Martabak Belajaran

Aisyah pengen bikin martabak manis. Sesiangan dia nyari-nyari resep di internet. Habis isya dia eksekusi resepnya. Kocok-kocok, campur ini itu, lalu tuang ke pan teflon. Emaknya males ngeluarin pan besi karena adonannya cuman seporsi aja.

Martabaknya bantat. Nggak berpori seperti yang dijual orang. Emaknya sebenarnya tahu dimana letak salahnya. Tapi sengaja membiarkan dia asyik mengeksekusi resep sendiri. Biar ntar dia tahu bedanya. Setelah selesai, baru emaknya ngasih tahu salahnya dimana. Kalo nggak salah kan nggak belajar ya dek. Keep learning ya, sayang 😘😍

Sesaat setelah diiris-iris, martabak gagal itu langsung kami serbu sampai habis. Alhamdulillah walo bantat tetep aja enak di lidah kami 😘

***

Menikmati kebersamaan,

Night, December 22nd, 2018

Advertisements

Bahagia dari Sudut Pandang yang Berbeda

Ada beberapa kejadian akhir-akhir ini yang membuatku merenungi kembali arti kata bahagia. Bahagia bisa jadi merupakan suatu hal yang dicari banyak orang. Tapi tak banyak yang tahu kemana, dimana, dan pada apa terletak bahagia, walau itu untuk diri sendiri sekalipun, apalagi bahagianya orang lain di sekitar kita.

Taken from psychconnection.worspress.com

Taken from psychconnection.worspress.com

Aku pernah berpikir bahwa bahagianya anak-anak adalah ketika aku bisa memenuhi semua keinginan mereka. Memberikan fasilitas terbaik untuk mereka sehingga mereka nyaman. Ternyata bahagia bagi sulung adalah manakala aku memberikan kepercayaan dan kebebasan terbatas padanya untuk melakukan beberapa aktifitas bersama teman-temannya. Bahagia bagi anakku yang nomor dua adalah manakala aku memberinya waktu untuk menikmati dunianya yang seluas kamar dengan serakan buku dimana-mana. Bahagia bagi anakku yang nomor tiga adalah manakala aku memeluknya dan memberikan perhatian penuh seolah-olah dia adalah anakku satu-satunya. Dan bahagia bagi bungsu adalah manakala aku membiarkannya berjumpalitan di atas kasur, berlarian kesana kemari di dalam rumah, dan bercanda lepas dengan kakak-kakaknya.

Aku pernah berpikir bahwa bahagianya orang tua adalah ketika mereka bisa duduk-duduk santai berpangku tangan dengan semua kebutuhan sudah terpenuhi olehku. Nyatanya bahagia mereka adalah ketika mereka bisa menyajikan masakan buat cucu-cucunya. Bahagia mereka adalah manakala aku berbagi suka dan duka bersama mereka. Bahagia mereka adalah manakala mereka merasa dibutuhkan oleh aku dan anak-anak.

Makna bahagia, tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandangku sendiri. Terlebih jika aku ingin membuat orang lain bahagia, maka aku harus bisa melihat makna bahagia dari sudut pandang dia, bukan sudut pandangku semata.

***

Dian Widyaningtyas

Just thinking about happiness….

Coffe break, Monday, Febuary 23th, 2015