Journey To Gombong : Logawa, The First Time Ever I Met You

Setelah sekian kali bertanya pada diri sendiri “Cukupkah nyali ini untuk melakukan perjalanan seorang diri ke sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya?” Dan jawabannya adalah “Ya aku berani”, akhirnya aku nyari tiket lewat layanan penjualan tiket kereta api online. Ada dua pilihan kereta, yang satu nyampai tujuan sore hari dan yang satunya lagi nyampai tujuan dinihari. Pilihan terakhir tentu saja kurang aman untuk diriku yang harus melakukan perjalanan seorang diri. Akhirnya kuputuskan untuk naik Logawa. Tiketnya murah meriah ternyata. Cuman 50 ribu rupiah. Tapi karena transaksiku menggunakan kartu kredit, aku harus membayar biaya administrasi sebesar 22 ribu rupiah. It’s ok. Selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan. Aku malas ribetnya kalau harus booking tiket kemudian membayarnya ke ATM. Jadwal keberangkatan hari Sabtu pagi tanggal 27 September 2014. Berangkat dari stasiun Surabaya Gubeng. Janjian sama teman yang juga hendak melakukan perjalanan yang sama tapi dengan kereta api yang berbeda.

Selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan

Kurang dari jam 9 pagi kami sudah sampai di stasiun. Aku harus mencetak tiketku terlebih dahulu. Agak disayangkan sebenarnya. Dengan sistem penjualan tiket online yang sudah lumayan bagus, yang sudah pula didukung dengan banyak pilihan pembayaran, ternyata aku masih harus mencetak tiketku. Kupikir aku tinggal nunjukin file PDF yang berisi tiket yang sudah dikirim ke alamat emailku pada saat aku membelinya secara online, seperti yang bisa kita lakukan saat naik pesawat. Ternyata ticketing kereta api belum sampai pada tahap tersebut. Semoga tak lama lagi sudah nggak perlu mencetak tiket lagi bagi yang membeli tiket secara online.

image

image

Sekira jam 9 pagi kereta Logawa dari Jember masuk ke stasiun Surabaya Gubeng. Kereta masih harus lansir sebelum calon penumpang dipersilahkan masuk. so, aku masih asyik dengan gadgetku di ruang tunggu. Penumpang dilarang naik dulu, begitu pengumuman yang kudengar dari pengeras suara. Aku masih sempat jalan ke supermarket yang berada di area Stasiun, dan membeli nasi kuning untuk makan siang. Jam 9.30 ternyata ada panggilan terakhir untuk penumpang Logawa. Lha..kapan dibolehin masuk? Bukankah dari tadi nggak boleh naik dulu? Akhirnya setengah berlari aku menuju gerbong kereta setelah lolos pemeriksaan tiket di pintu masuk jalur 2. Takut keretanya keburu jalan, aku langsung naik ke gerbong terdekat. Benar saja, beberapa saat setelah aku naik ke gerbong terdekat, kereta perlahan mulai bergerak meninggalkan stasiun Surabaya Gubeng tepat jam 9.40. Sedangkan kereta Pasundan yang dinaiki teman-teman yang seharusnya dijadwalkan berangka jam 9.10 belum bisa berangkat karena mengalami sedikit perbaikan di Stasiun Kota.

Setelah berjalan melewati beberapa gerbong, akhirnya sampai juga di gerbong 4 dimana seharusnya aku duduk. Ya aku memilih gerbong 4 nomor 10 A. Sedikit kecewa setelah kutahu bahwa nomor 10 A ternyata sebuah kursi kapasitas tiga orang. Padahal waktu beli di internet, nomor 10 A merupakan kursi dengan kapasitas dua orang. Makin jengkel aja saat disitu sudah ada seorang lelaki yang duduk di dekat jendela. Seharusnya aku yang duduk disitu. Demi kenyamanan, maka kuminta dia menggeser duduknya karena yang dekat jendela itu kursiku. Cieeee..sampai segitunya sih. Hehehe terpaksa sedikit galak setelah tahu tempat duduknya kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Tempat duduknya memaksaku duduk dengan posisi tegak. Di depanku sudah ada seorang ibu dengan dua anaknya. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka bukan asli Jawa. Sepertinya Si Ibu seorang agen asuransi karena aku melihat beberapa form aplikasi sebuah perusahaan asuransi ditangannya. Sedikit lega deh ada Si ibu beserta anak-anaknya.

image

Jam 10.50 kereta Logawa sampai di stasiun Jombang. Baru sekitar sejam lebih dikit kereta meninggalkan stasiun Surabaya Gubeng, tapi jangan ditanya bagaimana rasanya punggungku. Udah pegal-pegal parah nih. Andai saja kereta satunya, yang merupakan kereta bisnis, nyampai tujuan sore hari, tentu aku lebih memilih kereta bisni. Tersebut untuk menghindari punggung pegal-pegal gini. Hmm….stasiun Jombang, berapa puluh tahun yang lalu aku pernah begitu akrab dengan stasiun itu. Saat aku masih menjadi mahasiswa di STAN, dan saat aku baru melahirkan anak pertama dan terpaksa pulang kampung dan tiap hari pulang pergi Jombang – Surabaya saat cuti melahirkan sudah habis.

Lepas stasiun Jombang, jalur rel kereta api sejajar dengan jalur jalan raya. Jalan itu dulu adalah jalurku berangkat dan pulang ke sekolah tiap hari. Kadang naik bus, kadang naik angkutan umum, dan kadang pula naik motor dengan kecepatan yang nggak pernah bisa dibawah 60 km/jam.

image

Dari jendela kereta Logawa aku melihat seorang gadis berseragam putih abu-abu mengendarai vespa super 150 warna biru. Gadis itu melaju dengan kencangnya di sepanjang jalan propinsi yang lumayan padat dengan bus antar kota. Di kepalanya bertengger helm proyek warna kuning menyala yang sebenarnya tidak layak sama sekali untuk keselamatan berkendara di jalan raya. Ah..ijinkan aku menyudahi tulisan ini dan mengenang kembali sekeping masa lalu yang pernah kusinggahi dulu.

Dian Widyaningtyas
Mengayun bersama Logawa, saturday, September 27th, 2014

Posted from WordPress for BlackBerry 10

Advertisements