Lidah Itu Seperti Singa

Sepertinya dari sejak tadi malam aku belum tidur. Ada sesuatu yang sedang kupikirkan dan kerenungkan. Actually nggak melulu mikir dan merenung sih. Aku masih sempat jalan ke Giant sama princesses dan baru nyampe rumah jam 22.00.  Kemudian membereskan belanjaan dan memastikan anak-anak tidur dengan nyaman di kamarnya. Setelah itu aku masuk kamar. Tidur? rencananya sih begitu. Tapi kemudian aku asyik dengan salah satu channel TV kabel dan menikmati beberapa film yang ditayangkan di sana. Entahlah sudah dua hari ini pengen lihat tayangan TV.

Terus kapan mikir dan merenungnya? You know….seorang wanita punya kemampuan untuk multi tasking kan. Jadi dia bisa saja mengerjakan lebih dari dua hal secara bersamaan dengan hasil yang tidak mengecewakan. Sekira jam 03.00 aku keluar kamar dan bikin mie instan bareng sulung yang mau sahur. Sekalian nyiapin ceker ayam untuk dipresto. Udah ada rencana bikin semur ceker ayam. Masak nasi sekalian sambil nyiapin bumbu semur. Sambil nunggu panci presto menyelesaikan tugasnya, buka netbook deh. Hayah…prolognya kepanjangan ‘bo!

Aku sedang merenungi dan sebenar-benarnya meresapi sebuah kalimat bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Karena lidah mampu menembus sampai ke dalam hati walau dengan mengucapkan sepata kata pun.

Lidah itu seperti singa. Jika anda membiarkannya lepas, itu akan melukai seseorang – Ali Bin Abi Thalib

Tidak jarang kita mengalami kejadian yang tidak mengenakkan gara-gara lidah yang kurang berhati-hati dalam bertutur. Aku pernah mengatakan hal seperti ini kepada seseorang “Fulan, jangan reseh dong. Masak iya kamu begini begitu bla bla bla” Atau “Fulana, pake jilbabnya kok begitu sih bla bla bla” dan kata-kata yang bernada negatif yang meluncur begitu saja dari lidah ini. Dan tiba-tiba saja air muka fulan dan fulana tersebut berubah. Air muka yang menyampaikan ekspresi negatif atas apa yang sudah terucap dari lidah yang tidak bertulang. Astaghfirullah….

lidah itu singa

Kita tidak pernah tahu sehalus apa perasaan lawan bicara kita. Menjadikan diri sendiri sebagai acuan tentu saja kurang tepat. Maka tindakan “think before speak” adalah hal bijaksana yang harus selalu kita upayakan ketika kita berinteraksi dengan orang lain, siapa pun orangnya dan apa pun bentuk interaksi kita. Berlaku andap asor dan tidak merasa diri sendiri paling benar dan paling baik dibanding lawan bicara, insyaAllah akan bisa menjaga lidah kita dari perkataan yang akan kita sesali kemudian. Paku yang sudah tertancap pada sebilah kayu masih bisa kita cabut kembali. Tapi apakah kita bisa begitu saja menghapus bekas tancapan paku tersebut ? So, please THINK BEFORE SPEAK.

***

Dian Widyaningtyas

#selfreminder

Menikmati jam istirahat di cubicle sambil berkejaran dengan kata-kata

Monday, June 23rd, 2014

Gambar diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s