Menggali Potensi dalam Keterbatasan

Membaca judul di atas jangan lantas dikaitkan dengan salah satu tugas Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (aku adalah Account Representative pada sebuah Kantor Pelayanan Pajak di Surabaya). Jangan pula dikaitkan dengan isu pembagian kerja para Account Representative yang mungkin akan diberlakukan mulai 1 April 2015, yang mana Account Representative akan dibagi menjadi dua berdasarkan fungsinya yaitu Account Representative Penggalian Potensi dan Account Representative Konsultasi. Sungguh, tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu.

Hari Selasa malam tanggal 16 Maret 2015, setelah tidur beberapa saat sepulang kantor, aku memutuskan untuk mengunjungi Giant. Ada beberapa barang yang kuperlukan dalam rangka kegiatan business day anak-anak di sekolah. Disamping itu ada beberapa kebutuhan dapur yang perlu kubeli. Aku lebih suka mengunjungi Giant pada saat malam hari dan diluar weekend karena suasananya lumayan sepi pengunjung.

Seperti biasa, aku menyisir hampir setiap sudut supermarket yang letaknya hanya sekitar lima menit dari rumahku. Walau daftar belanjaan sudah ada di kepala dan hanya perlu beberapa barang saja, tapi hati tak puas rasanya jika kaki ini belum menyisir inci demi inci lantai supermarket. Di salah satu space, di dekat rak-rak yang berisi sandal santai, terdapat rak yang menarik perhatianku karena pada kunjunganku sebelumnya rak itu tidak ada disana. Kupikir itu adalah item baru yang dijual oleh Giant. Setelah kudekati, ternyata itu adalah sebuah stand milik perkumpulan saudara-saudara kita yang menyandang tuna daksa. Mereka menjual aneka kerajinan berbahan kain. Ada mainan, dompet, tas mukena, tas jinjing, dan lain-lain.

IMG_20150317_201044

Fabric crafting

Mataku langsung berbinar-binar melihat benda-benda yang terbuat dari kain tersebut. Maklum saja, aku sangat menyukai kerajinan yang terbuat dari kain. Bagiku, kain tuh amazing banget, dia bisa dibuat untuk apa saja, dari baju sampai mainan. Diantara beberapa barang yang terbuat dari kain dan perca yang dipajang disana, aku menemukan benda berbentuk bulat yang didalamnya diisi dacron. Orang biasanya menyebutnya dengan pincushion yang berfungsi untuk menancapkan jarum pentul agar tidak tercecer dimana-mana saat kegiatan jahit menjahit. Aku membeli sebuah pincushion dengan motif bunga-bunga ceria berpadu dengan motif garis hijau putih yang segar seharga dua puluh ribu rupiah. Sebenarnya mudah sekali bikin pincushion, tapi aku salut dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman kita yang menyandang tuna daksa tersebut.

Pincushion

Pincushion

Saat teman kita yang sedang jaga stand membuatkan nota untukku, aku melihat-lihat barang-barang lain yang dipajang di sana. Bagus-bagus, rapi dan kuat jahitannya. Orang tak akan percaya bahwa semua barang tersebut adalah buah karya dari teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik.

fabric bags

fabric bags

Aku sudah hendak membayar pincushion ketika pandangan mataku tertumbuk pada sebuah tas di sudut rak bagian bawah. Tas tersebut berbahan blue jeans dengan tampilan yang sangat sederhana. Tapi justru karena modelnya yang sederhana itulah aku langsung tertarik. Tas tersebut merupakan jenis sling bag dengan model bag messanger atau ada juga yang menyebutnya Mr. Postman bag. Aku paling suka dengan model seperti itu. Aku bisa menyilangkannya di pundakku sementara tanganku bisa leluasa bergerak atau sekedar melenggang santai. Tas yang di dalamnya terdapat tempat untuk menyimpan netbook dan beberapa kantong tersebut harganya seratus tujuh puluh ribu rupiah. Harganya sangat rasional, bahkan cenderung sangat murah kalau menurutku.

My new sling bag

My new sling bag

Sebenarnya aku tidak begitu membutuhkan tas baru. Tapi melihat teman-teman penyandang tuna daksa, yang sudah bersusah payah menghasilkan benda-benda tersebut dalam segala keterbatasan fisik mereka, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Bukan…ini bukan rasa kasihan kepada mereka. Tapi ini adalah rasa salut atas apa yang sudah mereka lakukan. Bisa saja mereka turun ke jalan dan menengadahkan tangan-tangan mereka untuk memohon belas kasihan orang lain. Tapi mereka masih punya harga diri, sebab itulah mereka lebih memilih untuk melakukan hal yang lebih mulia yaitu menjual kerajinan tangan. Kepada orang-orang semacam inilah kita pantas mengacungkan dua jempol kita. Salut !!!

***

Dian Widyaningtyas

late at night, alone but not lonely

Saturday, March 21st, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s