Having Fun di Jombang

Story about us when we spent week end in my home town….

Just to make you happy, kids. Just to make you all happy…

Aisyah in action


IMG_20151010_211248

IMG_20151010_211148

IMG_20151010_211146

IMG_20151010_211134

IMG_20151010_211107

IMG_20151010_210825

IMG_20151010_210803

IMG_20151010_210724

IMG_20151010_210646

IMG_20151010_210638

***

Dian Widyaningtyas

Sunday Afternoon, just before we go back to Sidoarjo

October 11th, 2015

Filosofi Induk Ayam

Berada di kampung halaman rasanya ritme kehidupan melambat dan aku lebih bisa menikmati tiap detik yang berlalu. Everything is slow motion mode on gitu lah. Dan satu hal yang biasanya kulakan adalah menikmati hal-hal yang tidak bisa tiap hari kutemukan di dalam keseharianku.

Aku sedang berada di halaman belakang dan memperhatikan beberapa induk ayam beserta anak-anaknya ketika anakku nyelutuk “Mama kenapa sih ngelihatin ayam terus?” Hehehe aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba mataku terpaku pada induk ayam dan anak-anaknya. Pemandangan yang biasa banget sebenarnya. Nothing’s special about that. Tapi manakala kita memperhatikannya dengan pikiran dan hati yang tenang, pemandangan yang luar biasa tersebut menjadi luar biasa dan penuh makna.
Induk ayam dan anak-anaknya

                Induk ayam dan anak-anaknya

Sedari tadi kuperhatikan induk-induk ayam tersebut mematuk-matuk sesuatu di tanah sambil memberi isyarat suara kepada anak-anaknya. Seolah dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat. Dan tiap kali induk ayam melakukan hal tersebut, anak-anaknya langsung berloncatan mendekat dan melakukan hal yang sama. Induk ayam tersebut menemukan makanan rupanya, dan dia memanggil anak-anaknya untuk mendekat dan memakan makanan tersebut. Bagaimana dengan dia sendiri? Dia hanya mematuknya dan memastikan bahwa itu beneran makanan yang bisa dikonsumsi anak-anaknya sedangkan dia sendiri tidak ikut memakannya.
Ketika aku mendekat dan berniat mengabadikan momen tersebut langsung saja induk ayam gusar bukan kepalang. Bulu-bulunya menjadi berdiri dan sayapnya mengembang. Isyarat suaranya seolah memberi perintah kepada anak-anaknya untuk mundur menjauhiku, sedangkan dia bersikap antara defense dan berada pada tempatnya semula untuk melindungi anak-anaknya atau maju untuk menyerangku jika aku masih nekat mendekati mereka lebih dekat lagi. Tentu saja aku urung mendekat. Aku nggak ingin membuat ayam-ayam tersebut ketakutan. Sejatinya aku juga takut mendekati mereka lebih dekat lagi. Takut dipatuk induknya lah. Katanya dipatuk induk ayam tuh sakit hehehe.
Setelah anak-anak ayam tersebut kenyang, gantian induk ayam yang mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Itupun masih saja dia memberi isyarat kepada anak-anaknya. Tapi anak-anaknya tidak tertarik lagi untuk makan. Mereka hanya bermain-main bekejaran dengan saudaranya. Sesekali salah satu diantara mereka meloncat naik pada punggung induknya yang sedang asyik mengais makanan. Lucu sekali memperhatikan tingkah pola anak-anak ayam tersebut.
Ketika senja menjelang, induk ayam mencari tempat untuk dia dan anak-anaknya tidur. Aku tidak tahu apakah biasanya mereka memang tidur disitu atau berpindah-pindah tempat. Yang jelas induk ayam tersebut memilih tempat dibawah kandang ayam lain yang sedang mengerami telur-telurnya. Lalu anak-anaknya satu persatu mendekat dan menyelusup dibalik sayap induknya, tempat yang hangat, nyaman dan aman untuk melewatkan malam yang dingin dan mungkin saja berbahaya buat mereka.
Basic instinc, begitu aku menyebut tingkah laku induk ayam. Semua induk ayam akan melakukan hal yang sama. Semua induk mahluk hidup punya insting yang sama. Insting untuk mencukupi kebutuhan, memberi kasih sayang dan perlindungan kepada anak-anaknya. Ada rasa jengah ketika mengingat adegan dimana induk ayam membiarkan anaknya asyik bermain dipunggungnya saat dia mencari makan. Sedangkan diri ini kadang merasa sangat terganggu dengan aktifitas anak-anak yang rasanya mengusik keasyikan kita. Entah saat kita asyik membaca, asyik dengan gadget, asyik berbelanja, asyik ngobrol dengan teman dan aktifitas-aktifitas lainnya. Ah…rasanya basic instict kita sebagai seorang ibu sudah mulai luntur dikalahkan oleh egoisme kita sebagai manusia. Maka ada baiknya kita belajar tentang filosofi induk ayam dan mengembalikan basic instict kita sebagai seorang ibu.
***
Dian Widyaningtyas
Mencari kedamaian di kampung halaman
Saturday night, October 10th, 2015

Sosok Yang Kurindukan

Pernah disuatu episode hidupku di masa yang lalu, aku begitu merindukan kehadiran seseorang. Seseorang yang mungkin saja bisa mengobati segenap rasa rindu di dada, atau bahkan meluluh lantakkan segala rasa cinta yang menggelora. Waktu itu aku sedang menyelesaikan kuliahku di salah satu sekolah kedinasan dan kontrak rumah bersama teman-teman yang berasal dari SMA yang sama di perumahan Pondok Jaya.

Bukan aku saja yang merindukan kehadiran seseorang tersebut. Penghuni kontrakan yang lain juga merasakan hal yang sama. Penantian kami begitu penuh asa dari hari Senin sampai Sabtu. Ketika kami mendengar deru motornya hanya lewat begitu saja di depan kontrakan kami, tak ayal lagi ada rasa kecewa, walau sedikit, di hati kami. Tapi tatkala deru motornya berhenti di depan rumah kontrakan kami, dan beberapa saat kemudian dia memukul-mukul pagar besi bercat hitam di rumah kontrakan kami sambil teriak “Pos !!!!!!!!” sungguh tak bisa digambarkan betapa girangnya hati kami dan sontak berebut keluar. Hm…ada juga sih teman yang hanya menunggu di balik pintu karena dia harus pake jilbab segala kalau ikutan berebut keluar hehehehe…
surat-surat

surat-surat

Waktu itu komunikasi yang paling memungkinkan adalah lewat telepon untuk hal-hal darurat dan lewat surat jika banyak hal yang ingin disampaikan. Kami belum mengenal alat komunikasi handphone saat itu. Kalaupun sudah kenal mungkin kami tak mampu membelinya. Boro-boro beli handphone, sekolah aja nyari yang gratisan. Aku tak ingat lagi sejak kapan aku meninggalkan komunikasi melalui surat. Mungkin sejak aku menyelesaikan kuliah dan kembali berkumpul dengan orang tuaku. Pun saat itu seseorang yang biasanya menjadi tujuanku berkirim surat selain kepada orang tua, tak lagi merajut kisah bersama denganku…ehem….wkwkwkwk…
Tapi sungguh mengenangnya kembali, eit bukan mengenang si “rajutan kisah” itu ya, tapi mengenang rasanya menunggu surat dari orang-orang yang kita sayangi, membuatku kangen untuk berkirim surat. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini, berkirim surat the way I used to do, menjadi sangat nggak efektif dan efisien lagi. Karena begitu banyak sarana komunikasi lain yang bisa meniadakan jeda waktu yang ditimbulkan oleh sebuah proses berkirim surat.
***
Dian Widyaningtyas
Morning passes by and I’m still at the parking area…..
Friday, October 9th, 2015
Picture taken from Mbak Dheean Reean on Facebook.

Semangkuk Bumbu Pecel dan Sebuah Janji di Masa Lalu

Jam hampir menunjuk angka 12, sarapan yang kesiangan di pagi ini, dengan menu bumbu pecel dan tempe goreng tepung. Memang nggak biasa sarapan dibawah jam 10. Jangan ditanya mana sayurnya, lagi nggak mood nyiapin sayur. Punya mood untuk makan aja udah bersyukur banget hehehe.

Sarapan

Sarapan

Hari Sabtu kemarin pas beli bumbu pecel di pasar kaget, sempat nanya-nanya sama penjualnya. Tiga belas kilo bumbu pecel habis dalam waktu empat hari. Itu artinya ibu itu perlu waktu empat hari untuk mendapatkan duit Rp. 676.000,-. Itu omzet ya, bukan net pofit. Emang sih, ibu itu jual makanan lain seperti aneka rempeyek. Tapi aku bisa memperkirakan omzetnya nggak jauh dari omzet bumbu pecel. Karena dia harus pula penyesuaikan harga jual dengan daya beli pasar. Beda halnya kalo dia poles tampilan dagangannya, dan dijual kepada kalangan yang lebih mementingkan tampilan (kemasan) daripada rasa. Kalangan yang akan membayar berapa saja harga yang ditawarkan (ingat produk maicih kan?). Tapi tentu saja pikiran ibu sederhana itu nggak sampai kesana. Yang dia tahu hanya beli bahan, bikin, dan menjual langsung ke pelanggan dengan hitung-hitungan yang tak kalah sederhananya.

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Nasi pecel dan lauk tempe goreng tepung

Tiba-tiba aku jadi ingat ibuku. Ibuku dulu juga berjualan bumbu pecel seperti dia. Ibu menitipkannya di toko-toko di pasar Perak. Waktu itu ibu sudah mengantongi ijin dari departemen kesehatan. Tapi belum sampai ngurus sertifikat halal. Melihat perkembangan bisnis onlineku waktu itu, ibu memintaku untuk mengembangkan usaha bumbu pecelnya. Mungkin ibu melihat aku punya kemampuan di bidang marketing, sedangkan ibu hanya bisa memikirkan bagaimana membuat bumbu pecel yang enak. Waktu itu aku menyanggupi permintaan ibu. Tapi sampai sekarang aku belum bergerak sama sekali untuk merealisasikannya. Hingga syaraf tangan ibu terganggu pasca kecelakaan tahun lalu, yang mengakibatkan ibu kesulitan melakukan aktifitasnya sehari-hari, juga untuk memproduksi bumbu pecel lagi.

Janji tetaplah janji. Mungkin aku bisa memulainya dengan meminta ibu untuk mengajariku cara membuat bumbu pecel seenak bikinan ibu. Pun setelah itu aku harus menjajal resep itu berkali-kali seperti halnya ketika aku belajar membuat kue dengan resep baru sehingga tercipta chemitry antara aku dengan resep rahasia ibu hehehehe. Sambil memikirkan polesan apa dan cara marketing yang bagaimana yang bisa kulakukan untuk barang dagangan tersebut. Ada saran? ^_^

***

Dian Widyaningtyas

Journey of My Life

Sunday, August 16, 2015

Tanda Cinta dari Tanah Seberang

Siang ini dapat kiriman telur penyu kesukaan anak-anak dari tanah seberang. Mama mertua selalu saja ingat kesukaan cucu-cucunya di sini.

IMG_20150815_125909

Tanda Cinta

Telur Penyu

Telur Penyu

Pertama melihat orang makan telur penyu waktu dulu sarapan bareng belahan jiwa. Waktu itu udah dikhitbah dan nunggu hari H untuk ijab kabul. Beliau tau kebiasaan makanku yang amburadul. Jadi tiap pagi diajakin sarapan di warung depan kantor di GKN II Dinoyo. Namanya Warung Lumintu kalau nggak salah. Harapannya sih biar aku lahap dan teratur makannya. Apakah waktu itu aku jadi doyan makan? Malah sebaliknya. Kadang hanya beberapa sendok aja bisa masuk ke mulut. Sarapan bareng seseorang yang perlahan-lahan membuatku jatuh cinta bikin aku mendadak kenyang, grogi, salting, dan hanya berani nunduk entah ngitung butiran nasi di piring atau menyembunyikan wajah dari lirikan belahan jiwa #ihirrrrr. Kok tau kalo dilirik? Ngelirik juga ya? Wkwkwkwk

Nah di sela-sela momen seperti itu beberapa kali aku melihat belahan jiwa mengeluarkan sebutir telur penyu dari saku bajunya. Asli…dikantongi gitu aja tanpa dibungkus plastik. Aku takjub, maklum belum pernah lihat telur penyu secara langsung. Kok gak pecah ya, gitu pikirku. Cangkang telur yang lembek itu beliau sobek dan isinya beliau tuang di atas nasi yang sudah tersaji di meja kami. Aku nggak ada minat sedikit pun untuk mencicipinya.

Dikemudian hari setelah kami punya anak, ternyata anak-anak pada suka banget sama telur penyu. Persis almarhum abahnya. Kalo nggak distop, bisa-bisa semangkok besar habis dalam sehari. Segala sesuatu kalo berlebihan nggak baik kan. Jadi anak-anak harus dibatasi dan sering-sering diingatkan. Aku sendiri hanya doyan makan kuning telurnya saja. Atau telur penyu aku simpan terbuka dalam kulkas sampai isinya agak mengeras. Nah kalau yang sudah seperti itu aku doyan makannya.

Mama mertua sering banget mengirimkan tanda cintanya pada kami. Walau dipisahkan jarak ribuan kilo, tapi tidak pernah menghalangi mama untuk menunjukkan cintanya pada kami. Aku bisa mengerti bagaimana kerinduan mama mertua pada anak-anakku. Anak-anakku adalah pengobat kerinduan mama mertua pada anak lelaki satu-satunya yang telah pergi meninggalkan kami semua. Semoga Allah beri kelonggaran rizki sehingga aku dan anak-anak bisa sering-sering bersilaturahmi ke tanah seberang, mempertemukan mereka dengan nenek, kai dan leluhurnya yang lain di sana. Karena bagaimana pun juga, ada darah Bugis dan Banjar yang mengalir pada diri mereka, disamping darah Jawa dari aku.

***

Dian Widyaningtyas

In the middle of the day, on my long weekend, August 15, 2015

Suasana Hari Terakhir Pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi

Hari ini, Selasa tanggal 31 Maret 2015 adalah hari terakhir pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masih banyak saja Waib Pajak yang lebih memilih melaporkan SPT Tahunan pada detik-detik terakhir daripada jauh-jauh hari sebelumnya. Akibatnya sejak sehari yang lalu, saat kantor-kantor pelayanan pajak yang berada di komplek Jalan Jagir Wonokromo No. 104, yang terdiri dari KPP Pratama Surabaya Wonocolo, KPP Pratama Surabaya Rungkut, KPP Pratama Surabaya Karangpilang, KPP Pratama Surabaya Mulyorejo, KPP Madya Surabaya, dan Kantor Wilayah DJP Jatim I mengadakan drop box bareng di halaman depan komplek kantor, dengan mendirikan sebuah tenda yang lumayan besar, tenda tersebut dipenuhi Wajib Pajak.

Pagi tadi antrian para Wajib Pajak yang hendak menyampaikan SPT Tahunan sudah mengular di luar tenda saat aku memasuki halaman kantor pada jam 07.10 WIB. Hal ini disebabkan karena tenda belum dibuka mengingat jam layanan sudah ditentukan tepat jam 08.00 WIB. Namun begitu sudah ada beberapa Wajib Pajak yang sudah mulai kehilangan kesabaran ketika tim satgas SPT Tahunan turun pada jam layanan yang sudah ditentukan tersebut. Ah…selalu saja ada orang-orang yang bisa memicu kericuhan disaat-saat crowded seperti ini. Alhamdulillah hal tersebut tidak sampai memancing Wajib Pajak lain untuk ikutan hilang kesabaran. Mungkin orang-orang yang marah tersebut tidak tahu atau mungkin juga tidak mau tahu bahwa sebelum kami mulai duduk di kursi satgas penerimaan SPT Tahunan banyak hal-hal pendukung yang harus kami persiapkan sebelumnya demi suksesnya penerimaan SPT Tahunan.

Ok, kita lihat langsung laporan pandangan mata melalui sedikit foto yang sempat aku abadikan setelah aku selesai melaksanakan tugasku sebagai Peneliti SPT Tahunan PPh Orang Pribadi pada shift pagi, yaitu dari jam 08.00 WIB sampai dengan jam 11.30 WIB. Pictures tell many stories, don’t they?

Antrian Drob Box di Dalam Tenda

IMG_20150331_104254

IMG_20150331_104350

IMG_20150331_104547

IMG_20150331_104559

IMG_20150331_104639

IMG_20150331_104654

Antrian E-Filling di Dalam Gedung Kantor

IMG_20150331_104813

IMG_20150331_104837

IMG_20150331_104947

IMG_20150331_104956

Ada cara lebih mudah untuk menyampaikan pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi formulir 1770 S dan 1770 SS, yaitu dengan melalui e-filling. Wajib Pajak tinggal mendaftar di kantor-kantor palayanan pajak atau mendaftar sendiri melalui website http://www.pajak.go.id untuk mengaktifkan layanan tersebut. Selanjutnya Wajib Pajak bisa mengisi dan melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi formulir 1770 S dan 1770 SS dimana saja yang terdapat jaringan internet. Bahkan Wajib Pajak bisa melakukannya dengan memanfaatkan smartphone maupun tabletnya.

IMG_20150331_105029

IMG_20150331_104929

IMG_20150331_104858

Demikian laporan pandangan mata sampai dengan jam 13.00 WIB. Masih ada kesempatan beberapa jam kedepan bagi Wajib Pajak untuk menyampaikan laporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun pajak 20014. Sesuai surat edaran terbaru, batas waktu pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun pajak 2014 adalah pada hari ini tanggal 31 Maret 2015 sampai dengan jam 18.00 WIB (pengambilan nomor antrian). Manfaatkan waktu yang tinggal beberapa jam tersebut sebaik-baiknya.

***

Dian Widyaningtyas

Diantara crowdednya penerimaan SPT Tahunan, March 31th, 2015

Menggali Potensi dalam Keterbatasan

Membaca judul di atas jangan lantas dikaitkan dengan salah satu tugas Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (aku adalah Account Representative pada sebuah Kantor Pelayanan Pajak di Surabaya). Jangan pula dikaitkan dengan isu pembagian kerja para Account Representative yang mungkin akan diberlakukan mulai 1 April 2015, yang mana Account Representative akan dibagi menjadi dua berdasarkan fungsinya yaitu Account Representative Penggalian Potensi dan Account Representative Konsultasi. Sungguh, tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu.

Hari Selasa malam tanggal 16 Maret 2015, setelah tidur beberapa saat sepulang kantor, aku memutuskan untuk mengunjungi Giant. Ada beberapa barang yang kuperlukan dalam rangka kegiatan business day anak-anak di sekolah. Disamping itu ada beberapa kebutuhan dapur yang perlu kubeli. Aku lebih suka mengunjungi Giant pada saat malam hari dan diluar weekend karena suasananya lumayan sepi pengunjung.

Seperti biasa, aku menyisir hampir setiap sudut supermarket yang letaknya hanya sekitar lima menit dari rumahku. Walau daftar belanjaan sudah ada di kepala dan hanya perlu beberapa barang saja, tapi hati tak puas rasanya jika kaki ini belum menyisir inci demi inci lantai supermarket. Di salah satu space, di dekat rak-rak yang berisi sandal santai, terdapat rak yang menarik perhatianku karena pada kunjunganku sebelumnya rak itu tidak ada disana. Kupikir itu adalah item baru yang dijual oleh Giant. Setelah kudekati, ternyata itu adalah sebuah stand milik perkumpulan saudara-saudara kita yang menyandang tuna daksa. Mereka menjual aneka kerajinan berbahan kain. Ada mainan, dompet, tas mukena, tas jinjing, dan lain-lain.

IMG_20150317_201044

Fabric crafting

Mataku langsung berbinar-binar melihat benda-benda yang terbuat dari kain tersebut. Maklum saja, aku sangat menyukai kerajinan yang terbuat dari kain. Bagiku, kain tuh amazing banget, dia bisa dibuat untuk apa saja, dari baju sampai mainan. Diantara beberapa barang yang terbuat dari kain dan perca yang dipajang disana, aku menemukan benda berbentuk bulat yang didalamnya diisi dacron. Orang biasanya menyebutnya dengan pincushion yang berfungsi untuk menancapkan jarum pentul agar tidak tercecer dimana-mana saat kegiatan jahit menjahit. Aku membeli sebuah pincushion dengan motif bunga-bunga ceria berpadu dengan motif garis hijau putih yang segar seharga dua puluh ribu rupiah. Sebenarnya mudah sekali bikin pincushion, tapi aku salut dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman kita yang menyandang tuna daksa tersebut.

Pincushion

Pincushion

Saat teman kita yang sedang jaga stand membuatkan nota untukku, aku melihat-lihat barang-barang lain yang dipajang di sana. Bagus-bagus, rapi dan kuat jahitannya. Orang tak akan percaya bahwa semua barang tersebut adalah buah karya dari teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik.

fabric bags

fabric bags

Aku sudah hendak membayar pincushion ketika pandangan mataku tertumbuk pada sebuah tas di sudut rak bagian bawah. Tas tersebut berbahan blue jeans dengan tampilan yang sangat sederhana. Tapi justru karena modelnya yang sederhana itulah aku langsung tertarik. Tas tersebut merupakan jenis sling bag dengan model bag messanger atau ada juga yang menyebutnya Mr. Postman bag. Aku paling suka dengan model seperti itu. Aku bisa menyilangkannya di pundakku sementara tanganku bisa leluasa bergerak atau sekedar melenggang santai. Tas yang di dalamnya terdapat tempat untuk menyimpan netbook dan beberapa kantong tersebut harganya seratus tujuh puluh ribu rupiah. Harganya sangat rasional, bahkan cenderung sangat murah kalau menurutku.

My new sling bag

My new sling bag

Sebenarnya aku tidak begitu membutuhkan tas baru. Tapi melihat teman-teman penyandang tuna daksa, yang sudah bersusah payah menghasilkan benda-benda tersebut dalam segala keterbatasan fisik mereka, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Bukan…ini bukan rasa kasihan kepada mereka. Tapi ini adalah rasa salut atas apa yang sudah mereka lakukan. Bisa saja mereka turun ke jalan dan menengadahkan tangan-tangan mereka untuk memohon belas kasihan orang lain. Tapi mereka masih punya harga diri, sebab itulah mereka lebih memilih untuk melakukan hal yang lebih mulia yaitu menjual kerajinan tangan. Kepada orang-orang semacam inilah kita pantas mengacungkan dua jempol kita. Salut !!!

***

Dian Widyaningtyas

late at night, alone but not lonely

Saturday, March 21st, 2015

Irresponsible People

So many irresponsible people along the way this morning. Ada pengendara motor yg berhenti di depanku, sementara pengendara mobil dari arah berlawanan juga berhenti di titik yang sama. Pengendara motor turun menghampiri pengendara mobil, entah apa yg mereka bicarakan. Yang jelas di jalan yang sempit itu mobilku stuck nggak bisa jalan gara-gara ulah mereka. Saat kunyalakan klakson, eh pengendara mobil menyuruhku untuk sabar. Jadi orang lain disuruh sabar sedangkan mereka nggak kira-kira menggunakan jalan. How selfish you are, Sir !

IMG_20150225_065800

What a morning…

Di jalan lain yang tak kalah sempitnya, ditambah lagi di depan ada bottle neck sehingga mobil kami harus gantian jalan, eh ada pengendara motor yang nekat nyalip dan disaat yg sama, mobil dari arah berlawanan sudah berhasil keluar dari bottle neck disusul beberapa mobil lain. Tapi mobil-mobil dari arah berlawanan itu terpaksa stuck gara-gara ulah pengendara motor yang nekat nyalip dan menuhi jalan. Maklum, mobil paling depan dari arah berlawanan tadi mobil fortuner yang tentu saja membutuhkan space lebih lebar dibanding mobil lain. Kalao yang paling depan stuck, otomatis mobil yang posisinya masih di bottle neck nggak bisa keluar dan akibatnya mobil dari arahku juga nggak bisa maju. Stuck deh sekian menit. Hadeh….gara-gara ulah satu pengendara motor, merugikan banyak orang.

Di sepanjang jalan Wisma Tropodo yang sangat lebar tapi dipenuhi oleh penjual makanan di kiri-kanan jalan yang mengakibatkan jalanan tersebut menjadi sempit, ada seorang ibu yang menghentikan mobil seenaknya sendiri. Mobilnya kurang menepi sehingga mobil-mobil lain baik dari arahku maupun mobil-mobil di belakang dia nggak bisa jalan. What’s on her mind sih? Kok bisa-bisanya dia parkir seenak udelnya sendiri tanpa memperhitungkan apakah mobil lain terhalang atau enggak. Jangan-jangan ibu itu nggak punya udel hehehe.

Ya sudahlah, inilah negeriku tercinta Indonesia Raya. So many irresponsible people along the way. Dinikmati saja, dan direlakan sekian puluh ribu yang melayang gara-gara telat ngantor setelah berjibaku dengan kekacauan pagi tadi. Alhanmdulillah masih bisa kunikmati pagi yang cerah ini dengan bercengkerama dengan anak-anak saat aku mengantar mereka ke sekolah. Alhamdulillah kumasih diberi kesempatan untuk jalani hidup ini. Itu artinya aku diberi kesempatan untuk berbuat lebih baik dari kemarin. Alhamdulillah….

***

Dian Widyaningtyas

Almost lunch time, Tuesday, March 17th, 2015