Turning Our Kids Into Bookworm

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluhkan anak-anaknya yang nggak suka membaca. Bahkan dia harus memberikan iming-iming berupa sejumlah uang hanya agar anak-anaknya mau membaca sebuah buku. Well…aku speechless mendengarnya. Pertama, bagiku memberikan iming-iming berupa uang agar anak-anak mau mengerjakan sesuatu adalah BIG NO ! Kelak mereka hanya mau berbuat sesuatu just for money. Kedua, menurutku bukan begitu caranya agar anak-anak gemar membaca.

Membentuk anak-anak agar gemar membaca membutuhkan proses yang lumayan panjang. Tidak semudah membalik telapak tangan dan tidak secepat mengedipkan mata.

Aku sedini mungkin sudah mengenalkan anak-anak pada buku. It’s ok kalau mereka hanya bisa meremas-remas dan menyobek-nyobek lembaran-lembaran buku tersebut. Begitulah awalnya mereka berinteraksi dengan buku. Mendengar suara sobekan kertas yang mereka sobek sendiri membuat mata mereka berbinar-binar kegirangan. Waktu anak-anak masih baby, belum ada yang namanya buku bantal. Jadi aku membelikan mereka majalah anak-anak bekas. Ketika mereka mulai anteng menghadapi buku, aku mulai memberikan buku-buku yang bright color dan berbahan kertas tebal. Ketika usia mereka bertambah, tentu lain lagi jenis buku yang kuberikan pada mereka. Itu rangsangan yang secara langsung kuberikan ke mereka.

IMG00020-20101005-0613

Rangsangan secara tak langsung banyak caranya. Salah satunya adalah orang tua, terutama mama, harus pula menunjukkan minat yang besar pada buku-buku. Kenapa mama? Karena mama yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan seorang ayah. Bagaimana kita menginginkan anak-anak gemar membaca jika mereka tidak pernah melihat orang tuanya asyik berkutat dengan buku-buku? Sedari kecil anak-anakku sudah terbiasa melihat mamanya asyik membaca dimana-mana, di ruang makan, di ruang keluarga sambil selonjoran di sofa, di ruang perpustakaan pribadi, bahkan di kamar jelang tidur. Mereka sudah terbiasa melihat mamanya tidur dengan ditemani tumpukan buku disebelah ranjang atau serakan beberapa buku dibawah bantal.

Rangsangan lain adalah fasilitas berupa buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur mereka. Bagaimana mereka akan gemar membaca jika buku-buku yang kita sediakan buat mereka sangat minim? Ketika mereka beranjak besar, aku selalu memberi kebebasan pada anak-anak untuk memilih sendiri buku-buku yang mereka sukai.

Memikirkan kembali keluhan temanku, aku jadi bersyukur anak-anakku gemar membaca semuanya. Mereka memiliki gaya yang berbeda-beda ketika asyik membaca. Ada yang benar-benar nggak suka jika keasyikannya membaca terganggu, ada yang easy going aja ketika ada interupsi. Ada yang rapi jali, selalu mengembalikan bacaannya pada tempat semula, ada pula yang seperti mamanya, tidur dengan dikelilingi banyak buku entah di bawah bantal sampai bukunya kelipat-lipat, atau di samping ranjang.

Kadang kegemaran mereka membaca mengakibatkan high cost buatku, but it’s ok karena yang mereka beli adalah ilmu dan bukan merupakan kesia-siaan. Bukankah buku adalah jendela dunia? Dengan membaca buku-buku tersebut, mereka akan melihat dunia.

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Monday, February 2nd, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s