras ngalah.
***
Dian Widyaningtyas
Home sweet home,
Sunday night, October 11th, 2015
Advertisements

Having Fun di Jombang

Story about us when we spent week end in my home town….

Just to make you happy, kids. Just to make you all happy…

Aisyah in action


IMG_20151010_211248

IMG_20151010_211148

IMG_20151010_211146

IMG_20151010_211134

IMG_20151010_211107

IMG_20151010_210825

IMG_20151010_210803

IMG_20151010_210724

IMG_20151010_210646

IMG_20151010_210638

***

Dian Widyaningtyas

Sunday Afternoon, just before we go back to Sidoarjo

October 11th, 2015

Cerita yang Belum Usai

Bercerita sebenarnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Tapi ada kalanya cerita tersebut adalah cerita yang bisa membuka luka lama. Ceritaku tentang perjalananku dan anak-anak ke Kalimantan Selatan pada bulan Agustus lalu, yang kutulis secara berseri adalah salah satunya. Masih banyak episode yang ingin kutuangkan dalam tulisan dan kuupload di blog pribadiku yang berkaitan dengan perjalananku tersebut.

Cerita yang Belum Usai

Cerita yang Belum Usai

Bagi orang lain mungkin itu adalah cerita biasa.Tapi tidak bagi penulisnya. Menulis cerita     tersebut nyatanya melibatkan semua emosi yang ada. Tak jarang aku menuliskannya dengan mata berkaca-kaca. Itulah kenapa cerita itu belum usai. Mungkin saja cerita itu tak akan pernah usai kuceritakan. Berminggu-minggu setelah kutulis cerita itu, aku masih saja mencoba menghalau rasa sedih yang menyeruak dari dasar hati. Pun kucoba tenggelam dalam kesibukan lain. Tapi ketika kubuka deretan foto-foto yang kuabadikan di sana, agar bisa kutuangkan dalam tulisan, detik itu juga rasa sedih hadir lagi. Dan karena aku tidak mau larut dalam kesedihan maka foto-foto itu akhirnya kumasukkan dalam sebuah folder agar tak kubuka tanpa sengaja. Foto-foto itu terlalu sedih untuk dikenang namun terlalu indah untuk dilupakan.

Ternyata menceritakan kembali hal-hal yang berhubungan dengan luka hati, membutuhkan ketegaran lebih dari yang aku kira sebelumnya. Tapi sebagai bagian dari perjalanan hidupku yang kelak akan dibaca anak-anak, aku harus menyelesaikan cerita yang belum usai tersebut, entah esok atau lusa atau ketika tahun telah berganti.

***

Dian Widyaningtyas for Journey of My Life

Blue as the cloth I’m wearing today…..

At SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo waiting for my daughter doing her math competition.

Sunday, December 21st, 2014

Journey To South Kalimantan : Sleepless Night In Kotabaru

Jelang Sabtu tanggal 9 Agustus 2014…

Larut malam sudah hendak berganti hari ketika kami sampai di rumah mama mertua. Semua keluarga masih terjaga dan menyambut kami dengan suka cita. Anak-anak pun tak kalah senangnya bisa berkunjung ke rumah neneknya. Tidak kudapati raut kelelahan di wajah-wajah polos mereka. Dekat dengan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan abahnya membuat anak-anak merasa dekat dengan abahnya. Dari situlah kerinduan mereka akan sosok abahnya bisa terobati. Setahun lebih mendampingi mereka dan berusaha menyembuhkan rasa kehilangan mereka  membuatku sangat memahami apa yang ada di hati mereka. Dan perjalanan ke Kalimantan merupakan upayaku menyembuhkan rasa kehilangan mereka selain untuk silaturahmi dan menghadiri pernikahan keponakan.

Obrolan kerinduan bergulir diantara kami dan tuan rumah. Tak terasa waktu sudah mulai merambati dini hari. Kami harus istirahat walau raga masih ingin merenda cerita. Masih ada hari esok dimana kami bisa menyambung cerita yang seolah tiada habisnya. Seperti biasa mama mertua sudah menyediakan kamar pribadinya untuk kami tempati malam itu dan malam-malam selanjutnya selama kami menginap di sana. Kami pun membawa kaki melangkah ke tempat peraduan.

Tidak ada yang berubah dengan kamar pribadi mama mertua. Masih seperti dulu ketika terakhir kali kami; aku, belahan jiwa dan dua anak kami berkunjung ke sana. Ya…masih seperti dulu, kecuali satu hal. Rupanya mama mertua memajang foto pernikahan kami di kamar pribadinya. Entah mulai kapan foto itu ada di sana. Seingatku dulu belum ada. Mungkin sejak belahan jiwa pergi. Mungkin mama mertua mengobati rasa rindunya dengan memajang foto kami di kamar pribadinya. Foto itu membuat hatiku makin terasa hampa. Aku belum sanggup untuk memandangi foto belahan jiwa, apalagi foto pernikahan kami. Aku lebih memilih untuk menyimpan foto-foto beliau agar tak terlihat oleh mata ini. Tapi mungkin inilah saatnya aku harus bisa menguatkan hati ini untuk bisa memandangi foto itu selama kami disana.

Foto pernikahan

Foto Pernikahan Kami

Sekian menit berlalu, tak kunjung bisa kupejamkan mata ini. Pikiranku mengembara kemana-mana. Foto itu membuatku tersesat ke masa lalu. Menit berganti jam. Dan dini hari sudah mulai menjemput pagi. Ingatan ini masih enggan beranjak dari masa lalu. Ketelusuri satu persatu jalanan silam. Kusinggahi setiap sudutnya. Satu sudut menuntunku untuk beringsut ke sudut lainnya. Semua yang ada di sana nampak begitu jelas. Seolah aku sedang menyaksikan sebuah film dokumenter yang kubintangi sendiri. Masih tertancap dengan kuat setiap detil adegannya di kepala ini. Jalanan tiba-tiba menjadi samar ketika aku hendak menjelajahi sudut lainnya. Hingga tak bisa kutahan lagi luruhnya air mata.

 Sometimes I wonder why I spend
The lonely nights dreaming of a song
The melody haunts my reverie
And I am once again with you…

#Stardust lyric sung by Nat King Cole #Original Soundtrack Sleepless Night In Seattle 

***

Dian Widyaningtyas

Ah but that was long ago…
Now my consolation is in the stardust of a song

Monday, October 27, 2014

Journey To South Kalimantan : The Long And Winding Road

Mobil Innova hitam dengan lincah meninggalkan Bandara Syamsudin Noor. Tidak seperti suasana di Jawa, khususnya Surabaya yang tiap hari kuakrabi, jalanan di sana begitu sepi. Tak heran mobil yang akan membawa kami ke Kotabaru begitu leluasa melaju dengan kencang. Kami singgah di sebuah warung makan yang luas dengan bangunan sederhana. Aku ingin sekali merasakan masakan khas Kalimantan Selatan.

RM Melati Mekar

RM Melati Mekar

Menunggu pesanan

Menunggu pesanan

Ais dan teh hangat

Ais dan teh hangat

Fauzan yang kedinginan

Fauzan yang kedinginan

Bangunan Warung tersebut terbuat dari konstruksi non permanen dengan beratapkan daun rumbia. Keberadaan hutan di sebelah belakang menjadikan udara disekitarnya menjadi segar. Apalagi waktu itu hujan baru saja mengguyur kawasan tersebut. Warung tersebut menyajikan aneka ikan bakar lengkap dengan sambal dan sayur bening khas Kalimantan Selatan yang terdiri dari bayam dan labu kuning.

Salah satu menu khas Kalimantan Selatan

Salah satu menu khas Kalimantan Selatan

Setelah satu jam lebih kami singgah untuk makan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Masih sangat panjang perjalanan yang akan kami tempuh. Kotabaru adalah nama sebuah Kabupaten yang terletak di Pulau Laut, sebuah pulau kecil yang letaknya tentu saja terpisah dari Pulau Kalimantan yang besar itu. Untuk mencapai Kotabaru, kami harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih dua belas jam. Sebenarnya perjalanan panjang itu bisa ditempuh hanya dalam waktu sejam saja dengan menggunakan pesawat kecil. Tapi aku ingin menapak tilas perjalananku sebelumnya, semasa belahan jiwa masih ada.

Kami harus melewati dua kabupaten untuk sampai ke Kotabaru. Sebelumnya kami melewati Kabupaten Tanah Laut dengan Pelaihari sebagai ibukotanya.  Sebenarnya suasana yang sangat berbeda dengan di Jawa sudah kurasakan sejak aku keluar dari Bandara Syamsudin Noor. Tapi menginjak Kabupaten Tanah Laut aku benar-benar merasakan bahwa kaki ini sudah jauh meninggalkan Pulau Jawa. Bangunan-bangunan yang kami temui di sepanjang jalan mempertajam rasa itu. Bangunan di Kalimantan Selatan umumnya terbuat dari kayu ulin baik lantai, dinding, maupun atapnya. Tapi sekarang ini banyak pemilik rumah yang melapisi lantai kayu dengan keramik. Mungkin agar lebih mudah dibersihkan atau lebih indah dari segi estetika.

Pelaihari

Pelaihari

masih di pelaihari

Masih di pelaihari

bangunan khas di kalimantan

Bangunan khas di Kalimantan

Hari sudah malam ketika kami memasuki Kabupaten Tanah Bumbu yang beribukota di Batulicin. Kami singgah untuk makan malam disebuah warung makan. Dari logatnya aku bisa mengenali kalau penjual dan pelayan-pelayan di warung itu yang keseluruhannya lelaki berasal dari Jawa. Menu yang disajikan aneka ikan bakar, ayam bakar, nasi putih, nasi uduk, sambal, dan lalapan. Kami tidak berlama-lama di warung tersebut. Kami harus segera sampai di Pelabuah Penyeberangan Batulicin untuk kemudian menyeberang ke Pulau Laut. Aku pernah menginjakkan kaki di Pelabuhan Batulicin beberapa tahun silam. Waktu itu aku dan belahan jiwa berangkat ke Kotabaru dengan menggunakan kapal cepat Serayu dan turun di Batulicin.

Sirine terdengar meraung panjang sebagai isyarat kapal akan bertolak ketika kami sampai di gerbang pelabuhan. Setelah membayar retribusi, sopir segera melaju kencang mengejar kapal yang sudah hendak diberangkatkan itu. Perjalanan dari pelabuhan Batulicin ke Pulau Laut ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit. Suasana sekitar sudah sangat gelap sehingga kami tidak bisa melihat pemandangan di sekitar pelabuhan.

kapal penyeberangan

kapal penyeberangan

Empat Puluh lima menit berlalu tanpa terasa. Akhirnya kami sampai di Pulau Laut. Perjalanan kami tidak berhenti sampai disitu. Dibutuhkan waktu sejam lebih untuk bisa sampai ke rumah mama mertua. Jalanan begitu gelap dan hanya mengandalkan penerangan dari lampu mobil saja. Bersyukur sekali kakak ipar mengirim sopir yang sangat piawai dan mengusai medan untuk menjemput aku dan anak-anak. Dengan suasana jalan yang sangat gelap, medan yang berkelok-kelok, belum lagi jalanan yang naik tajam dan turunan yang curam, dengan kecepatan mobil yang digeber lebih dari sewajarnya agar bisa segera sampai tujuan dengan selamat, tentu dibutuhkan sopir yang sangat mengusai mobil dan medannya sekaligus. Sedikit saja salah belok, kami bisa terperosok keluar dari jalur karena jalannya sempit.

Memasuki Pulau Laut, hati ini makin tak karuan. Entahlah tak bisa kugambarkan perasaanku. Sudah sejak siang tadi, ketika kami keluar dari bandara Syamsudin Noor, ada rasa, entah apa, yang beberapa kali mengusik hatiku. Aku jadi sering membayangkan andai belahan jiwa ada bersama kami. Sungguh perjalanan yang melelahkan raga bagiku. Tapi jiwa ini tak kalah lelahnya menjelajahi masa yang telah lalu tapi tak pernah bisa kulupakan.

The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I’ve seen that road before
It always leads me here
Lead me to your door

The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day
Why leave me standing here?
Let me know the way

Many times I’ve been alone
And many times I’ve cried
Anyway you’ll never know
The many ways I’ve tried

And still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long long time ago
Don’t leave me waiting here
Lead me to your door

#The Long And Winding Road Lyric from The Beatles

***

Dian Widyaningtyas

Many times I’ve been alone and many times I’ve cried…

Friday, October 24, 2014

Journey To South Kalimantan : The Day When We Started It

Ada beberapa catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan dalam blog pribadiku. Salah satunya adalah perjalanan ke Kalimantan Selatan di bulan Agustus lalu bersama anak-anak. Cerita tentang perjalanan ini akan kutulis secara bersambung.

Kalimantan Selatan, sebuah kota yang sangat melekat di hatiku walau baru dua kali aku sempat datang ke sana., itupun dalam rentang waktu yang cukup panjang. Setelah sekian tahun, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ke tanah kelahiran belahan jiwa. Kali ini aku pergi bersama anak-anak. Sudah beberapa hari kupersiapkan sebuah koper super besar untuk menampung kebutuhan kami semua. Biar ringkas maka kuputuskan untuk membawa sebuah koper super besar saja yang nantinya bisa kumasukkan ke bagasi pesawat sehingga aku bisa menjaga anak-anak dengan leluasa, maklum saja anak-anak biasanya super aktif.

Jumat pagi tanggal 8 Agustus 2014…..

Pagi itu aku agak bad mood karena baru kusadari salah satu gadgetku raib entah kemana. Insiden yang sempat bikin aku sedikit kelabakan mengingat data-data pribadi yang tersimpan di dalamnya. Akhirnya…ya sudahlah relakan saja. Berharap gadget tersebut hanya hilang di rumah saja.Pesawat citilink yang akan membawa kami ke Banjarmasin dijadwalan berangkat jam 11-an. Jam 9 lebih sedikit kami sudah berada di dalam taksi yang siap meluncur ke Juanda. Sekian menit berikutnya kami sudah sampai di Juanda. Setelah proses check in selesai, kami langsung masuk ke ruang tunggu. Mulai kutemui aura Kalimantan disana. Beberapa orang di sebelahku bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Banjar yang sudah bisa kupahami dengan baik sejak aku bersuamikan orang Banjar. Anak-anak begitu antusias karena untuk anak nomor tiga dan empat, ini pertama kalinya mereka berkunjung ke tanah kelahiran abahnya. Pertama kali pula mereka naik pesawat.

Abaikan  yang berbaju merah itu....

Abaikan yang berbaju merah itu….

Alhamdulillah pesawat yang kami naiki on time dan kami menginjakkan kaki di Bandara Syamsudin Noor sekitar jam 13 karena ada selisih satu jam antara Banjarmasin dan Sidoarjo. Ada keponakan yang sudah menjemput di bandara. Sedangkan kami masih harus menunggu koper yang ternyata makan waktu lumayan lama. Aku tak ingat lagi bagaimana bandara Syamsudin Noor waktu pertama kali aku kesana sekian tahun sebelumnya. Bandara Syamsudin Noor tentu saja tidak sebesar Bandara Juanda. Segarnya bau tanah yang ditingkahi rintik hujan menyambut kedatangan kami di Banjarmasin siang itu. Udaranya yang segar mampu mengalihkan kegalauan hatiku yang tiba-tiba serasa hampa. Segera kami melanjutkan perjalanan darat menuju ke Kotabaru.

***

Dian Widyaningtyas

Biarkan kukenang setiap jengkal masa lalu yang pernah kulalui

Friday, October 24, 2014

Journey To Gombong : Logawa, The First Time Ever I Met You

Setelah sekian kali bertanya pada diri sendiri “Cukupkah nyali ini untuk melakukan perjalanan seorang diri ke sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya?” Dan jawabannya adalah “Ya aku berani”, akhirnya aku nyari tiket lewat layanan penjualan tiket kereta api online. Ada dua pilihan kereta, yang satu nyampai tujuan sore hari dan yang satunya lagi nyampai tujuan dinihari. Pilihan terakhir tentu saja kurang aman untuk diriku yang harus melakukan perjalanan seorang diri. Akhirnya kuputuskan untuk naik Logawa. Tiketnya murah meriah ternyata. Cuman 50 ribu rupiah. Tapi karena transaksiku menggunakan kartu kredit, aku harus membayar biaya administrasi sebesar 22 ribu rupiah. It’s ok. Selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan. Aku malas ribetnya kalau harus booking tiket kemudian membayarnya ke ATM. Jadwal keberangkatan hari Sabtu pagi tanggal 27 September 2014. Berangkat dari stasiun Surabaya Gubeng. Janjian sama teman yang juga hendak melakukan perjalanan yang sama tapi dengan kereta api yang berbeda.

Selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan

Kurang dari jam 9 pagi kami sudah sampai di stasiun. Aku harus mencetak tiketku terlebih dahulu. Agak disayangkan sebenarnya. Dengan sistem penjualan tiket online yang sudah lumayan bagus, yang sudah pula didukung dengan banyak pilihan pembayaran, ternyata aku masih harus mencetak tiketku. Kupikir aku tinggal nunjukin file PDF yang berisi tiket yang sudah dikirim ke alamat emailku pada saat aku membelinya secara online, seperti yang bisa kita lakukan saat naik pesawat. Ternyata ticketing kereta api belum sampai pada tahap tersebut. Semoga tak lama lagi sudah nggak perlu mencetak tiket lagi bagi yang membeli tiket secara online.

image

image

Sekira jam 9 pagi kereta Logawa dari Jember masuk ke stasiun Surabaya Gubeng. Kereta masih harus lansir sebelum calon penumpang dipersilahkan masuk. so, aku masih asyik dengan gadgetku di ruang tunggu. Penumpang dilarang naik dulu, begitu pengumuman yang kudengar dari pengeras suara. Aku masih sempat jalan ke supermarket yang berada di area Stasiun, dan membeli nasi kuning untuk makan siang. Jam 9.30 ternyata ada panggilan terakhir untuk penumpang Logawa. Lha..kapan dibolehin masuk? Bukankah dari tadi nggak boleh naik dulu? Akhirnya setengah berlari aku menuju gerbong kereta setelah lolos pemeriksaan tiket di pintu masuk jalur 2. Takut keretanya keburu jalan, aku langsung naik ke gerbong terdekat. Benar saja, beberapa saat setelah aku naik ke gerbong terdekat, kereta perlahan mulai bergerak meninggalkan stasiun Surabaya Gubeng tepat jam 9.40. Sedangkan kereta Pasundan yang dinaiki teman-teman yang seharusnya dijadwalkan berangka jam 9.10 belum bisa berangkat karena mengalami sedikit perbaikan di Stasiun Kota.

Setelah berjalan melewati beberapa gerbong, akhirnya sampai juga di gerbong 4 dimana seharusnya aku duduk. Ya aku memilih gerbong 4 nomor 10 A. Sedikit kecewa setelah kutahu bahwa nomor 10 A ternyata sebuah kursi kapasitas tiga orang. Padahal waktu beli di internet, nomor 10 A merupakan kursi dengan kapasitas dua orang. Makin jengkel aja saat disitu sudah ada seorang lelaki yang duduk di dekat jendela. Seharusnya aku yang duduk disitu. Demi kenyamanan, maka kuminta dia menggeser duduknya karena yang dekat jendela itu kursiku. Cieeee..sampai segitunya sih. Hehehe terpaksa sedikit galak setelah tahu tempat duduknya kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Tempat duduknya memaksaku duduk dengan posisi tegak. Di depanku sudah ada seorang ibu dengan dua anaknya. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka bukan asli Jawa. Sepertinya Si Ibu seorang agen asuransi karena aku melihat beberapa form aplikasi sebuah perusahaan asuransi ditangannya. Sedikit lega deh ada Si ibu beserta anak-anaknya.

image

Jam 10.50 kereta Logawa sampai di stasiun Jombang. Baru sekitar sejam lebih dikit kereta meninggalkan stasiun Surabaya Gubeng, tapi jangan ditanya bagaimana rasanya punggungku. Udah pegal-pegal parah nih. Andai saja kereta satunya, yang merupakan kereta bisnis, nyampai tujuan sore hari, tentu aku lebih memilih kereta bisni. Tersebut untuk menghindari punggung pegal-pegal gini. Hmm….stasiun Jombang, berapa puluh tahun yang lalu aku pernah begitu akrab dengan stasiun itu. Saat aku masih menjadi mahasiswa di STAN, dan saat aku baru melahirkan anak pertama dan terpaksa pulang kampung dan tiap hari pulang pergi Jombang – Surabaya saat cuti melahirkan sudah habis.

Lepas stasiun Jombang, jalur rel kereta api sejajar dengan jalur jalan raya. Jalan itu dulu adalah jalurku berangkat dan pulang ke sekolah tiap hari. Kadang naik bus, kadang naik angkutan umum, dan kadang pula naik motor dengan kecepatan yang nggak pernah bisa dibawah 60 km/jam.

image

Dari jendela kereta Logawa aku melihat seorang gadis berseragam putih abu-abu mengendarai vespa super 150 warna biru. Gadis itu melaju dengan kencangnya di sepanjang jalan propinsi yang lumayan padat dengan bus antar kota. Di kepalanya bertengger helm proyek warna kuning menyala yang sebenarnya tidak layak sama sekali untuk keselamatan berkendara di jalan raya. Ah..ijinkan aku menyudahi tulisan ini dan mengenang kembali sekeping masa lalu yang pernah kusinggahi dulu.

Dian Widyaningtyas
Mengayun bersama Logawa, saturday, September 27th, 2014

Posted from WordPress for BlackBerry 10