Tentang Healing

Beberapa kali menemukan postingan atau artikel yang mempermasalahkan penggunaan kata healing di kalangan netizen akhir-akhir ini. Konon katanya penggunaan kata healing kurang tepat untuk kegiatan yang sebenarnya lebih tepat disebut rekreasi atau refreshing.

Aku sih woles aja, suka-suka orang mau nyebut healing, refreshing, ato apa. Kalo sebutan healing dikaitkan dengan damagenya jiwa, toh kita tak pernah tahu se-demaga apa mereka. Kalian tentu tak bisa tahu sedamage apa jiwaku kalau aku pandai menutupinya, kan!?

Aku kadang menggunakan kata tersebut juga. Tentu saja sarana “healing” tiap orang berbeda. Aku nggak perlu jauh-jauh mengunjungi tempat indah, atau masuk ke mall terkenal, atau menikmati makanan di fancy restaurant. Healingku cukup berkhalwat dengan kopi dan coffee gears…

Naiklah Tanpa Menjatuhkan

Suatu hari, pencarian referensi sebuah coffee gear mengantarkan aku pada salah satu chanel youtube yang mereview coffee gear yang ingin kubeli. Sepanjang durasi tayang, dia nyinyirin chanel-chanel youtube lain. Adaaaaa aja yang dinyinyirin, dari soal gearnya yang endorase-an sehingga nggak obyektif sampai proses bikin kopinya yang nggak ditunjukin secara detil dan tiba-tiba dah jadi aja, sehingga dia meragukan apakah itu beneran hasil dari gear tersebut ato editan.

Padahal chanel-chanel youtube yang dia nyinyirin itu tak pernah sekali pun nyinyirin dia atau chanel youtube lain. Mereka fokus pada gear yang mereka review. Heran aja, kok ada ya orang yang punya mental kek gitu.

Reminder to myself….
“Majulah tanpa menyingkirkan orang lain. Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain”

Aroma Kucing

Mungkin kalo seseorang sering berinteraksi dengan kucing, badannya akan tercium aroma tertentu bagi indera penciuman bangsa kucing. Sehingga mereka gampang sekali akrab bahkan langsung menaruh trust walo sebelumnya kucing tersebut jutek ke semua orang asing.

Suatu malam pas lagi nyari kopi kekinian, sembari menunggu pesananku diproses, aku menghampiri seekor kucing yang sebelummya kulihat sedang gegoleran di salah satu tempat yang disediakan untuk pengunjung waktu aku datang. Ternyata kucingnya serem. Dia langsung pasang style waspada mode on. Itu cakarnya pada keluar semua. Sempat ciut nyali juga ngedeketinnya. Biasanya klo kucing totally liar, dan nggak pernah dibaiki manusia, ya begitu tuh reaksi awal klo dideketin.

Akhirnya aku cuman duduk aja deket dia. Cakarnya serta merta keluar tapi dia nggak hishing. Kupanggil, “push….come” Sambil tanganku kutepuk ke pangkuanku. Berharap dia mendekat. Eh dia mendekat ke tanganku. Akhirnya kuelus pelang-pelan kepala dan lehernya. Rada takut juga, namanya juga kucing unknown dan rada beringas. Takut ada rabies wkwkwk. Eh btw kucing bisa bawa rabies ato gak sih? Setelah itu, kemana tanganku bergerak, dia ikutin terus, dia tempelin kepalanya ke tanganku. Dia tempelin badannya ke badanku. Nyederin kepala, trus berdiri dan meluk-meluk.

Itu nggak sekali dua kali terjadi sih. Sering. Bahkan klo kucingnya cute, sekali dipanggil, langsung deh nempel. Bahkan malah sampe kucingnya nggak mau ditinggal. Sudah naik mobil, mobil dah jalan, kucingnya masih ngejar juga…

A Wish for 2021

Jika ditanya apa yang paling kuinginkan di tahun 2021 ini? inginku sederhana saja. Mengingat kurun waktu 2019-2020 adalah kondisi terburuk kesehatanku, terutama tahun 2019 dimana aku harus menjalani rawat inap di rumah sakit sampai dua kali, aku hanya ingin sehat. Sehat juga buat anak-anak.

Sehat terus ya, girls

Then aku juga ingin makin bahagia bersama orang-orang yang kusayangi. Apa sih yang kita inginkan selain nikmat sehat dan kebahagiaan? I’ve been so happy since someone has came to my life. I wish this happiness will last forever.

Sehat terus ya, boys

And….mulai tahun 2021 ini pengen rajin ngeblog lagi. Kegiatan yang begitu sangat kusenangi dulu. dan menjadi tersisi karena kesibukan lain. Padahal dulu itu writing for healing. berasa ada yang kurang sejak nggak rajin ngeblog. Mungkin karena aku kehilangan sisi healing tadi.

Semoga…

***

Januari 1st, 2021, almost mid night when we still have conversation

Emptiness, A Phase to Find Your Way Back to Normal…

“This is the place where I belong
I really love to turn you on
I’ve got your sound still in my ear
While your traces dissapear” – Scorpion

Perlu waktu untuk menghilangkan kesedihan akibat kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi. Bahkan berdasarkan pengalaman kehilangan belahan jiwa, kurun waktu lebih dari lima tahun belum mampu untuk menghapus kesedihan itu.

Yang tak jua bisa dihapus hanya bisa dialihkan dengan menyibukkan diri sesibuk-sibuknya mempelajari ini itu sampai pikiran ini teralihkan. Apalagi kalo insomnia lantas menghampiri, perlu dosis kesibukan yang lebih lagi agar pikiran tidak melanglang sesuka hati.

Sejak ayah pergi, aku jadi mengingat-ingat bagaimana ayah membesarkan aku. Ada kalanya ayah begitu over protect kepada anak-anaknya, terutama aku sebagai anak pertama, yang ditakdirkan perempuan. Ada kalanya ayah begitu memberi kebebasan sebebas-bebasnya karena beliau yakin aku nggak bakalan cross the line. Jadi ayah paham betul kapan harus menarik benang layang-layang, dan kapan waktunya mengulur benang tersebut.

Kehilangan ayah tentu berbeda sekali dengan kehilangan belahan jiwa. Meski sama-sama sosok yang kamu cintai begitu dalam, tapi sangat berbeda rasanya. Ayah adalah sosok yang mampu menenangkan bahwa he would catch me when I fall, even without any single word he said. Sedangkan belahan jiwa adalah sosok yang mampu memberi kekuatan bahwa everything gonna be ok, even without any single word he said.

Lalu saat keduanya pergi, bagaimana kau beri kekuatan pada dirimu sendiri? Bagaimana kau tenangkan dirimu sendiri?

***

Taken from Facebook, November 22nd, 2018

1 Syawal 1441 H

Semua tak sama di lebaran Idul Fitri tahun ini. Tak bisa sungkem langsung sama ibu, tak bisa mencicipi masakan yang disediain ibu, tak bisa sholat Ied bareng-bareng ke masjid, tak bisa silaturahmi ke keluarga besar, dan sederet ketakbisaan yang lain.

Semoga semua itu tak mengurangi esensi dari Idul Fitri itu sendiri. Karena esensinya melekat pada hati kita, bukan pada segala macam atribut yang coba kita identikan dengan Idul Fitri.
***

May 24th, 2020
Tyastlc…

Seumpama Pandora

Biasanya kalo makan cake manis gini, aku seduhin kopi buat pendampingnya. Manisnya cake berpadu sempurna dengan rasa kopi yang original tanpa pemanis apapun. Tapi karena saat ini sedang tidak diperbolehkan ngopi, akhirnya cuman bisa memikmati cake sambil menciumi aroma biji kopi sangrai. Rasane kudu tak kremus wae 😀

Pusing akibat nggak ngopi sih nggak terjadi padaku. Sakaw caffeine juga kagak. Hanya saja sejak nggak bisa ngopi, insomnia makin parah saja. Saat ini, kopi seumpama pandora buatku. Biasanya sebelum tidur, aku nyeduh kopi dulu agar relaks dan gampang ngantuk. Kadang malah nenggak espresso.

Yang bikin sedih tuh, rasa kangennya kadang nggak nahan. Kangen sama brewing processnya, kangen mencium aroma kopi seduh, kangen kejutan-kejutan rasa yang aku dapat dari kopi yang aku seduh.

Begitulah…

***

Jelang pulang kantor

March 4th, 2020

Jihad

Jihad tak harus mengangkat senjata

Engkau berangkat mencari nafkah untuk keluargamu pun disebut jihad. Pastikan hanya yang halal saja untuk keluargamu.

Early Monday near Purabaya,

September 16th, 2019

Martabak Belajaran

Aisyah pengen bikin martabak manis. Sesiangan dia nyari-nyari resep di internet. Habis isya dia eksekusi resepnya. Kocok-kocok, campur ini itu, lalu tuang ke pan teflon. Emaknya males ngeluarin pan besi karena adonannya cuman seporsi aja.

Martabaknya bantat. Nggak berpori seperti yang dijual orang. Emaknya sebenarnya tahu dimana letak salahnya. Tapi sengaja membiarkan dia asyik mengeksekusi resep sendiri. Biar ntar dia tahu bedanya. Setelah selesai, baru emaknya ngasih tahu salahnya dimana. Kalo nggak salah kan nggak belajar ya dek. Keep learning ya, sayang 😘😍

Sesaat setelah diiris-iris, martabak gagal itu langsung kami serbu sampai habis. Alhamdulillah walo bantat tetep aja enak di lidah kami 😘

***

Menikmati kebersamaan,

Night, December 22nd, 2018

Roti Goreng Cinta

“Mama, ini roti goreng buat mama” kata Fauzan sambil nyodorin dua potong roti ke mamanya yang lagi ceki-ceki WA Papyrus Book Store.

Rotinya dioles mentega dan dipanggang pake pan teflon lalu ditabur gula pasir dan coklat meses. Something simple but really sweet yang dilakukan anak cowok ke mamanya, tanpa diminta dan disuruh 😍.

“Dek Ozan pengen jual kek gini, Ma. Dimasaknya ditempat” obrolan kami pun berlanjut sambil menikmati roti goreng cinta.

***

Pagi yang cerah, December 23th, 2018