Remah-remah Kenangan di Pasar Tradisional

Tanggal 7 Februari 2015 yang lalu kami, aku dan anak-anak diminta ibu untuk menjemput ayah dan ibu di Jombang. Alhamdulillah kondisi ayah dan ibu mulai membaik dan sudah bisa jagain cucu-cucunya lagi. Mobil ayah masih ringsek dan belum selesai diperbaiki setelah insiden kecelakaan dengan bus Mira bulan Nopember tahun lalu. Mungkin ringseknya lumayan parah sampai makan waktu berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Disamping itu spare part mobil ayah agak sulit didapat.

Kami berangkat sehabis Magrib. Tiba di Jombang sekitar jam 21. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan orang rumah, sambil menikmati makan malam, aku memutuskan untuk istirahat. Maklum, berkendara dalam kondisi agak macet, malam hari pula, memaksaku untuk benar-benar waspada dan kosentrasi penuh sepanjang jalan.

Esok hari aku ingin ikut adikku yang hendak ke pasar. Tiba-tiba saja aku penasaran seperti apa pasar yang dulu sering kulewati sepulang sekolah waktu aku masih duduk di sekolah dasar. Menaiki angkutan pedesaan, langsung saja aura desa makin terasa walau desaku sudah tidak sekental dulu suasana pedesaannya. Sapa-sapa ramah berdengung di atas angkutan pedesaan tersebut. Entah kenal dimana adikku sama penumpang-penumpang tersebut. Mungkin sering ketemu di angkutan pedesaan atau ketemu di pasar saat belanja. Entahlah…

Tas belanjaan yang khas...

Tas belanjaan yang khas…

Setelah kuamati, para penumpang, juga adikku membawa tas belanjaan yang modelnya sama. Tas tersebut terbuat dari anyaman berbahan plastik. Sepertinya sih cukup kuat untuk membawa belanjaan dalam jumlah yang banyak.

Tak berapa lama, hanya sekitar sepuluh menit kami sudah sampai di pasar Perak. Karena letaknya yang berada di jalan propinsi, lalu lintas di depan pasar sangat ramai. Pasar tersebut juga tempat bus antar kota menurunkan penumpangnya. Memasuki pasar Perak, aku masih ingat betul bahwa di sebelah kiri pintu masuk ada penjual cemilan. Ternyata masih ada dan dagangannya semakin banyak saja.

Pedagang makanan ringan

Pedagang makanan ringan

Waktu SD dulu aku sering kulak makanan ringan di toko tersebut. Kami para murid perempuan dapat tugas berjualan makanan ringan di sekolah secara bergilir. Pasanganku berjualan waktu itu seorang chinesse anak pemilik studio foto yang tokonya di samping pasar Perak. Cemilan favorit teman-teman adalah krupuk berukuran sejari yang warna-warni dan digoreng dengan pasir. Mereka memakannya dengan dicocol cabe yang dipenyet diatas selembar kecil daun pisang. Tiba-tiba saja kerumunan mereka saat mengantri untuk membeli cemilan dagangan kami terbayang jelas dimataku.

Tepat di depan pintu masuk seingatku dulu ada penjual bunga tabur. Aku tak ingat lagi apakah penjualnya seorang wanita atau pria. Dan ternyata masih ada penjual bunga tabur di depan pintu masuk pasar Perak, walau letaknya sedikit bergeser.

Pedagang bunga tabur

Pedagang bunga tabur

Dulu aku diam-diam sering memperhatikan dagangan penjual bunga tabur tersebut. Selain menjual bunga tabur dia juga menjual sarang tawon dan kadang juga menjual telor angsa. Aku dulu sering bertanya-tanya dalam hati apa hubungan sarang tawon, telur angsa, dan bunga-bunga tabur tersebut. Aku juga bertanya-tanya bagaimana rasanya telur angsa tersebut jika digoreng, samakah dengan rasa telur ayam kampung? Lalu aku akan membayangkan wajan ibuku bakalan penuh jika dipakai untuk menggoreng sebutir telor raksasa tersebut.

Berjalan semakin kedalam kuamati tidak ada perubahan signifikan pada pasar tradisional satu-satunya yang ada di kecamatan Perak. Atapnya banyak ditambal dengan potongan-potongan seng.

Lorong pasar bagian tengah

Lorong pasar bagian tengah

Aku bisa membayangkan pasar tersebut bakalan becek sekali jika turun hujan. Pasar agak sepi karena hari sudah siang ketika aku dan adikku datang kesana.

Lot penjual daging

Lot penjual daging

Lot terakhir yang kami singgahi adalah lot penjual daging. Letaknya di dekat pintu samping tempat penitipan sepeda. Aku dulu sering main-main ke lot penjual daging karena dua budeku berjualan di sana. Yang satu berjualan daging kambing, yang satunya lagi berjualan daging sapi. Ternyata salah satu sepupuku meneruskan profesi orang tuanya dengan berjualan daging sapi di sana. Satu hal yang kuingat betul adalah persediaan daun jati yang disusun melingkar dan diikat kuat-kuat yang biasanya diletakkan di belakang lapak bude dan pakdeku. Tiba-tiba bau khas daun jati menyeruak dihidungku. Dikemudian hari baru kuketahui bahwa daun jati bisa membuat daging kambing dan sapi lebih awet dan nggak gampang busuk.

Akhirnya selesai juga aku menyusuri jejak masa laluku di pasar Perak. Some little things remain the same like it used to be. And some other things are brand new to me. That’s the way life goes on….

***

Dian Widyaningtyas

Things come and go. That’s the way life goes on…

Sunday evening, February 22nd, 2015

Advertisements

Journey To South Kalimantan : Sleepless Night In Kotabaru

Jelang Sabtu tanggal 9 Agustus 2014…

Larut malam sudah hendak berganti hari ketika kami sampai di rumah mama mertua. Semua keluarga masih terjaga dan menyambut kami dengan suka cita. Anak-anak pun tak kalah senangnya bisa berkunjung ke rumah neneknya. Tidak kudapati raut kelelahan di wajah-wajah polos mereka. Dekat dengan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan abahnya membuat anak-anak merasa dekat dengan abahnya. Dari situlah kerinduan mereka akan sosok abahnya bisa terobati. Setahun lebih mendampingi mereka dan berusaha menyembuhkan rasa kehilangan mereka  membuatku sangat memahami apa yang ada di hati mereka. Dan perjalanan ke Kalimantan merupakan upayaku menyembuhkan rasa kehilangan mereka selain untuk silaturahmi dan menghadiri pernikahan keponakan.

Obrolan kerinduan bergulir diantara kami dan tuan rumah. Tak terasa waktu sudah mulai merambati dini hari. Kami harus istirahat walau raga masih ingin merenda cerita. Masih ada hari esok dimana kami bisa menyambung cerita yang seolah tiada habisnya. Seperti biasa mama mertua sudah menyediakan kamar pribadinya untuk kami tempati malam itu dan malam-malam selanjutnya selama kami menginap di sana. Kami pun membawa kaki melangkah ke tempat peraduan.

Tidak ada yang berubah dengan kamar pribadi mama mertua. Masih seperti dulu ketika terakhir kali kami; aku, belahan jiwa dan dua anak kami berkunjung ke sana. Ya…masih seperti dulu, kecuali satu hal. Rupanya mama mertua memajang foto pernikahan kami di kamar pribadinya. Entah mulai kapan foto itu ada di sana. Seingatku dulu belum ada. Mungkin sejak belahan jiwa pergi. Mungkin mama mertua mengobati rasa rindunya dengan memajang foto kami di kamar pribadinya. Foto itu membuat hatiku makin terasa hampa. Aku belum sanggup untuk memandangi foto belahan jiwa, apalagi foto pernikahan kami. Aku lebih memilih untuk menyimpan foto-foto beliau agar tak terlihat oleh mata ini. Tapi mungkin inilah saatnya aku harus bisa menguatkan hati ini untuk bisa memandangi foto itu selama kami disana.

Foto pernikahan

Foto Pernikahan Kami

Sekian menit berlalu, tak kunjung bisa kupejamkan mata ini. Pikiranku mengembara kemana-mana. Foto itu membuatku tersesat ke masa lalu. Menit berganti jam. Dan dini hari sudah mulai menjemput pagi. Ingatan ini masih enggan beranjak dari masa lalu. Ketelusuri satu persatu jalanan silam. Kusinggahi setiap sudutnya. Satu sudut menuntunku untuk beringsut ke sudut lainnya. Semua yang ada di sana nampak begitu jelas. Seolah aku sedang menyaksikan sebuah film dokumenter yang kubintangi sendiri. Masih tertancap dengan kuat setiap detil adegannya di kepala ini. Jalanan tiba-tiba menjadi samar ketika aku hendak menjelajahi sudut lainnya. Hingga tak bisa kutahan lagi luruhnya air mata.

 Sometimes I wonder why I spend
The lonely nights dreaming of a song
The melody haunts my reverie
And I am once again with you…

#Stardust lyric sung by Nat King Cole #Original Soundtrack Sleepless Night In Seattle 

***

Dian Widyaningtyas

Ah but that was long ago…
Now my consolation is in the stardust of a song

Monday, October 27, 2014

Journey To South Kalimantan : The Day When We Started It

Ada beberapa catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan dalam blog pribadiku. Salah satunya adalah perjalanan ke Kalimantan Selatan di bulan Agustus lalu bersama anak-anak. Cerita tentang perjalanan ini akan kutulis secara bersambung.

Kalimantan Selatan, sebuah kota yang sangat melekat di hatiku walau baru dua kali aku sempat datang ke sana., itupun dalam rentang waktu yang cukup panjang. Setelah sekian tahun, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ke tanah kelahiran belahan jiwa. Kali ini aku pergi bersama anak-anak. Sudah beberapa hari kupersiapkan sebuah koper super besar untuk menampung kebutuhan kami semua. Biar ringkas maka kuputuskan untuk membawa sebuah koper super besar saja yang nantinya bisa kumasukkan ke bagasi pesawat sehingga aku bisa menjaga anak-anak dengan leluasa, maklum saja anak-anak biasanya super aktif.

Jumat pagi tanggal 8 Agustus 2014…..

Pagi itu aku agak bad mood karena baru kusadari salah satu gadgetku raib entah kemana. Insiden yang sempat bikin aku sedikit kelabakan mengingat data-data pribadi yang tersimpan di dalamnya. Akhirnya…ya sudahlah relakan saja. Berharap gadget tersebut hanya hilang di rumah saja.Pesawat citilink yang akan membawa kami ke Banjarmasin dijadwalan berangkat jam 11-an. Jam 9 lebih sedikit kami sudah berada di dalam taksi yang siap meluncur ke Juanda. Sekian menit berikutnya kami sudah sampai di Juanda. Setelah proses check in selesai, kami langsung masuk ke ruang tunggu. Mulai kutemui aura Kalimantan disana. Beberapa orang di sebelahku bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Banjar yang sudah bisa kupahami dengan baik sejak aku bersuamikan orang Banjar. Anak-anak begitu antusias karena untuk anak nomor tiga dan empat, ini pertama kalinya mereka berkunjung ke tanah kelahiran abahnya. Pertama kali pula mereka naik pesawat.

Abaikan  yang berbaju merah itu....

Abaikan yang berbaju merah itu….

Alhamdulillah pesawat yang kami naiki on time dan kami menginjakkan kaki di Bandara Syamsudin Noor sekitar jam 13 karena ada selisih satu jam antara Banjarmasin dan Sidoarjo. Ada keponakan yang sudah menjemput di bandara. Sedangkan kami masih harus menunggu koper yang ternyata makan waktu lumayan lama. Aku tak ingat lagi bagaimana bandara Syamsudin Noor waktu pertama kali aku kesana sekian tahun sebelumnya. Bandara Syamsudin Noor tentu saja tidak sebesar Bandara Juanda. Segarnya bau tanah yang ditingkahi rintik hujan menyambut kedatangan kami di Banjarmasin siang itu. Udaranya yang segar mampu mengalihkan kegalauan hatiku yang tiba-tiba serasa hampa. Segera kami melanjutkan perjalanan darat menuju ke Kotabaru.

***

Dian Widyaningtyas

Biarkan kukenang setiap jengkal masa lalu yang pernah kulalui

Friday, October 24, 2014