Selamat Pagi Asa

Don’t you know ketika seorang mama sakit, maksudku bener-bener sakit sehingga dia tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti biasanya, it feels like the world stop turning. Freezed. Tak ada masakan yang tersaji dengan layak di meja, baju kotor teronggok di dekat mesin cuci, piring kotor makin meninggi di bak cuci piring, lantai kotor berhias kertas bekas aktivitas anak-anak dimana-mana, dan sederet kekacauan lain yang tubuh ini tak mampu untuk membereskannya. Sungguh situasi dan kondisi yang nggak enak banget.

Tak ada gunanya kalau hanya meratapi keadaan, menyesali apa yang terjadi, merutuki penyakit yang singgah dan hal-hal negatif lainnya. Serahin saja pada ahlinya. InsyaAllah dia tahu lebih baik dari kita eventhough itu adalah tubuh kita sendiri. Sore kemarin dapat nasehat privately dari seorang teman tentang hal ini. MasyaAllah…nyess banget knowing that there’s someone cares that much to me. Makanya sekarang semangat minum obat yang sampe lima macam itu. As you know sebelumnya aku paling anti sama obat kimia yang menurutku hanyalah butiran racun belaka.
wp-1460510343903.jpeg
Satu hal yang kurasakan sangat membantu pemulihan kesehatan adalah semangat. Mungkin efeknya lebih dasyat daripada obat-obat yang diberikan dokter. Seperti tadi malam ketika aku begitu bersemangat melakukan hal-hal yang sangat kusukai, rasanya sakit pergi begitu saja entah kemana. Then i just felt alive!
Maka pagi ini kusambut hari dengan semangat baru, think positively, and easy going.
Selamat pagi asa
Senang sekali bertemu denganmu
Diantara burung-burung yang bernyanyi dan menari
Diantara sinar mentari yang lembut menyapa
Diantara semua rahasia Allah yang bakal kutemui hari ini
Aku tahu kau ada di sana
***
Dian Widyaningtyas
Pagi yang cerah, di halaman parkir kantor
Wednesday, April 13, 2016

Irresponsible People

So many irresponsible people along the way this morning. Ada pengendara motor yg berhenti di depanku, sementara pengendara mobil dari arah berlawanan juga berhenti di titik yang sama. Pengendara motor turun menghampiri pengendara mobil, entah apa yg mereka bicarakan. Yang jelas di jalan yang sempit itu mobilku stuck nggak bisa jalan gara-gara ulah mereka. Saat kunyalakan klakson, eh pengendara mobil menyuruhku untuk sabar. Jadi orang lain disuruh sabar sedangkan mereka nggak kira-kira menggunakan jalan. How selfish you are, Sir !

IMG_20150225_065800

What a morning…

Di jalan lain yang tak kalah sempitnya, ditambah lagi di depan ada bottle neck sehingga mobil kami harus gantian jalan, eh ada pengendara motor yang nekat nyalip dan disaat yg sama, mobil dari arah berlawanan sudah berhasil keluar dari bottle neck disusul beberapa mobil lain. Tapi mobil-mobil dari arah berlawanan itu terpaksa stuck gara-gara ulah pengendara motor yang nekat nyalip dan menuhi jalan. Maklum, mobil paling depan dari arah berlawanan tadi mobil fortuner yang tentu saja membutuhkan space lebih lebar dibanding mobil lain. Kalao yang paling depan stuck, otomatis mobil yang posisinya masih di bottle neck nggak bisa keluar dan akibatnya mobil dari arahku juga nggak bisa maju. Stuck deh sekian menit. Hadeh….gara-gara ulah satu pengendara motor, merugikan banyak orang.

Di sepanjang jalan Wisma Tropodo yang sangat lebar tapi dipenuhi oleh penjual makanan di kiri-kanan jalan yang mengakibatkan jalanan tersebut menjadi sempit, ada seorang ibu yang menghentikan mobil seenaknya sendiri. Mobilnya kurang menepi sehingga mobil-mobil lain baik dari arahku maupun mobil-mobil di belakang dia nggak bisa jalan. What’s on her mind sih? Kok bisa-bisanya dia parkir seenak udelnya sendiri tanpa memperhitungkan apakah mobil lain terhalang atau enggak. Jangan-jangan ibu itu nggak punya udel hehehe.

Ya sudahlah, inilah negeriku tercinta Indonesia Raya. So many irresponsible people along the way. Dinikmati saja, dan direlakan sekian puluh ribu yang melayang gara-gara telat ngantor setelah berjibaku dengan kekacauan pagi tadi. Alhanmdulillah masih bisa kunikmati pagi yang cerah ini dengan bercengkerama dengan anak-anak saat aku mengantar mereka ke sekolah. Alhamdulillah kumasih diberi kesempatan untuk jalani hidup ini. Itu artinya aku diberi kesempatan untuk berbuat lebih baik dari kemarin. Alhamdulillah….

***

Dian Widyaningtyas

Almost lunch time, Tuesday, March 17th, 2015

Hidup Adalah Pilihan

Beberapa waktu lalu aku sedikit dikejutkan dengan sebuah ketentuan kepegawaian baru. Ketentuan kepegawaian yang baru tersebut mengharuskan setiap pegawai untuk memilih kota yang diinginkan dalam hal terjadi mutasi atau promosi. Sebenarnya aku kurang paham karena terus terang aku belum pernah membaca ketentuan tersebut secara mendetil. Aku kurang yakin bagaimana bunyi ketentuannya, apakah disitu menyebutkan kata “diharuskan” atau hanya sekedar “dihimbau” saja. Tapi bagiku sama saja. Daripada nggak memilih terus dipilihkan dan ternyata nggak sesuai dengan keinginan, ya mending milih sendiri.

Kupikir ketentuan tersebut cukup adil dan sangat memihak pada para pegawai di instansiku mengingat sekian tahun silam ketika kami mendaftar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang merupakan akses kami untuk bisa mengabdi di Kementerian Keuangan, pada waktu itu kami sudah menandatangani kesanggupan untuk ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi menurutku, kalau saat ini kami diberi kesempatan untuk memilih di kota mana kami ingin mengabdi jika ada mutasi atau promosi, tentu saja ini adalah sebuah kemurahan hati yang diberikan kepada kami.

Awalnya aku sudah akan memilih tanpa pertimbangan apapun. Masih pelaksana ini, paling-paling mutasinya hanya intern di dalam satu kantor wilayah. Itu yang ada dalam pikiranku. Easy going saja menentukan lima kota tujuan mutasi. Ya aturan tersebut mengharuskan (atau menghimbau?) kami untuk memilih lima kota tujuan mutasi. Tapi setelah baca ketentuan bahwa Account Representative sangat dimungkinkan untuk mutasi antar kantor wilayah, ditambah pula ada pemberitahuan dari kepegawaian bahwa tahun depan aku akan naik pangkat dan golongan dimana hal itu lebih memungkinkan diriku untuk mutasi keluar kantor wilayah, maka pilihan lima kota tidak bisa kulakukan dengan easy going saja tanpa pertimbangan yang matang. Akhirnya aku batal mengisi dan kembali tenggelam dalam kesibukan lainnya sambil sesekali mempertimbangkan kota apa yang akan kuisikan di aplikasi tersebut.

Semakin mendekati akhir Oktober 2014, pihak kepegawaian semakin sering mengingatkan untuk segera melakukan pilihan lima kota pada aplikasi kepegawaian yang bisa kami akses secara mandiri. Dan seperti biasa, semakin diobrak-obrak maka semakin cueklah diriku. Sebenarnya nggak cuek beneran sih, mikir juga kok tapi berusaha untuk tidak diperlihatkan di depan umum. Pernah sekali minta pertimbangan seorang teman. Jawabannya sangat menyejukkan hati. Dia menyuruh aku untuk shalat Istikharah. Dan sayangnya aku terlupa terus untuk melaksanakan shalat ini, sedangkan deadline pengisian paling lambat tanggal 31 Oktober 2014. Tidak mungkin aku mengisinya di detik-detik terakhir, khawatir saja kalau-kalau aplikasinya tiba-tiba ngadat saat injury time.

Akhirnya tanggal 29 Oktober 2014 sore, saat teman-teman sudah pulang, aku buka aplikasi kepegawaian. Saatnya aku untuk menentukan pilihan lima kota tujuan mutasi. Aku sangat menyadari bahwa hidup adalah pilihan. Dan pilihan kita saat ini akan menentukan bagaimana nasib kita selanjutnya.

Pilihan lima kota

Pilihan lima kota

Kota Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik adalah tiga pilihan yang sangat mudah untuk ditentukan. Alasannya tentu saja karena letaknya yang sangat dengat dengan homebaseku yang berada di Sidoarjo. Kota ke-empat mulai perlu sedikit pertimbangan. Ada tiga alternatif kota yang masuk pertimbanganku yaitu Pasuruan, Mojokerto dan Lamongan. Pasuruan akhirnya kucoret dari list. Aku sama sekali asing dengan daerah ini walau relatif dekat dengan Sidoarjo. Mojokerto sangat akrab denganku karena dulu belahan jiwa pernah bertugas disana dan aku sering mengunjungi kantornya. Tapi kemacetan di daerah Kletek menjadi pertimbangan kenapa aku pada akhirnya menghapus kota ini dari list. Akhirnya yang tersisa adalah kota Lamongan. Kota yang akrab pula denganku karena belahan jiwa juga pernah bertugas disana dan aku sering pula mengunjungi kantornya. Mau atau tidak, suka atau tidak, atas pertimbangan rasional, aku harus memasukkan Lamongan sebagai salah satu tujuan mutasi walau sesekali ada rasa perih jika mengenang kota ini, mengingat belahan jiwa meninggal disana. Perjalanan ke Lamongan sebagian besar melewati tol sehingga tidak semacet perjalanan ke Mojokerto.  Walau kadang terjadi kemacetan di daerah Duduksampeyan tapi keadaan itu relatif masih bisa ditolerir.

Sesuai aturan mainnya, untuk kota ke-lima aku harus memilih yang agak jauh. Pertimbanganku kali ini adalah kota tersebut dekat dengan bandara udara. Dua kota yang masuk list adalah Jakarta dan Banjarbaru.  Saat aku menentukan kantor di Jakarta secara spesifik, yaitu kantor yang lokasinya paling dekat dengan bandara udara, ternyata sistem hanya mengakomodasi kota Jakarta saja. Padahal sekian puluh kantor pajak tersebar di Jakarta dan bisa saja aku mutasi ke kantor yang malah sangat jauh dengan bandara udara. Maka aku urung memilih Jakarta. Yang tersisa adalah Banjarbaru. Memang dekat dengan bandara udara dan aku lumayan familiar dengan kota ini karena belahan jiwa berasal dari Kalimantan Selatan.

Finally..

Finally..

This is it !! Akhirnya dengan mengucap bismillah, kumantabkan hati untuk mengeksekusi pilihan tersebut. Aku jadi teringat buku cerita yang menyajikan beberapa alternatif ending cerita kepada pembaca sesuai dengan alur cerita yang dipilihnya. Bedanya dalam buku cerita tersebut pembaca bisa tahu terlebih dulu ending ceritanya jika dia cheating dengan membaca dari belakang. Lain halnya dengan pilihan lima kota ini, aku tidak tahu akan seperti apa endingnya. Aku hanya pasrah kemana takdir hidup akan membawaku dan selalu berbaik sangka pada Allah, bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk aku dan anak-anakku.

***

Dian Widyaningtyas

Almost dawn on Thursday, October 30, 2014

Mbak Siti Bikin Rempong

Sekira dua minggu lebih kompor gas di dapur nggak bisa dinyalain pake tombol yang tersedia. Harus pake bantuan korek api segala. Sebenarnya aku tahu penyebabnya. Aku menggunakan kompor gas merk Quantum (bukan ngiklan loh ya, tapi di blogku ini boleh menyebutkan merk demi tersampaikannya info yang sebenarnya) dengan pemantik elektrik. Jadi ketika kompor gas tidak bisa dinyalakan, kemungkinan ada masalah dengan sistem pemantik elektriknya, entah baterainya yang habis atau kabelnya yang tidak tersambung dengan baik. Hanya saja aku belum ada minat untuk memperbaikinya. Jadilah selama itu kami menggunakan korek api untuk menyalakan kompor.

Continue reading