Filosofi Induk Ayam

Berada di kampung halaman rasanya ritme kehidupan melambat dan aku lebih bisa menikmati tiap detik yang berlalu. Everything is slow motion mode on gitu lah. Dan satu hal yang biasanya kulakan adalah menikmati hal-hal yang tidak bisa tiap hari kutemukan di dalam keseharianku.

Aku sedang berada di halaman belakang dan memperhatikan beberapa induk ayam beserta anak-anaknya ketika anakku nyelutuk “Mama kenapa sih ngelihatin ayam terus?” Hehehe aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba mataku terpaku pada induk ayam dan anak-anaknya. Pemandangan yang biasa banget sebenarnya. Nothing’s special about that. Tapi manakala kita memperhatikannya dengan pikiran dan hati yang tenang, pemandangan yang luar biasa tersebut menjadi luar biasa dan penuh makna.
Induk ayam dan anak-anaknya

                Induk ayam dan anak-anaknya

Sedari tadi kuperhatikan induk-induk ayam tersebut mematuk-matuk sesuatu di tanah sambil memberi isyarat suara kepada anak-anaknya. Seolah dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat. Dan tiap kali induk ayam melakukan hal tersebut, anak-anaknya langsung berloncatan mendekat dan melakukan hal yang sama. Induk ayam tersebut menemukan makanan rupanya, dan dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat dan memakan makanan tersebut. Bagaimana dengan dia sendiri? Dia hanya mematuknya dan memastikan bahwa itu beneran makanan yang bisa dikonsumsi anak-anaknya sedangkan dia sendiri tidak ikut memakannya.
Ketika aku mendekat dan berniat mengabadikan momen tersebut langsung saja induk ayam gusar bukan kepalang. Bulu-bulunya menjadi berdiri dan sayapnya mengembang. Isyarat suaranya seolah memberi perintah kepada anak-anaknya untuk mundur menjauhiku, sedangkan dia bersikap antara defense dan berada pada tempatnya semula untuk melindungi anak-anaknya atau maju untuk menyerangku jika aku masih nekat mendekati mereka lebih dekat lagi. Tentu saja aku urung mendekat. Aku nggak ingin membuat ayam-ayam tersebut ketakutan. Sejatinya aku juga takut mendekati mereka lebih dekat lagi. Takut dipatuk induknya lah. Katanya dipatuk induk ayam tuh sakit hehehe.
Setelah anak-anak ayam tersebut kenyang, gantian induk ayam yang mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Itupun masih saja dia memberi isyarat kepada anak-anaknya. Tapi anak-anaknya tidak tertarik lagi untuk makan. Mereka hanya bermain-main bekejaran dengan saudaranya. Sesekali salah satu diantara mereka meloncat naik pada punggung induknya yang sedang asyik mengais makanan. Lucu sekali memperhatikan tingkah pola anak-anak ayam tersebut.
Ketika senja menjelang, induk ayam mencari tempat untuk dia dan anak-anaknya tidur. Aku tidak tahu apakah biasanya mereka memang tidur disitu atau berpindah-pindah tempat. Yang jelas induk ayam tersebut memilih tempat dibawah kandang ayam lain yang sedang mengerami telur-telurnya. Lalu anak-anaknya satu persatu mendekat dan menyelusup dibalik sayap induknya, tempat yang hangat, nyaman dan aman untuk melewatkan malam yang dingin dan mungkin saja berbahaya buat mereka.
Basic instinc, begitu aku menyebut tingkah laku induk ayam. Semua induk ayam akan melakukan hal yang sama. Semua induk mahluk hidup punya insting yang sama. Insting untuk mencukupi kebutuhan, memberi kasih sayang dan perlindungan kepada anak-anaknya. Ada rasa jengah ketika mengingat adegan dimana induk ayam membiarkan anaknya asyik bermain dipunggungnya saat dia mencari makan. Sedangkan diri ini kadang merasa sangat terganggu dengan aktifitas anak-anak yang rasanya mengusik keasyikan kita. Entah saat kita asyik membaca, asyik dengan gadget, asyik berbelanja, asyik ngobrol dengan teman dan aktifitas-aktifitas lainnya. Ah…rasanya basic instict kita sebagai seorang ibu sudah mulai luntur dikalahkan oleh egoisme kita sebagai manusia. Maka ada baiknya kita belajar tentang filosofi induk ayam dan mengembalikan basic instict kita sebagai seorang ibu.
***
Dian Widyaningtyas
Mencari kedamaian di kampung halaman
Saturday night, October 10th, 2015
Advertisements

Turning Our Kids Into Bookworm

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluhkan anak-anaknya yang nggak suka membaca. Bahkan dia harus memberikan iming-iming berupa sejumlah uang hanya agar anak-anaknya mau membaca sebuah buku. Well…aku speechless mendengarnya. Pertama, bagiku memberikan iming-iming berupa uang agar anak-anak mau mengerjakan sesuatu adalah BIG NO ! Kelak mereka hanya mau berbuat sesuatu just for money. Kedua, menurutku bukan begitu caranya agar anak-anak gemar membaca.

Membentuk anak-anak agar gemar membaca membutuhkan proses yang lumayan panjang. Tidak semudah membalik telapak tangan dan tidak secepat mengedipkan mata.

Aku sedini mungkin sudah mengenalkan anak-anak pada buku. It’s ok kalau mereka hanya bisa meremas-remas dan menyobek-nyobek lembaran-lembaran buku tersebut. Begitulah awalnya mereka berinteraksi dengan buku. Mendengar suara sobekan kertas yang mereka sobek sendiri membuat mata mereka berbinar-binar kegirangan. Waktu anak-anak masih baby, belum ada yang namanya buku bantal. Jadi aku membelikan mereka majalah anak-anak bekas. Ketika mereka mulai anteng menghadapi buku, aku mulai memberikan buku-buku yang bright color dan berbahan kertas tebal. Ketika usia mereka bertambah, tentu lain lagi jenis buku yang kuberikan pada mereka. Itu rangsangan yang secara langsung kuberikan ke mereka.

IMG00020-20101005-0613

Rangsangan secara tak langsung banyak caranya. Salah satunya adalah orang tua, terutama mama, harus pula menunjukkan minat yang besar pada buku-buku. Kenapa mama? Karena mama yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan seorang ayah. Bagaimana kita menginginkan anak-anak gemar membaca jika mereka tidak pernah melihat orang tuanya asyik berkutat dengan buku-buku? Sedari kecil anak-anakku sudah terbiasa melihat mamanya asyik membaca dimana-mana, di ruang makan, di ruang keluarga sambil selonjoran di sofa, di ruang perpustakaan pribadi, bahkan di kamar jelang tidur. Mereka sudah terbiasa melihat mamanya tidur dengan ditemani tumpukan buku disebelah ranjang atau serakan beberapa buku dibawah bantal.

Rangsangan lain adalah fasilitas berupa buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur mereka. Bagaimana mereka akan gemar membaca jika buku-buku yang kita sediakan buat mereka sangat minim? Ketika mereka beranjak besar, aku selalu memberi kebebasan pada anak-anak untuk memilih sendiri buku-buku yang mereka sukai.

Memikirkan kembali keluhan temanku, aku jadi bersyukur anak-anakku gemar membaca semuanya. Mereka memiliki gaya yang berbeda-beda ketika asyik membaca. Ada yang benar-benar nggak suka jika keasyikannya membaca terganggu, ada yang easy going aja ketika ada interupsi. Ada yang rapi jali, selalu mengembalikan bacaannya pada tempat semula, ada pula yang seperti mamanya, tidur dengan dikelilingi banyak buku entah di bawah bantal sampai bukunya kelipat-lipat, atau di samping ranjang.

Kadang kegemaran mereka membaca mengakibatkan high cost buatku, but it’s ok karena yang mereka beli adalah ilmu dan bukan merupakan kesia-siaan. Bukankah buku adalah jendela dunia? Dengan membaca buku-buku tersebut, mereka akan melihat dunia.

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Monday, February 2nd, 2015