Having Fun di Jombang

Story about us when we spent week end in my home town….

Just to make you happy, kids. Just to make you all happy…

Aisyah in action


IMG_20151010_211248

IMG_20151010_211148

IMG_20151010_211146

IMG_20151010_211134

IMG_20151010_211107

IMG_20151010_210825

IMG_20151010_210803

IMG_20151010_210724

IMG_20151010_210646

IMG_20151010_210638

***

Dian Widyaningtyas

Sunday Afternoon, just before we go back to Sidoarjo

October 11th, 2015

Turning Our Kids Into Bookworm

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluhkan anak-anaknya yang nggak suka membaca. Bahkan dia harus memberikan iming-iming berupa sejumlah uang hanya agar anak-anaknya mau membaca sebuah buku. Well…aku speechless mendengarnya. Pertama, bagiku memberikan iming-iming berupa uang agar anak-anak mau mengerjakan sesuatu adalah BIG NO ! Kelak mereka hanya mau berbuat sesuatu just for money. Kedua, menurutku bukan begitu caranya agar anak-anak gemar membaca.

Membentuk anak-anak agar gemar membaca membutuhkan proses yang lumayan panjang. Tidak semudah membalik telapak tangan dan tidak secepat mengedipkan mata.

Aku sedini mungkin sudah mengenalkan anak-anak pada buku. It’s ok kalau mereka hanya bisa meremas-remas dan menyobek-nyobek lembaran-lembaran buku tersebut. Begitulah awalnya mereka berinteraksi dengan buku. Mendengar suara sobekan kertas yang mereka sobek sendiri membuat mata mereka berbinar-binar kegirangan. Waktu anak-anak masih baby, belum ada yang namanya buku bantal. Jadi aku membelikan mereka majalah anak-anak bekas. Ketika mereka mulai anteng menghadapi buku, aku mulai memberikan buku-buku yang bright color dan berbahan kertas tebal. Ketika usia mereka bertambah, tentu lain lagi jenis buku yang kuberikan pada mereka. Itu rangsangan yang secara langsung kuberikan ke mereka.

IMG00020-20101005-0613

Rangsangan secara tak langsung banyak caranya. Salah satunya adalah orang tua, terutama mama, harus pula menunjukkan minat yang besar pada buku-buku. Kenapa mama? Karena mama yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan seorang ayah. Bagaimana kita menginginkan anak-anak gemar membaca jika mereka tidak pernah melihat orang tuanya asyik berkutat dengan buku-buku? Sedari kecil anak-anakku sudah terbiasa melihat mamanya asyik membaca dimana-mana, di ruang makan, di ruang keluarga sambil selonjoran di sofa, di ruang perpustakaan pribadi, bahkan di kamar jelang tidur. Mereka sudah terbiasa melihat mamanya tidur dengan ditemani tumpukan buku disebelah ranjang atau serakan beberapa buku dibawah bantal.

Rangsangan lain adalah fasilitas berupa buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur mereka. Bagaimana mereka akan gemar membaca jika buku-buku yang kita sediakan buat mereka sangat minim? Ketika mereka beranjak besar, aku selalu memberi kebebasan pada anak-anak untuk memilih sendiri buku-buku yang mereka sukai.

Memikirkan kembali keluhan temanku, aku jadi bersyukur anak-anakku gemar membaca semuanya. Mereka memiliki gaya yang berbeda-beda ketika asyik membaca. Ada yang benar-benar nggak suka jika keasyikannya membaca terganggu, ada yang easy going aja ketika ada interupsi. Ada yang rapi jali, selalu mengembalikan bacaannya pada tempat semula, ada pula yang seperti mamanya, tidur dengan dikelilingi banyak buku entah di bawah bantal sampai bukunya kelipat-lipat, atau di samping ranjang.

Kadang kegemaran mereka membaca mengakibatkan high cost buatku, but it’s ok karena yang mereka beli adalah ilmu dan bukan merupakan kesia-siaan. Bukankah buku adalah jendela dunia? Dengan membaca buku-buku tersebut, mereka akan melihat dunia.

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Monday, February 2nd, 2015

Another Side of My Daughter

Beberapa minggu lalu Hanifah memberitahukan kepadaku bahwa dia lolos kompetisi matematika dan harus mempersiapkan diri untuk kompetisi selanjutnya. Sebelumnya aku sudah mendengar kabar tersebut dari kakaknya yang disampaikan kepadaku sambil lalu. Rupanya kakaknya sudah tahu terlebih dahulu tentang pengumuman itu karena dia aktif di OSIS. Reaksiku agak kaget juga karena aku tidak pernah melihat Hanifah mempersiapkan kompetisi tersebut secara khusus sebelumnya. Jangankan persiapan kompetisi, belajar rutin aja dia ogah-ogahan. Kakaknya berkutat dengan buku-buku pelajaran, dia malah asyik dengan hal lain.

Lalu aku melupakan pembicaraan tersebut karena tenggelam dalam kesibukan lain dan membiarkan Hanifah mempersiapkan kompetisi itu sendiri. Anak-anak memang kudidik untuk mandiri. Tapi satu hal yang membuatku lebih mengamati Hanifah dalam diam, aku menemukan satu hal lagi yang bisa membuatnya percaya diri. Diantara saudara-saudaranya yang lain memang Hanifah paling pendiam jika di luar rumah. Semua ustadzah dan ustadz yang pernah menjadi gurunya memberikan komentar yang sama “Mbak Hanifah diam ya, Bu” Aku tak pernah mendapatkan komentar lain selain itu. Padahal di rumah semua wajar-wajar saja, pun dimataku dia adalah anak yang cerdas.

Aku sering mengamati akun-akunnya di media sosial. Banyak teman yang mengapresiasi gambar-gambar yang dia upload di media sosial. Itu bukan foto-foto selfie khas ABG melainkan gambar karya dia. Ada saat-saat tertentu dia begitu asyik menggambar pada sketch book berukuran besar dan meminjam alat-alat tulis dan gambar yang kumiliki. Gambarnya bagus menurutku. Karena aku nggak bisa menggambar seperti itu. Kemudian aku menangkap pembicaraan dia dan kakaknya beberapa kali menyebut kata-kata “poster”. Hanifah membicarakannya dengan antusias. Waktu pengambilan rapor kemarin, wali kelasnya memberitahukan kepadaku bahwa Hanifah memenangi lomba pembuatan poster. Well…agak surprise buatku mengetahui anakku yang nomor dua meminati bidang seni. Mengingat emaknya jauh banget dari hal-hal yang berhubungan dengan seni. Malah dulu waktu ada pelajaran kesenian, keterampilan dan olah raga, pengen banget rasanya melarikan diri dari kelas atau lapangan. Lha terus apa hubungannya dengan semua itu yak? Ya…kali aja itu adalah suatu gen yang diturunkan gitu. Tapi emang abahnya pinter dalam hal seni sih. Nurun dari abahnya ‘kali ya. The point is, aku menemukan satu hal lagi yang seharusnya bisa membuat Hanifah lebih percaya diri di luar rumah. Jadi ceritanya aku sedang berusaha keras membuatnya percaya diri di depan teman-temannya.

So, hari Minggu tanggal 21 Desember 2014 jam 09.00 kami, aku dan Hanifah, berangkat ke lokasi kompetisi. Sepanjang perjalanan itu kami ngobrol-ngobrol dengan santai. Sesekali kulontarkan sugesti positif kepadanya.

Kartu ifa

“Berapa orang teman dek Ifah yang ikut kompetisi?” Tanyaku.

“Banyak, Ma. Tapi yang sekelas sama dek Ifah nggak ada” Jawabnya.

“Hm….”

“Yang dari kelasnya dek Ifah cuman dek Ifah saja” Lanjut Ifah setelah menangkap kebingunganku.

“Apakah mereka nggak ikut tes babak penyisihan?” Tanyaku lagi.

“Ikut, Ma..” Which means she is the only one yang lolos babak tersebut in her class.

“Tuh kan…dek Ifah tuh cerdas. Buktinya dengan sedikit belajar saja, dek Ifah bisa sampai ke babak ini. Apalagi kalau dek Ifah mau belajar lebih serius lagi” Kataku menyemangatinya.

“Kemarin Ustadzah wali kelas juga bilang sama Mama kalau dek Ifah menang juara lomba pembuatan poster. Juara berapa, Dek?”

“Juara satu” jawabnya pendek. Kulihat dengan sudut mataku, dia sedang memperhatikan lalu lintas yang mulai padat saat itu.

“Dek Ifah hebat! Mama nyerah deh. Mama nggak bisa menggambar. Dek Ifah suka ya bikin poster?

“Suka” masih saja dia menjawabnya dengen pendek.

“Ya udah kalau dek Ifah suka tetaplah menggambar tapi jangan lupa belajarnya ya” Dia hanya menggangguk.

Kami ngobrol banyak waktu itu. Mostly sih aku mencoba membangun kepercayaan dirinya dengan kalimat-kalimat afirmasi positif. Aku berharap semoga pembicaraan kami mengena di benaknya.

***

 

Dian Widyaningtyas

Crossing the crowded road along with my first daughter

Sunday, December 21st, 2014

#latepost