Martabak Belajaran

Aisyah pengen bikin martabak manis. Sesiangan dia nyari-nyari resep di internet. Habis isya dia eksekusi resepnya. Kocok-kocok, campur ini itu, lalu tuang ke pan teflon. Emaknya males ngeluarin pan besi karena adonannya cuman seporsi aja.

Martabaknya bantat. Nggak berpori seperti yang dijual orang. Emaknya sebenarnya tahu dimana letak salahnya. Tapi sengaja membiarkan dia asyik mengeksekusi resep sendiri. Biar ntar dia tahu bedanya. Setelah selesai, baru emaknya ngasih tahu salahnya dimana. Kalo nggak salah kan nggak belajar ya dek. Keep learning ya, sayang 😘😍

Sesaat setelah diiris-iris, martabak gagal itu langsung kami serbu sampai habis. Alhamdulillah walo bantat tetep aja enak di lidah kami 😘

***

Menikmati kebersamaan,

Night, December 22nd, 2018

Fauzan and His Courage

Fauzan adalah anak bungsuku yang tahun ini memasuki usia ketujuh. Tapi dimataku selalu saja dia menjadi anak kecil yang lemah dan aku cenderung over protect terhadapnya. Ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang kurus kecil dan anaknya yang cenderung pendiam membuatku masih saja memperlakukannya tak ubahnya seperti dua atau tiga tahun silam. Padahal kalau saja mata ini mau terbuka, banyak hal yang mengejutkan yang ditunjukkan Fauzan mengiringi semakin bertambahnya usia dia.

Seperti halnya malam kemarin, sewaktu kami ke dokter gigi. Itu pengalaman pertama bagi Fauzan. Dua hari sebelumnya dia mengeluhkan lidahnya yang bagian depan sering terasa sakit manakala menyentuh “sesuatu” yang tajam dibelakang gigi depan bagian bawah. Aku tiba-tiba teringat akan satu hal. Di umur-umur dia sekarang, bukankah waktunya gigi susunya tanggal? Kenapa aku nggak aware akan hal ini? Aku agak menyesali keteledoranku. Ketika kuperiksa, memang bisa kupastikan ada gigi yang sudah mulai tumbuh dibelakang gigi depan bagian bawah. Dalam bahasa Jawa ini istilahnya “kesundulan”, dan gigi yang kesundulan tadi sudah mulai menguat lagi. Segera kupeluk dia sambil membayangkan ruang praktek dokter gigi yang sampai saat ini masih menjadi hal horor bagiku. Mungkin aku memeluknya lebih kepada memberikan ketenangan untuk diriku sendiri, sedangkan Fauzan tetap tenang-tenang saja.

gopixpic

Dokter gigi memutuskan untuk memberikan suntikan obat bius ke gusi Fauzan. Dengan sedikit bernada protes kupertanyakan keputusan dokter tersebut.

“Dok, nggak pakai semprotan saja untuk membiusnya?” Aku ngeri membayangkan gusi Fauzan ditembus jarum kecil.

Kudengar dokter meminta persetujuan Fauzan, apakah mau pakai suntikan atau disemprot cairan dingin yang rasanya seperti es. Diluar dugaanku ternyata Fauzan memilih untuk disuntik saja. Dan tiba-tiba saja rasa aneh menjalari seluruh rongga mulutku. Aku tidak sanggup melihat Fauzan yang sedari awal sudah duduk di kursi periksa.

“Mamanya ini gimana sih, anaknya minta disuntik kok malah disuruh pakai semprotan” Kata dokter sambil senyum-senyum.

Aku tak sanggup lagi melihat Fauzan. Aku hanya mampu melihat ujung kakinya dan memperhatikan kalau-kalau ujung kaki itu mengejang menahan takut ataupun sakit. Tapi kulihat kaki Fauzan wajar-wajar saja. Dan dalam hitungan sekian detik selesai sudah proses pencabutan gigi susu Fauzan setelah disudahi dengan berkumur-kumur. Aku masih penasaran dengan penasaran dengan keputusan dokter dengan memberinya suntikan obat bius.

“Dok, kenapa dokter lebih memilih suntikan daripada semprotan?” Tanyaku.

“Karena giginya sudah nggak goyang lagi, Bu. Jadi agak susah mencabutnya. Anaknya loh berani. Mamanya yang terlalu khawatir. Saya jadinya grogi tadi” Jawab dokter panjang.

I see… I see…. dengan gigi susu yang kembali kuat lagi, kemungkinan rasa sakitnya lebih besar saat pencabutan jika dibanding gigi susu yang masih dalam kondisi goyah. Karena itu dibutuhkan bius yang sedikit lebih kuat. Aku menyimpulkannya sendiri.

Sampai pagi aku tidak perlu meminumkan pain killer yang sudah kusiapkan sebelumnya. Kondisi Fauzan stabil. Satu hal yang aku khawatirkan adalah luka bekas giginya dicabut akan menimbulkan rasa nyeri dan mengakibatkan demam setelah efek biusnya hilang. Alhamdulillah kekhawatiranku tidak terjadi. Keberanian demi keberanian mulai ditunjukkan oleh lelaki kecilku. Pelan-pelan aku harus membiasakan diri dengan keberanian dan kemandiriannya. Mama is proud of you, Dek…

***

Dian Widyaningtyas

January 20th, 2015

Ilustrasi diambil dari gopixpic.com

Another Side of My Daughter

Beberapa minggu lalu Hanifah memberitahukan kepadaku bahwa dia lolos kompetisi matematika dan harus mempersiapkan diri untuk kompetisi selanjutnya. Sebelumnya aku sudah mendengar kabar tersebut dari kakaknya yang disampaikan kepadaku sambil lalu. Rupanya kakaknya sudah tahu terlebih dahulu tentang pengumuman itu karena dia aktif di OSIS. Reaksiku agak kaget juga karena aku tidak pernah melihat Hanifah mempersiapkan kompetisi tersebut secara khusus sebelumnya. Jangankan persiapan kompetisi, belajar rutin aja dia ogah-ogahan. Kakaknya berkutat dengan buku-buku pelajaran, dia malah asyik dengan hal lain.

Lalu aku melupakan pembicaraan tersebut karena tenggelam dalam kesibukan lain dan membiarkan Hanifah mempersiapkan kompetisi itu sendiri. Anak-anak memang kudidik untuk mandiri. Tapi satu hal yang membuatku lebih mengamati Hanifah dalam diam, aku menemukan satu hal lagi yang bisa membuatnya percaya diri. Diantara saudara-saudaranya yang lain memang Hanifah paling pendiam jika di luar rumah. Semua ustadzah dan ustadz yang pernah menjadi gurunya memberikan komentar yang sama “Mbak Hanifah diam ya, Bu” Aku tak pernah mendapatkan komentar lain selain itu. Padahal di rumah semua wajar-wajar saja, pun dimataku dia adalah anak yang cerdas.

Aku sering mengamati akun-akunnya di media sosial. Banyak teman yang mengapresiasi gambar-gambar yang dia upload di media sosial. Itu bukan foto-foto selfie khas ABG melainkan gambar karya dia. Ada saat-saat tertentu dia begitu asyik menggambar pada sketch book berukuran besar dan meminjam alat-alat tulis dan gambar yang kumiliki. Gambarnya bagus menurutku. Karena aku nggak bisa menggambar seperti itu. Kemudian aku menangkap pembicaraan dia dan kakaknya beberapa kali menyebut kata-kata “poster”. Hanifah membicarakannya dengan antusias. Waktu pengambilan rapor kemarin, wali kelasnya memberitahukan kepadaku bahwa Hanifah memenangi lomba pembuatan poster. Well…agak surprise buatku mengetahui anakku yang nomor dua meminati bidang seni. Mengingat emaknya jauh banget dari hal-hal yang berhubungan dengan seni. Malah dulu waktu ada pelajaran kesenian, keterampilan dan olah raga, pengen banget rasanya melarikan diri dari kelas atau lapangan. Lha terus apa hubungannya dengan semua itu yak? Ya…kali aja itu adalah suatu gen yang diturunkan gitu. Tapi emang abahnya pinter dalam hal seni sih. Nurun dari abahnya ‘kali ya. The point is, aku menemukan satu hal lagi yang seharusnya bisa membuat Hanifah lebih percaya diri di luar rumah. Jadi ceritanya aku sedang berusaha keras membuatnya percaya diri di depan teman-temannya.

So, hari Minggu tanggal 21 Desember 2014 jam 09.00 kami, aku dan Hanifah, berangkat ke lokasi kompetisi. Sepanjang perjalanan itu kami ngobrol-ngobrol dengan santai. Sesekali kulontarkan sugesti positif kepadanya.

Kartu ifa

“Berapa orang teman dek Ifah yang ikut kompetisi?” Tanyaku.

“Banyak, Ma. Tapi yang sekelas sama dek Ifah nggak ada” Jawabnya.

“Hm….”

“Yang dari kelasnya dek Ifah cuman dek Ifah saja” Lanjut Ifah setelah menangkap kebingunganku.

“Apakah mereka nggak ikut tes babak penyisihan?” Tanyaku lagi.

“Ikut, Ma..” Which means she is the only one yang lolos babak tersebut in her class.

“Tuh kan…dek Ifah tuh cerdas. Buktinya dengan sedikit belajar saja, dek Ifah bisa sampai ke babak ini. Apalagi kalau dek Ifah mau belajar lebih serius lagi” Kataku menyemangatinya.

“Kemarin Ustadzah wali kelas juga bilang sama Mama kalau dek Ifah menang juara lomba pembuatan poster. Juara berapa, Dek?”

“Juara satu” jawabnya pendek. Kulihat dengan sudut mataku, dia sedang memperhatikan lalu lintas yang mulai padat saat itu.

“Dek Ifah hebat! Mama nyerah deh. Mama nggak bisa menggambar. Dek Ifah suka ya bikin poster?

“Suka” masih saja dia menjawabnya dengen pendek.

“Ya udah kalau dek Ifah suka tetaplah menggambar tapi jangan lupa belajarnya ya” Dia hanya menggangguk.

Kami ngobrol banyak waktu itu. Mostly sih aku mencoba membangun kepercayaan dirinya dengan kalimat-kalimat afirmasi positif. Aku berharap semoga pembicaraan kami mengena di benaknya.

***

 

Dian Widyaningtyas

Crossing the crowded road along with my first daughter

Sunday, December 21st, 2014

#latepost