Manual Coffee Grinder

Pagi ini nyampai kantor udah ada kiriman paket dari maharajacoffee.biz. Minggu kemarin pesen manual coffee grinder di dia. Sebenarnya udah punya dua manual grinder sih, tapi ini gara-gara penasaran sama grinder yang harganya murah banget, nggak sampe 300 ribu, kebetulan tetangga sebelah meja, Bagus Suryandaru mulai keracunan bikin kopi juga, akhirnya pesen bareng-bareng deh.

Latina slimo coffee grinder

Latina slimo coffee grinder

Kalo mau beli gilingan kopi, pilih yang grindernya burr, jangan yang blade. Ini menurutku sih. Blade itu seperti dry mill yang biasanya sepaket kalo kita beli blender. Apa yang salah dengan blade? Hasil gilingannya nggak konsisten, trus bladenya yg berbahan stainless steel menyebabkannya bisa menjadi panas saat proses penggilingan. Nah panas ini yg bisa merubah rasa kopi. Jhiahhh….mau nggiling kopi aja sampe segitunya wkwkwkw…… Ntar deh kapan-kapan aku perlihatkan gilingan yang burr.

manual coffee grinder

manual coffee grinder

By the way anyway busway, yang bikin surprise, ternyata dapat bonus biji kopi Papua Wamena 50 gram dalam paketnya. Wow….belum punya kalo kopi Wamena. Baru aja kemarin dilihat-lihat di olshop, kok Wamena paling mahal ya diantara kopi dari daerah lain, eh hari ini dapat gratisan. Alhamdulillah…

***

Latepost from March 8, 2016

Dian Widyaningtyas

Advertisements

Magical Beans

Apakah seseorang bisa memiliki lebih dari satu passion? Entahlah. Yang jelas ada beberapa hal yang bisa membuatku “lupa diri” ketika berinteraksi dengannya. Salah satunya tentu saja kopi. The more I learn about coffee the more I love it. Makin penasaran rasanya.

home coffee bar

home coffee bar

“Mama, rukonya dibikin cafe aja” kata Nafis Fauzan Ahmad tiap kali mendapati mamanya lagi asyik di depan meja kopi. Well….that’s a good idea, actually. But running a coffee shop isn’t as simple as selling a cup of coffee. Owner harus paham betul semua hal yang berkaitan dengan kopi dari mulai asal usul biji kopi, varietas, proses panen, level roasting, sampai metode brewing. And you know what? Semua hal tersebut bisa mempengaruhi rasa dari secangkir kopi yang kita minum. What a magical bean !

***

Latepost from March 5, 2016

Dian Widyaningtyas

Meet The Espresso

Apa yang terbayang di benak kalian ketika mendengar kata Espresso? Sebuah cafe ato coffee shop, secangkir kecil kopi super pahit dengan harga yang termasuk mahal?

Diantara beberapa metode brewing yang biasa aku lakukan di rumah dan di kantor, espresso ini menjadi favoritku. Sekarang malah hampir tiap pagi saat bangun tidur, langsung bikin espresso. Biasanya sih aku pure pake arabica. Tapi tadi pagi nyobain ngeblend antara robusta dan arabica dengan rasio 20:80. Ceritanya mulai belajar ngeblend single origin untuk menghasilkan rasa kopi yang lain…

Robusta akan memperkaya crema pada espresso, crema ini sebenarnya minyak yg terekstrasi saat ngepress bubuk kopi dengan tekanan tertentu pada proses pembuatan espresso. Sedangkan arabica akan memberikan aroma yang hm….apa ya nyebutnya…nggak bisa kugambarkan, pokoknya sesuatu deh…

Espresso

Espresso

One shot espresso ato setara dengan 25 – 30 ml membutuhkan 7 gram bubuk kopi. Bisa ngebayangin kan betapa kental kopi yang dihasilkan. Di negara asalnya, yaitu Italia, mereka menggunakan kopi dark roasted, biji kopi yang digongso sampai item. Nah pagi tadi juga ngikuti seperti itu, milih biji kopi yang dark roasted. Dalam one shot espresso terkandung Pottasium 35 mg dan caffeine 64 mg. No sianida of course.

one shot espresso

one shot espresso

Ternyata espresso dengan blend robusta dan arabica dengan level dark roasting nggak pas dengan seleraku. Lebih enak full arabica dengan level medium roasting, yang tentu saja side effectnya adalah adanya acidity pada hasil brewingnya.

Ah….suka banget kalo bercerita tentang kopi. Sampe ada teman yang nanyain..” Dian…kapan cafenya dibuka?” Ai..ai….ini masih keep learning tentang dunia perkopian. Belum ada apa-apanya nih ilmu yang dipunyai…

***

Latepost from February 16, 2016

Dian Widyaningtyas

Turkish Coffee

Turkish Coffee atau kalo di negara asalnya namanya kahve…. Ada yang pernah dengar?

Sudah lama pengen bikin kopi a la Turki, tapi terkendala pada gearnya. Aku belum punya alat seduh yang dikenal dengan sebutan Ibrik yaitu sebuah panci mungil bergagang tunggal yang terbuat dari bahan kuningan. Biasanya berhiaskan ornamen khas Turki pada body pancinya. Ibrik harganya lumayan mahal untuk sebuah benda berukuran imut. Makanya selalu maju mundur kalo mau beli coffee gear yang satu ini. Beberapa hari lalu pas ngelayap ke toko barang pecah belah nemu panci stainless steel yang modelnya menyerupai si Ibrik. Judul di barcodenya sih panci susu, tapi gak papa deh kupake buat menggantikan tugas Ibrik bikin Turkish Coffee.

Ibrik

Ibrik

Turkish Coffe

Turkish Coffe

Turkish Coffee

Turkish Coffee

Turkish Coffee

Turkish Coffee

Blooming

Blooming

Bahan Turkish Coffee nggak beda dengan kopi bikinan mbah-mbah kita dulu yaitu kopi bubuk, gula, dan air. Bedanya Turkish Coffee nggak pake air panas, melainkan air biasa. Jadi kopi plus gula dimasukkan ke Ibrik, tuangi air, lalu panaskan Ibriknya diatas kompor dengan api kecil. Level grind yang dipake lebih halus daripada kopi yang dipake pada pembuatan espresso. The finest ground, in fact. Sampai powdery gitu. Since I doubted if my coffee grinder could do that job, so I used coffee ground from excelso. Dan sudah bisa ditebak I didn’t get crema on my kahve, udah nggak fresh lagi kopi bubuknya. Rasio yang dipake 8 gram kopi, 16 gram gula, dan 130 gram air. Saat air mulai mendidih aduk agar kopi dan gula tercampur. Ketika air mulai meluap naik, jauhkan dari api, begitu terus sampai tiga atau empat kali. Hal ini bertujuan agar kopi tidak meluber, disamping itu menjaga agar kahve nggak over heated sehingga menghasilkan burnt taste yang bisa merusak rasa kopi. Kopi yang dihasilkan rasanya pahit manis dan kental. Tapi walaupun kopi yang dihasilkan kental, it wasn’t strong kahve…

Kahve

Kahve

***

Latepost from February 14, 2016

Dian Widyaningtyas

Vietnamese Coffee

Kemarin malam, tepatnya dini hari kemarin, pengen belajar bikin Vietnamese Coffee. Semua bahan disamakan dengan kopi vietnam aslinya, hanya saja biji kopinya bukan berasal dari Vietnam, melainkan tetep pake kopi dari Indonesia tercinta. Bahannya 20 gram susu kental manis, 10 gram kopi yang digiling lebih halus dikit daripada kopi untuk French Press method, 100 gram air dengan suhu antara 90 – 95 dercel. Sebenarnya nggak suka sih minum kopi pake tambahan gula, susu, krimer dsb. Tapi karena resep kopi vietnam seperti itu adanya yo wes ngikut aja.

kopi vietnam

Mungkin yang awam dengan dunia perkopian heran kenapa airnya pake ukuran gram, bukan ml, cc, ato liter. Ya begitulah rasionya harus apple to apple. Kalo kopinya pake ukuran gram, begitu pula airnya. Air panas dengan volume 100 ml beratnya nggak sama loh dengan air biasa dengan volume yang sama. Jadi ukuran berat lebih universal daripada ukuran volume. Ayo diingat-ingat lagi pelajaran fisikanya…

kopi vietnam 1

kopi vietnam 2

Since rasio kopi dan air menjadi hal yang fundamental dalam dunia coffee brewing, makanya dibela-belain beli digital scale segala. Nggak perlu merk-merk yang sudah moncer di kalangan real barista yang harganya sampe sekian jeti, wong cuman barista abal-abal aja kok hehehe. Pake merk Tanita aja sudah cukup. Sekalian bisa dimanfaatkan saat bikin cake. Oya…ini pake medium roasted Posong coffee from Sindoro, Temanggung. Yang dari Temanggung tentu nggak asing lagi dengan kopi ini ^_^

***

Latepost from February 13, 2016

Dian Widyaningtyas

Cerita Dibalik Kopi

Lagi bosen karena dua hari terpaksa baringan di kamar, makanya tadi duduk-duduk di depan my coffee bar sambil mandangin biji kopi. Iyaaaa hanya bisa mandangin aja karena lagi maag. And I think this is more serious than maag. Tapi nggak berani ke dokter. Takut disuruh nginap di RS. Lha wong dipake duduk sebentar aja udah kliyengan dan akhirnya balik ke kamar lagi.

My home coffee bar

                       My home coffee bar

Pengen cerita tentang kopi aja deh buat ngilangin bosen. Do you know the differences between coffee from South America, and Central America, and Africa, and Indonesia? Kopi dari South America dan Central America biasanya berasal dari satu perkebunan kopi yang luas. Biasanya kopi ini dilabeli Finca, Fazenda, dan Estate. Ini nama perkebunannya.

Kopi dari Indonesia dan Afrika biasanya berasal dari beberapa petani yang dikumpulin jadi satu kemudian dijual sama-sama. Kopi Indonesia biasanya dilabeli nama daerah dimana kopi tersebut ditanam seperti Aceh Gayo, Flores dsb. Sedangkan kopi Afrika biasanya dilabeli Co-Op / nama koperasinya. Misalnya Kenya Thiriku. Thiriku refers to koperasi yang mengelola hasil perkebunan petani kopi di Kenya.

Ada juga kopi yang berlabel pemilik perkebunan, misalnya Pandora. Ini adalah perkebunan kopi yang lebih spesifik lagi baik dari segi varietas, ketinggian tanah, processing, roasting dsb.

Ada banyak cerita dibalik biji kopi.

***

Latepost from January 2, 2016

Dian Widyaningtyas

Cerita Tentang Kopi

Udah lama banget pengen nulis tentang kopi. Tapi karena nggak bisa menghalau rasa males, akhirnya ide tulisan, konsep dan sebagainya hanya parkir begitu saja di kolong pikiran entah yang sebelah mana. Dan tiba-tiba saja sepulang dari liburan long weekend di kampung, keinginan nulis muncul begitu saja. Emang ya kalau orang yang actionnya base on the mood ya begini ini. Jadi harap maklum kalau banyak sekali ide tulisan yang hanya teronggok begitu saja di kolong pikiran. Ok segitu aja prolognya sebelum aku kehabisan kata-kata.
Hm….kopi… So what can I say about it? Rasanya banyak banget yang ingin kuceritakan tentang kopi. Jadi mungkin ini akan menjadi tulisan bersambung nantinya. Pada tulisan awal dari beberapa bagian tulisan ini aku ingin cerita tentang bagaimana awal-awal aku berinteraksi dengan kopi. Banyak yang mengira kalo kegemaranku akan kopi baru saja dimulai. Padahal sudah lama banget aku rutin mengkonsumsi kopi. Terlebih disaat aku harus berkonsentrasi tinggi menyelesaikan suatu kerjaan yang dibatasi oleh waktu. Tapi kopi yang kukonsumsi waktu itu memang berbeda dengan kopi yang kukonsumsi saat ini.
Stok kopi instan

Stok kopi instan

Kopi aneka rasa full kreamer menjadi kegemaranku dulu. Tak kurang dari enam pak kusediakan untuk konsumsi rutin tiap bulan. Itu belum termasuk stok yang disediakan di kantor. Kopi instan semacam itu hanya nikmat di lidah saja karena rasa manis dan gurihnya. Sedangkan kandungan kopinya sendiri jauh lebih sedikit daripada kandungan gula dan kreamernya. Sebenarnya kopi murni baik untuk kesehatan. Tapi dalam sebungkus kopi instan, dimana komposisi kopinya, yang biasanya dari jenis robusta, tidak lebih dari satu sendok teh saja. Selebihnya adalah gula maupun pemanis buatan dan kreamer. Dibalik rasanya yang mampu memanjakan lidah, kopi instan memiliki bahaya yang harus diwaspadai. Bahaya yang mengancam salah satunya adalah konsumsi gula dan pemanis buatan yang berlebihan yang bisa menyebabkan diabetes.
Sebenarnya banyak efek negatif dari kopi instan. Tapi satu saja yang sudah aku sebutkan diatas, sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk menghentikan kebiasaanku mengkonsumsi kopi instan.  Pada titik itulah aku mulai beralih ke kopi murni. Kopi yang cara penyajiannya jauh dari kata praktis. Bahkan mungkin bisa dibilang ribet banget. Tapi insyaAllah lebih bermanfaat selama kita tetap memperhatikan kadar kafein yang kita konsumsi per harinya. Jadi dalam hal ini kaidah “berlebihan itu tidak baik” tetap berlaku. So walaupun kopi murni baik untuk kesehatan tapi kita harus tetap bijaksana dalam mengkonsumsinya.
Bersambung…
***
Dian Widyaningtyas
For “Journey of my life”
Sunday, mid night, December 27th, 2015