Journey To South Kalimantan : The Long And Winding Road

Mobil Innova hitam dengan lincah meninggalkan Bandara Syamsudin Noor. Tidak seperti suasana di Jawa, khususnya Surabaya yang tiap hari kuakrabi, jalanan di sana begitu sepi. Tak heran mobil yang akan membawa kami ke Kotabaru begitu leluasa melaju dengan kencang. Kami singgah di sebuah warung makan yang luas dengan bangunan sederhana. Aku ingin sekali merasakan masakan khas Kalimantan Selatan.

RM Melati Mekar

RM Melati Mekar

Menunggu pesanan

Menunggu pesanan

Ais dan teh hangat

Ais dan teh hangat

Fauzan yang kedinginan

Fauzan yang kedinginan

Bangunan Warung tersebut terbuat dari konstruksi non permanen dengan beratapkan daun rumbia. Keberadaan hutan di sebelah belakang menjadikan udara disekitarnya menjadi segar. Apalagi waktu itu hujan baru saja mengguyur kawasan tersebut. Warung tersebut menyajikan aneka ikan bakar lengkap dengan sambal dan sayur bening khas Kalimantan Selatan yang terdiri dari bayam dan labu kuning.

Salah satu menu khas Kalimantan Selatan

Salah satu menu khas Kalimantan Selatan

Setelah satu jam lebih kami singgah untuk makan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Masih sangat panjang perjalanan yang akan kami tempuh. Kotabaru adalah nama sebuah Kabupaten yang terletak di Pulau Laut, sebuah pulau kecil yang letaknya tentu saja terpisah dari Pulau Kalimantan yang besar itu. Untuk mencapai Kotabaru, kami harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih dua belas jam. Sebenarnya perjalanan panjang itu bisa ditempuh hanya dalam waktu sejam saja dengan menggunakan pesawat kecil. Tapi aku ingin menapak tilas perjalananku sebelumnya, semasa belahan jiwa masih ada.

Kami harus melewati dua kabupaten untuk sampai ke Kotabaru. Sebelumnya kami melewati Kabupaten Tanah Laut dengan Pelaihari sebagai ibukotanya.  Sebenarnya suasana yang sangat berbeda dengan di Jawa sudah kurasakan sejak aku keluar dari Bandara Syamsudin Noor. Tapi menginjak Kabupaten Tanah Laut aku benar-benar merasakan bahwa kaki ini sudah jauh meninggalkan Pulau Jawa. Bangunan-bangunan yang kami temui di sepanjang jalan mempertajam rasa itu. Bangunan di Kalimantan Selatan umumnya terbuat dari kayu ulin baik lantai, dinding, maupun atapnya. Tapi sekarang ini banyak pemilik rumah yang melapisi lantai kayu dengan keramik. Mungkin agar lebih mudah dibersihkan atau lebih indah dari segi estetika.

Pelaihari

Pelaihari

masih di pelaihari

Masih di pelaihari

bangunan khas di kalimantan

Bangunan khas di Kalimantan

Hari sudah malam ketika kami memasuki Kabupaten Tanah Bumbu yang beribukota di Batulicin. Kami singgah untuk makan malam disebuah warung makan. Dari logatnya aku bisa mengenali kalau penjual dan pelayan-pelayan di warung itu yang keseluruhannya lelaki berasal dari Jawa. Menu yang disajikan aneka ikan bakar, ayam bakar, nasi putih, nasi uduk, sambal, dan lalapan. Kami tidak berlama-lama di warung tersebut. Kami harus segera sampai di Pelabuah Penyeberangan Batulicin untuk kemudian menyeberang ke Pulau Laut. Aku pernah menginjakkan kaki di Pelabuhan Batulicin beberapa tahun silam. Waktu itu aku dan belahan jiwa berangkat ke Kotabaru dengan menggunakan kapal cepat Serayu dan turun di Batulicin.

Sirine terdengar meraung panjang sebagai isyarat kapal akan bertolak ketika kami sampai di gerbang pelabuhan. Setelah membayar retribusi, sopir segera melaju kencang mengejar kapal yang sudah hendak diberangkatkan itu. Perjalanan dari pelabuhan Batulicin ke Pulau Laut ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit. Suasana sekitar sudah sangat gelap sehingga kami tidak bisa melihat pemandangan di sekitar pelabuhan.

kapal penyeberangan

kapal penyeberangan

Empat Puluh lima menit berlalu tanpa terasa. Akhirnya kami sampai di Pulau Laut. Perjalanan kami tidak berhenti sampai disitu. Dibutuhkan waktu sejam lebih untuk bisa sampai ke rumah mama mertua. Jalanan begitu gelap dan hanya mengandalkan penerangan dari lampu mobil saja. Bersyukur sekali kakak ipar mengirim sopir yang sangat piawai dan mengusai medan untuk menjemput aku dan anak-anak. Dengan suasana jalan yang sangat gelap, medan yang berkelok-kelok, belum lagi jalanan yang naik tajam dan turunan yang curam, dengan kecepatan mobil yang digeber lebih dari sewajarnya agar bisa segera sampai tujuan dengan selamat, tentu dibutuhkan sopir yang sangat mengusai mobil dan medannya sekaligus. Sedikit saja salah belok, kami bisa terperosok keluar dari jalur karena jalannya sempit.

Memasuki Pulau Laut, hati ini makin tak karuan. Entahlah tak bisa kugambarkan perasaanku. Sudah sejak siang tadi, ketika kami keluar dari bandara Syamsudin Noor, ada rasa, entah apa, yang beberapa kali mengusik hatiku. Aku jadi sering membayangkan andai belahan jiwa ada bersama kami. Sungguh perjalanan yang melelahkan raga bagiku. Tapi jiwa ini tak kalah lelahnya menjelajahi masa yang telah lalu tapi tak pernah bisa kulupakan.

The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I’ve seen that road before
It always leads me here
Lead me to your door

The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day
Why leave me standing here?
Let me know the way

Many times I’ve been alone
And many times I’ve cried
Anyway you’ll never know
The many ways I’ve tried

And still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long long time ago
Don’t leave me waiting here
Lead me to your door

#The Long And Winding Road Lyric from The Beatles

***

Dian Widyaningtyas

Many times I’ve been alone and many times I’ve cried…

Friday, October 24, 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s